Tuesday, February 28, 2017

Ibu Rumah Tangga vs Ibu Wanita Karir

Berhubung sekarang sudah memasuki usia 22 tahun, sudah banyak disekitarku yang menikah. Termasuk aku. Diantara yang sudah menikah, sebagian menjadi ibu rumah tangga dan sebagian lagi meneruskan karirnya. Keduanya sebenarnya sama-sama baik, namun sayangnya, banyak yang saling menjelekkan satu sama lain hanya untuk membuktikan bahwa ibu rumah tangga adalah yang terbaik, atau ibu wanita karir adalah yang terbaik. Hal yang sangat disayangkan, wanita yang memiliki peran yang sama sebagai seorang ibu dan bisa lebih baik jika bersatu, malah saling menjelekkan dan menyindir untuk mendapatkan predikat ibu terbaik. Padahal semua ibu luar biasa.

Ibu rumah tangga bukanlah pengangguran. Menjadi ibu rumah tangga, berarti mendedikasikan hidup untuk bekerja dirumah. Bukan karena tidak bisa mencari kerja, sama sekali bukan. Karena banyak ibu rumah tangga yang menyimpan ijazah pendidikan tingginya (walaupun dari universitas ternama). Ia mengorbankan ijazah yang didapatnya dengan susah payah dan dengan biaya yang tidak sedikit untuk mengabdi dirumah. Bukan untuk santai-santai, atau untuk sekedar menghabiskan uang suami. Tapi untuk mengurus keperluan dirumah yang sebenarnya juga membutuhkan pemecahan masalah. Karena itulah ia tahu bahwa kuliahnya tidak sia-sia, karena pendidikan yang ditempuhnya dulu memang melatihnya untuk membuatnya mandiri dan melatih pikirannya untuk menyelesaikan persoalan yang kelak dapat digunakan dalam menghadapi hidup ini.

Ia menghabiskan waktunya dirumah untuk membereskan rumah agar tetap rapi dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga. Ia bersihkan rumah agar seluruh anggota keluarga terbebas dari penyakit akibat rumah yang kotor. Ia menyediakan keperluan semua anggota keluarga. Ia menyiapkan makanan. Ia mendidik anak-anaknya dan menanamkan nilai-nilai yang baik. Ia membantu anaknya belajar. Terkadang ia harus mengantar atau menjemput anaknya ke sekolah atau ke tempat les. Setelah malam tiba pun, ketika anak-anaknya sudah terlelap, ia belum bisa beristirahat karena masih mempunyai kewajiban terhadap suaminya. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di rumah untuk rutinitas yang sama. Untuk bertemu teman-teman pun banyak hal yang menjadi pertimbangan. Hal ini beresiko membuatnya sangat jenuh. Hanya bertemu dengan anak-anak dan suaminya. Itupun anak-anaknya belum bisa diajak berbicara untuk sekedar curhat. Sedangkan suaminya selalu pulang malam. Betapa beratnya menjadi ibu rumah tangga.

"Ah, hanya bersih-bersih, rapi-rapi, dan masak, itu kan tugas pembantu. Suami kan cari istri, bukan cari pembantu, yang penting istri pintar dan bisa membantu suami mencari nafkah". Itulah kata-kata menyakitkan yang kadang diucapkan oleh sesama ibu di luar sana. Tanpa berpikir, siapa tahu memang keluarga itu belum atau tidak mampu menggaji pembantu? Atau siapa tahu mereka mampu, tetapi ingin mencari ridho sebanyak-banyaknya dan itu dirasa bisa didapatkannya dengan mengabdi dirumah? Siapa tahu suaminya tidak ingin istrinya bersusah payah menghadapi kemacetan diluar sana untuk ke kantor, mendapat beban pekerjaan yang besar, dimarahi atasan, dan pulang lebih malam daripada suami?

