Wednesday, August 2, 2017

Pertamakali Hamil

Hari itu 10 Januari 2017. Aku ingat betul tanggalnya karena saat itu selalu menghitung hari. Sudah beberapa bulan terakhir semenjak menikah, selalu menghitung siklus menstruasi. Bukan sekali dua kali mencoba memakai test pack tapi hasilnya masih negatif. Bahkan pernah telat seminggu, pusing, muntah-muntah dan akhirnya ke dokter. Disana cek darah dan cek urin. Berharap hamil, ternyata DBD dan harus dirawat. Keesokan harinya menstruasi. Kecewa deh.

Terakhir pakai test pack itu 10 hari yang lalu karena percaya dengan kalimat iklan "mampu mendeteksi kehamilan 7 hari setelah berhubungan". Tapi hari itu hasilnya negatif. Walau begitu, tetap saja berharap akan dapat paket kebahagiaan di bulan itu.

Hari itu, 10 Januari 2017, baru dua hari terlambat menstruasi. Harapan semakin besar, karena dua bulan terakhir siklus menstruasi sangat teratur, sedangkan kali ini sudah terlambat walaupun hanya dua hari. Akhirnya, karena masih ada satu sisa test pack, pagi itu aku coba gunakan. Ternyata muncul dua garis, yang satu terlihat jelas (karena memang acuannya), yang satu lagi terlihat sangat samar. Seketika itu juga langsung gemetar. Antara ingin bahagia, tapi takut kecewa. Mungkin saja aku terlalu berharap sehingga hasilnya terlihat seperti itu. Untuk memastikan, aku langsung memanggil adikku untuk ikut melihat. Ternyata dia juga melihat memang ada dua garis. Kita berdua senang sekali, apalagi aku. Langsung saja aku foto dan kirimkan ke suami sambil bertanya "ini garis dua nggak, sih?". Suami langsung yakin bahwa aku positif hamil. Dia memang sudah yakin sejak berhari-hari yang lalu, bahkan walaupun test pack yang sebelumnya menunjukkan hasil negatif (mungkin saat itu hormon HCG belum cukup banyak untuk terdeteksi).

Garisnya masih samar banget

Untuk semakin memastikan, aku membeli tiga test pack lagi dengan merk yang berbeda-beda namun hasilnya selalu positif dan semakin hari semakin jelas garisnya. Akhirnya akhir minggu itu kami pergi ke dokter kandungan. Disana langsung dicek dengan USG Transvaginal. Ternyata memang sudah terbentuk kantung janin walaupun embrio belum terlihat. Dokterpun mengucapkan selamat dan memberi resep vitamin (Folamil Genio) serta beberapa anjuran. Saat itu usia kehamilanku (UK) memasuki 5 minggu.


Tiga minggu kemudian (UK 8 minggu), kami kembali kontrol sesuai dengan instruksi dokter. Lagi-lagi dilakukan USG Transvaginal. Saat itu, embrio sudah terlihat walaupun masih sangat kecil.


UK 12 minggu, saat dilihat dengan USG Transvaginal, janin terlihat bergerak-gerak lincah. Tetapi ukurannya masih lebih kecil dari yang diperkirakan. Dokter menyarankan untuk makan lebih banyak. Memang di minggu minggu itu asupan makananku berkurang karena mual & muntah. Berat badan yang tadinya sudah mulai naik pada awal kehamilanpun turun lagi.


Pada kehamilan trimester pertama, rasa mual mulai datang. Tiba-tiba saat mengambil porsi nasi seperti biasanya jadi tidak habis karena mual. Bahkan makan makanan yang disukai dan aku yakin bakal habispun jadi tidak habis. Minum susu dan air putihpun langsung mual. Bukan hanya dipagi hari (morning sickness) namun sepanjang hari. Rasanya seperti sudah bersahabat dengan toilet karena sering bolak-balik muntah.

Sejak kehamilan ini, ada beberapa kebiasaan juga yang berubah. Salah satunya, jadi naik taksi untuk pulang pergi kampus. Bukan bermaksud manja ataupun sok royal, tapi karena ini kehamilan pertama dan kondisi setiap orang berbeda-beda, aku dan suami tidak ingin mengambil resiko karena aku mudah kelelahan. Mungkin ada yang bilang "dulu pas saya hamil gak kenapa kenapa tuh tetep gini.. tetep gitu.. blablabla". Ya, balik lagi, kondisi tiap orang berbeda :)

Sudah naik mobilpun, bukan berarti semua berjalan mulus-mulus aja. Setiap pergi ke kampus, di tas harus sedia permen dan kresek. Pernah suatu hari muntah di taksi, untungnya memang sudah sedia kresek. Sering juga sesampainya di kampus langsung tepar di sofa lobby karena mual-mual. Selain tantangan pergi ke kampus, tantangan selanjutnya adalah kuliah. Perkuliahan saat itu berada di lantai 4, tidak ada lift. Padahal seseorang yang hamil tidak dianjurkan naik turun tangga. Memang sih, saat naik turun tangga tidak terasa lelah saat itu. Apalagi perut juga belum membesar. Tapi kalau aku, tubuhku akan memberi tahu saat aku kelelahan dengan pertanda yaitu pusing. Untuk mengakalinya, harus datang lebih pagi supaya bisa naik tangga pelan-pelan dan istirahat di setiap lantai. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi semenjak toilet di atas rusak (sedangkan pada masa itu aku semakin sering buang air kecil), akhirnya setiap ke toilet harus turun ke lantai 1, lalu naik lagi ke lantai 4. Akibatnya, jadi sering pusing-pusing dan sering tidak masuk. Kalau sudah pusing, cuma bisa bedrest di rumah sambil oles oles minyak kayu putih & minyak aromatherapy. Padahal sebelum hamil, aku tipe orang yang setiap pusing sedikit langsung minum obat. Tapi semenjak hamil ini, berusaha lepas dari pengaruh obat.




Kebiasaan lain yang juga berubah, adalah berkurangnya jadwal mengajar. Alhamdulillah ada Saras & Ica yang bantu menggantikan. Aku sadar akan kondisi tubuhku yang memang harus mengurangi aktivitas.

Selain itu, pada trimester pertama ini jadi mudah sekali masuk angin. Tidak bisa bertahan di tempat yang ber-AC. Sampai-sampai AC di kamar disetel dengan suhu 27℃. Suami sampai kepanasan. Kemudian setiap di kelas, selalu mencari tempat yang paling tidak terkena AC. Itupun harus memakai jaket tebal dan pakaian berlapis.

Walaupun pada trimester ini sering mual dan pusing, tapi rasanya tetap lega dan bahagia. Karena rasa mual itu merupakan pertanda bahwa janin dalam kandunganku terus berkembang. Periode ini memang periode yang rawan, sehingga aku sering khawatir. Semakin aku mual, semakin aku lega, badan ini memberi pertanda bahwa kandunganku masih baik-baik saja. Lagipula, kalau dibandingkan dengan yang lain, banyak cerita kehamilan yang lebih menantang. Ceritaku tidak ada apa-apanya mungkin. Memang setiap wanita pasti punya cerita kehamilan yang berbeda-beda. Aku bersyukur dengan semua yang aku alami.

Alhamdulillah suami juga sangat mendampingi selama trimester pertama ini. Perannya sangat besar terhadap kehamilanku. Ia selalu mengusahakan supaya aku makan. Selalu bertanya ingin makan apa untuk mengurangi mual supaya aku bisa makan. Selalu menawari makanan kesukaanku. Dibawakannya makanan itu sampai ke kamar. Ia juga mengusahakan aku minum susu. Dibuatkannya susu dan dibawakan ke kamar. Ketika aku muntah, ditemaninya di kamar mandi sambil memijat-mijat. "Nggak apa apa muntah, yang penting tetep makan yah.. sebentar lagi makan lagi, kamu mau apa?". Selain itu, suami juga berinisiatif membantu meringankan beberapa pekerjaan rumah tangga yang terkadang aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa :') Disamping adanya janin dalam kandunganku, perhatian suami semakin membuatku bahagia di kehamilan trimester pertama ini. Membuatku merasa bahwa we're all in this together dan gak pernah merasa sendiri. Thanks hubby ♡

Terakhir, untuk kamu yang ada di dalam rahimku, semoga kita berdua sama-sama sehat & kuat ya nak ♡

(To be continued)

No comments:

Post a Comment