Thursday, March 9, 2017

Kehidupan Setelah Sarjana

Hai! Postingan kali ini sepertinya nggak berfaedah karena hanya bermaksud berbagi cerita aja. Sekalian menjadi online diary yang beberapa tahun lagi bisa kubaca dan kukenang :)

Jadi, apa yang terjadi dalam hidup seorang Arli setelah mendapat gelar sarjana dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia itu? Jawabnya, hanya tetap menjadi Arli (yang insyaAllah pengetahuan, pengalaman, dan kepribadiannya sudah terupgrade dari Arli empat tahun yang lalu).

Juli 2015
Dimulai dari selesai sidang sarjana, aku mulai bersemangat menyambut perjalanan selanjutnya. Semangat membuat CV, dan semangat apply lowongan pekerjaan. Gimana nggak semangat, soalnya apa-apanya dikerjakan bareng Iqbal (yang waktu itu statusnya masih pacar). Rasanya ingin cepat-cepat dapat kerja --> punya penghasilan cukup --> menikah. Disaat teman-teman lain sedang bersemangat melengkapi syarat kelulusan (poster, jilid skripsi, jurnal), kami jadi dua orang yang belakangan melengkapinya karena terlalu excited apply kerja. Karena dengar-dengar dari pengalaman orang-orang, dipanggil tes dan interview itu bisa memakan waktu 2 minggu atau bahkan lebih setelah apply.


Beberapa hari kemudian, masuklah panggilan tes ke email. Ada dua panggilan tes saat itu. Yang satu, lokasinya sulit dijangkau (apalagi aku belum pernah naik bus sendiri pada waktu itu). Akhirnya gak jadi tes. Yang satu lagi, sama juga jauhnya, tapi karena tidak terlalu jauh dari rumah Iqbal, jadi cukup naik bus sekali, lalu bisa diantar. Pertama kali ijin sama orangtua, mereka ngelihatnya agak aneh gitu. Apalagi papa, kelihatan nggak tega anak perempuannya naik bus ke tempat yang lumayan jauh. Mereka cuma bilang "semoga hasilnya yang terbaik". Dari rumah diantar papa sampai tempat naik bus.  Dari situlah baru pertama kalinya merasakan yang namanya naik bus sendiri. Sampai keluar tol, turun dari bus langsung dijemput Iqbal. Setelah ikut tes, sepertinya memang bukan jodohnya kerja di tempat itu. Dan setelah itu, keluarlah statement mama dan papa kalau sebenarnya mereka saat itu kurang srek karena jauh. "Apa harus kayak gitu gitu kerjanya?" "Nggak ada yang deket-deket?" "Kenapa nggak S2 lagi aja, terus jadi dosen?". Pokoknya kayak nggak rela banget. Nggak cuma itu, Iqbal pun kurang srek. Katanya, "aku udah merasakan bolak balik tes dan interview. Semakin aku merasakan, semakin aku merasa itu nggak cocok untuk kamu, by. Belum lagi kalau kita nikah dan punya anak, aku nggak mau kamu kerja kayak gitu. Aku nggak sampai hati bayanginnya. Aku yakin kamu bisa sukses dengan cara lain". Hati kecilpun juga bilang, sepertinya bukan pekerjaan seperti itu yang cocok untukku. Akhirnya setelah itu, nggak pernah lagi apply kerja di perusahaan. Jadi justru disaat teman-teman lagi aktifnya apply kerja, diriku malah berhenti apply.

Agustus 2015
Setelah itu, tiba-tiba terbersit ide untuk bisnis online. Simpel sih, gara-gara waktu itu lagi seneng banget sama lipstik dan pingin banget punya semua warnanya tapi mahal dan sayang dong kalo beli semua haha. Akhirnya bilang ke Iqbal pingin deh jualan lipstik, nanti kalo nggak laku, jadi buat aku deh haha. Jadi bener-bener buat iseng aja. Gara-gara ngomong gitu, jadi Iqbal yang lebih excited buat mewujudkan jualan online itu. Karena masih takut-takut, akhirnya dimulai dengan modal yang sangat sedikit, kita cuma stock 7 buah lipstik. Warnanya pun yang kusuka, jadi kalau gak laku, bisa untuk aku haha. Tapi Allah berkata lain ya, dan ternyata laku. Akhirnya jualan online itu jadi kesibukan kita berdua setiap hari setelah wisuda sambil Iqbal ikutan tes dan interview kerja. Pengalaman yang menyenangkan untuk kita berdua, setidaknya bisa jadi uang jajan kita selama jadi pengangguran dan bisa jadi alasan untuk ketemu hahaha.


*Lama kelamaan, usaha ini berkembang dan bisa jadi tabungan kita untuk belanja hantaran nikah dan untuk jalan-jalan keluar kota setelah nikah. Tapi sekarang lagi berhenti (nanti diceritain kenapa).