Tapi, tidak jarang pula ibu rumah tangga yang memiliki pembantu. Tapi tetap saja tak lepas dari sindiran. Kali ini datangnya dari ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu. "Ibu sih enak, kalau saya tidak pakai pembantu, jadi apa-apa saya kerjakan sendiri". Kadang ada nada menyakitkan, seolah-olah merasa paling hebat karena mengurus semuanya tanpa bantuan pembantu dan menganggap rendah ibu yang memakai jasa pembantu. Padahal, siapa tahu ia memang ingin lebih fokus mengurusi pendidikan anak-anaknya sehingga masalah bersih-bersih dan masak bisa diserahkan ke orang lain. Siapa tahu juga dia memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan, sehingga daripada ia sakit dan merepotkan anggota keluarga, lebih baik menggunakan jasa pembantu agar ia tetap sehat. Siapa tahu juga ada pekerjaan sampingan yang dikerjakannya untuk membantu suami (walaupun tetap dirumah). Dan siapa tahu suaminya tidak bisa membantu pekerjaan rumah (dinas di luar kota dan jarang pulang misalnya), sedangkan ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu masih ada suami yang bisa membantu sedikit.

Bukan, bukan berarti aku hanya membela ibu rumah tangga. Karena sering pula ibu rumah tangga berkata kepada ibu wanita karir. "Enaknya yang gak harus capek dirumah ngurus ini itu. Enaknya gak jenuh dirumah. Enaknya bisa kabur dari urusan rumah. Di rumah kan lebih berat daripada di kantor". Atau "Gitu lah kalau ibunya kerja, anak-anak jadi tidak keurus, prestasi menurun. Nantinya tidak sesukses anak anak yang ibunya ada dirumah". Hal itu sangat menyakiti hati ibu wanita karir. Seolah-olah ia tidak memikirkan kepentingan keluarganya. Seolah-olah ia lebih mementingkan mencari uang daripada mengurusi keluarganya. Padahal menjadi ibu wanita karir adalah pekerjaan yang sangat berat.

Pagi hari, jauh lebih pagi dari yang lain, ia sudah harus menyiapkan makanan untuk keluarganya dan menyiapkan keperluan-keperluan lainnya. Tidak boleh kesiangan sedikit, karena ia pun harus segera berangkat kerja. Ia juga harus memastikan anak-anaknya sudah diantar ke sekolah dengan selamat dan tepat waktu. Kemudian ia harus berjuang untuk bisa sampai ke kantor. Naik mobil menerpa kemacetan kota; atau naik angkutan umum yang kadang membuatnya berdiri berdesakkan sepanjang perjalanan; atau naik motor yang membuat pinggangnya pegal, badannya terkena angin, bahkan kepanasan dan kehujanan. Sesampainya di kantor, ia harus berhadapan dengan beban pekerjaan. Beban itu bertambah karena sambil memikirkan anak-anaknya: sudahkah anakku pulang dengan selamat? Sudahkah anakku sampai di tempat les? Ketika ia pulang ke rumah, boro-boro bisa beristirahat. Ia harus menebus waktu yang tidak ia habiskan dirumah. Ia harus menemani anak-anak, ia harus mengurus rumah yang seharian tadi ia tinggalkan. Ia harus melakukan kewajiban terhadap suami dan tetap mendengarkan keluh kesah suami dan menanggapinya dengan baik (walaupun ia sendiri juga mengalami hari yang buruk di kantor).

Semua itu ia lakukan, bukan semata-mata ingin mencari uang dan tidak mementingkan keluarga. Bukan pula ingin kabur dari kewajiban-kewajiban dirumah. Semua itu ia lakukan karena ingin membantu suami, ingin tidak menyulitkan suami dalam hal finansial dan suami pun mengijinkan, ingin anak-anak bisa mendapatkan fasilitas terbaik. Dan apabila untuk memenuhi itu ia harus bekerja, maka itulah yang dilakukannya walaupun ingin rasanya hati lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga dengan pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat untuk anak-anaknya. Aku juga tahu ibu temanku yang seorang ibu rumah tangga tanpa pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat. Aku juga tahu ibu temanku yang bekerja sebagai wanita karir, dan ia adalah ibu yang hebat.

Betapa besarnya peranan seorang ibu. Semua ibu di dunia ini adalah ibu-ibu yang hebat. Terlepas ia adalah ibu rumah tangga, ataupun ibu wanita karir, ia pasti akan tetap menjadi kebanggaan keluarganya tanpa harus ia merendahkan ibu-ibu yang lainnya. Semua ibu punya perjuangannya masing-masing yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Jadi daripada saling menyindir dan merendahkan, lebih baik bersatu dan saling menutupi kekurangan. Karena semua ibu itu hebat ❤

No comments:

Post a Comment