September 2015
Karena waktu itu mengisi luang sambil mengajar privat, aku mulai tahu bahwa pekerjaan yang kusukai adalah mengajar dan bertemu anak-anak. Akhirnya terpikirlah untuk membuka semacam bimbingan belajar privat kecil kecilan di rumah. Teras rumahku, disulap menjadi sebuah ruang kelas yang nyaman. Itulah ruang kerjaku sekarang. Saat ruang kelas itu sudah jadi, ada ketakukan tersendiri apakah akan ada muridnya? Apakah ruang kelas ini nantinya akan bermanfaat?


Oktober 2015
Kini Iqbal sudah dapat kerja, di sebuah perusahaan di KIIC, Karawang. Kita tidak lagi sering bertemu. Ia tidak lagi bisa membantuku untuk membungkus kiriman dagangan dan menemaniku ke JNE. Ia juga tidak lagi bisa membantu mempersiapkan "kelas kecil"ku. Rasanya benar-benar resah disini.


Tapi keresahanku itu akhirnya dijawab oleh Allah. Aku dapat murid yang ingin belajar di "kelas kecil" ku. Aku senang walaupun baru satu orang. Setelah itu, promosi "kelas kecil"ku menyebar dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, setiap Senin sampai Jumatku, "kelas kecil" itu selalu jadi tempat berbagi ilmu. Selalu diisi oleh anak-anak yang datang jam 4 sore dan jam 7 malam. Rasanya benar-benar bersyukur bisa bekerja di rumah. Rasanya benar-benar bersyukur Allah menuntunku mengambil jalan ini. Besar harapanku nantinya bimbingan belajar privat dan kelompok ini bisa berkembang dan punya tempat sendiri.

Selain itu, di bulan ini, Iqbal menghadap orangtuaku untuk meminta ijin menikah. Tak usah ditanya betapa bahagia dan bersyukurnya aku padahal kami belum 1 tahun pacaran.

Desember 2015
Selain mengajar, aku beberapa kali diminta jadi guru pengganti dan guru tambahan di sebuah sekolah. Akhirnya terpikir untuk menjadi guru sekolah. Awalnya orangtua bertanya, "kenapa nggak jadi dosen aja?". Tapi setelah dijelaskan kalau aku lebih suka bertemu anak-anak, akhirnya mereka mengerti. 


Akhirnya kucoba untuk apply kerja di sekolah. Saat itu, dikatakan bahwa aku tidak bisa jadi guru karena terbentur peraturan pemerintah yang ada, yang mana guru harus S.Pd. Sedangkan yang namanya akta IV (program yang bisa diambil apabila sarjana dari non kependidikan ingin menjadi guru) sudah tidak ada lagi. Kemudian disarankan untuk buka lembaga pendidikan non formal, atau kuliah lagi untuk gelar M.Pd. Saat itu sempat terpikir, "Ah masa sih harus S.Pd? Banyak kok teman-temanku yang jadi guru di sekolah padahal bukan bergelar S.Pd. Mungkin kalau aku apply di sekolah yang lain, ada yang bisa menerima".

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin aku memang perlu ambil S2 kependidikan. Bukan sekedar untuk gelar, tapi aku ingin tahu bagaimana caranya menjadi guru yang benar, bukan hanya sekedar paham materi ajar seperti yang saat itu kulakukan. Jika tidak untuk menjadi guru sekolah, mungkin dengan ilmu yang kudapat dari S2, aku bisa menerapkannya dalam mengajar murid-muridku di "kelas kecil", atau untuk mendidik anak-anakku kelak. Akhirnya aku semakin mantap untuk S2 di UNJ prodi Teknologi Pendidikan.

Januari-Maret 2016
Setelah itu, aku langsung semangat untuk kuliah lagi. Mencari-cari info jurusan, universitas, dan beasiswa. Persyaratan untuk beasiswa dan masuk kuliah mulai kupersiapkan. Dan akupun sudah diterima di Universitas yang kutuju.Tetapi mungkin memang bukan rejekiku untuk dapat beasiswa, karena jika aku dapat beasiswa yang kuincar, maka aku baru bisa kuliah tahun depan (ya, karena ini semua rencana mendadak, jadi aku belum mempersiapkan beasiswa dari tahun sebelumnya). Aku siap menunggu tahun depan, tapi orangtuaku tidak setuju. Kelamaan, kata mereka. Alhamdulillah, mereka sangat semangat anaknya segera S2 dan Alhamdulillah rejeki keluarga kami dicukupkan sehingga aku tetap bisa kuliah mulai September nanti :)


Agustus 2016
Arli & Iqbal kini resmi menjadi pasangan suami istri. Kami memasuki babak baru dalam hidup kami, yang akan aku ceritakan di postingan selanjutnya :)

1 comment: