Tuesday, January 23, 2018

Keputusan Menikah (Sudut Pandang Seorang Pria)

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.


Gimana rasanya menikah muda? Hem, sebenernya aku bukan yang termasuk menikah muda sih. Masih wajar aja karena udah dapet gelar sarjana dan umur ketika itu udah 22. Banyak lah perempuan yang nikahnya lebih muda dari aku. Yang mau aku bahas disini bukan tentang aku, tapi tentang suamiku. Ketika menikah, usia suamiku sama sepertiku, 22 tahun. Mungkin ada juga laki-laki yang nikahnya lebih muda, tapi tetep minoritas lah.

Memutuskan untuk menikah bukan hal yang terlalu berat untukku pribadi. Apalagi aku sudah yakin dengan lelaki pilihanku ini. Orangtuapun setuju. Dia juga mendukungku untuk melanjutkan pendidikanku dan tidak melarangku untuk mengembangkan diri (tentunya dengan cara-cara yang pantas dilakukan oleh seorang wanita). Masalah finansial, aku yakin suamiku seorang yang bertanggungjawab. Akupun merasa bisa membantunya sedikit-sedikit. Ya, memang bukan hal yang berat untuk memutuskan menikah dengannya. Berbeda dengan dia.

Butuh banyak pertimbangan, mental yang kuat, dan usaha yang lebih untuk akhirnya memutuskan untuk mengajakku menikah. Di tulisan ini, yang ingin aku bahas adalah hasil Q&A bersama suamiku tentang keputusannya mengakhiri masa lajang. Questions nya dari Arli, Answers nya dari Iqbal.

Q: Momen apa sih yang bikin kamu kepikiran untuk menikah?
A: Gak ada momen tertentu sih.
Q: Terus?
A: Ya karena aku gak bisa bayangin kalo gak sama kamu, selain itu dari hati juga tau kalo pacaran itu salah dan banyak mudharatnya. Pas aku dapat kerja, tambah ingin menikah.
(Karena kondisi setelah kerja itu butuh banget teman berbagi keluh kesah yang bener bener real bukan adanya via chat atau telpon doang. Ketemu juga cuma bisa seminggu sekali, itupun jalan-jalan gak jelas hedon ngabisin uang. Padahal weekend pinginnya istirahat, tapi juga pingin ketemu). Terus juga, kalo aku gak ada niatan untuk serius, nanti kamunya bisa aja pergi gitu aja. Atau walaupun kamu gak ada niatan untuk pergi pada awalnya, kalo tiba-tiba ada laki-laki baik yang cocok sama kamu dan mau seriusin kamu, kamu bisa aja nerima lamarannya walaupun punya pacar. Namanya juga pacaran, gak ada ikatan resmi.


Q: Tapi kenapa akhirnya memutuskannya saat itu? Padahal kan bisa aja nanti. Kalau kata orang, tunggu mapan dulu.
A: Karena saat itu aku mikirnya, ada perempuan yang baik, mau nerima aku dari bawah, mau sayang sama keluarga aku, tulus sayang sama aku. Perempuan ini, belum tentu terus ada sama aku kalo statusnya pacar. Bisa pergi kapan aja. Belum tentu aku bisa ketemu sama yang lebih baik di kemudian hari. Lagipula, kalau aku tunda beberapa tahun dengan alasan biar mapan, apa ada yang berani jamin kalau dengan menunda beberapa tahun itu aku udah jadi mapan punya rumah, punya mobil, dll? Gak ada kan? Jangan-jangan nanti yang ada, aku malah buang-buang waktu. Nanti posisi masih disitu-situ aja, gaji gak naik signifikan, pengeluaran tetep aja banyak.


Q: Emang gak pingin bahagiain orangtua dulu? Apalagi sebagai anak laki-laki kan..
A: Pingin lah. Lho emangnya kalau menikah jadi berhenti bahagiakan orangtua? Enggak lah.
Q: Yaaa siapa tau kan keuangan jadi harus terbagi antara rumah tangga dan orangtua, jadi takutnya kurang maksimal bahagiain orangtua.
A: Ya enggak lah, justru minta sama Allah, berdoa minta ditambah rejekinya karena butuh bukan hanya untuk menafkahi keluarga dan orangtua. Pasti Allah akan kasih lebih nantinya disaat kita emang butuh dan kitanya berusaha. Lagipula kalau aku belum menikah sekarang, mungkin tiap weekend aku malah gak jelas main game aja di rumah, pacaran ke luar, atau tidur seharian. Yang ada bukannya bahagiain orangtua malah bikin empet.


Q: Hal apa sih yang paling bikin galau waktu mau memutuskan menikah?
A: Finansial sih. Karena gaji aja bisa habis ketika masih single. Apalagi kalau berumah tangga yang kebutuhannya lebih banyak. Banyak yang mesti ditanggung pula. Itu yang bikin galau.
Q: Terus gimana dong?
A: Ya, disitulah setan beraksi bikin ragu-ragu. Ya itu kan hasil hitungan matematikanya manusia. Memang gak akan ketemu hitungannya. Gimana caranya bisa cukup. Tapi kan kalau kita punya Allah, hitungannya Allah gak begitu. Allah di Al-Qur'an sudah menjamin kok orang menikah itu pasti dicukupkan rezekinya. Ternyata ya Alhamdulillah sekarang cukup-cukup aja kan. Allah mengatur sedemikian rupa, aku dapat pekerjaan baru yang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Setiap kita butuh sesuatu, Alhamdulillah ada. Memang sekarang kita belum punya banyak ini itu. Tapi mungkin karena kita memang belum butuh?


Q: Selain itu apalagi sih yang bikin galau?
A: Mindset dan omongan orang sekitar. Banyak lah yang menyayangkan karena katanya masih muda, masih manja, masih kayak anak kecil kok mau nikah emangnya bisa, baru juga kerja, dll. Ditakut-takuti kalau berumah tangga itu sulit, tingkat perceraian orang yang nikah muda katanya tinggi. Tapi kalau didengerin terus, ya ngapain. Kalau emang ini jodoh aku datengnya pas aku umur 22, terus aku tunda nikahnya lalu perempuan ini pergi, apa orang-orang yang ngomong ini mau tanggung jawab? Kalau kita ngikutin omongan mereka lalu ternyata malah jadi salah jalan apa mereka mau tanggung jawab? Kalo kita dosa terus karena pacaran apa mereka mau tanggung dosa kita?


Q: Tapi gak takut sama tingkat perceraian yang tinggi? Kan katanya kalau nikah muda takutnya belum dewasa.
A: Ya itu tergantung orangnya. Tergantung niat menikahnya apa. Kalau sekedar ingin mengikuti tren, ingin dilihat 'laku', dan niatan yg salah lainnya ya mungkin aja bisa terjadi seperti itu. Tapi kalau niatnya baik ya insyaAllah gak terjadi seperti itu. Ketika berniat baik untuk menikah, kita kan juga pasti berhati-hati banget milih calonnya supaya gak terjadi seperti itu. Kalau aku pribadi, justru dengan menikah jadi banyak belajar untuk menjadi dewasa. Belajar menyikapi masalah-masalah yang ada. Belum tentu loh orang yang belum nikah itu nanti semakin bertambah kedewasaannya walaupun usianya semakin bertambah. Banyak yang menunda, umur makin nambah, tapi kedewasaan enggak, lalu nikah karena kepepet umur, pilih calonnya pun seadanya. Ya itulah makanya ada aja rumah tangga yang gak harmonis.


Q: Nanti kalau nikah jadi gak sebebas pas single. Main sama temen-temen kurang leluasa. Gimana tuh?
A: Sekarangpun udah berasa kok, temen-temen yang dulu suka main bareng udah pada punya kesibukan masing-masing. Apalagi nantinya semua juga akan berkeluarga. Cuma masalah waktu aja. Aku sih lebih pingin ada teman hidup ya, yang tiap hari bisa dicurhatin sambil leyeh-leyeh di kasur, bisa jadi pendengar yang baik, dan bener-bener bisa bantu. Kalau kita ajak pergi juga selalu ada waktu untuk kita. Kalau teman-teman kan punya kesibukan sendiri.


Q: Emang gak pingin kuliah lagi dulu? Atau mengejar pencapaian-pencapaian lainnya gitu?
A: Ya pingin. Tapi coba lihat aja yang doktor, yang profesor, kebanyakan mendapatkan gelarnya pas udah berkeluarga kan? Ya memang gak ada korelasinya nikah sama mengejar pendidikan. Gak menghambat. Banyak orang-orang sukses juga nikah dulu sebelum mereka mencapai ini itu. Lihat aja Habibie, Ridwan Kamil, Jokowi, dll. Banyaaaak. Apalagi yang mau jadi pemimpin ya, kalau mimpin keluarga aja yang anggotanya cuma sediki belum sanggup apalagi mimpin yang lain-lain.


Q: Terus gimana sih cara bilang ke orangtua kalau mau nikah?
A: Bilang baik-baik dalam situasi yang baik. Bilang pingin nikah, jabarkan alasannya yang JELAS. Bilang "pingin nikah", bukan pertanyaan "boleh nikah atau engga". Harus jelas, tegas, dan punya tekad yang kuat, tapi bahasa harus tetap dijaga.


Q: Kalau ternyata dari pihak perempuan dan keluarganya gak bisa terima keadaan finansial si laki-laki gimana?
A: Ya kita udah berusaha kasih semampu kita, kalau di tolak ya sudah. Lebih baik cari yang lain aja kalau aku sih, daripada yang tidak bisa menerima dari bawah. Karena seterusnya dia akan melihat aku dari materi. Ketika mungkin jalannya rumah tangga tidak semulus yang diharapkan dari segi materi, nanti jangan-jangan dia perlakuannya berbeda lagi sama aku, atau lebih parahnya malah ninggalin. Mending gak usah deh, cari yang lain aja.


Q: Ada closing statement?
A: Menikah itu kalau bagi laki-laki emang tentang mental sih. Mental untuk memutuskan menikah itu harus kuat. Setelah dijalanin mah biasa aja. Memang kadang rumah tangga gak mudah, tapi gak sesusah yang orang-orang bilang. Malah banyak kebahagiaan yang didapat. Kesulitan-kesulitan dalam hidup itu akan selalu ada, bagi yang berumah tangga maupun yang single. Bedanya, yang single ada masalah ya pusing-pusing sendiri. Kalau sudah menikah, bisa saling cerita, saling support.


Yak, sekian Q&A dengan Bapak Iqbal Farhan Elfajri sebagai kepala keluarga (yang mengepalai Ibu Siti Ambarli dan seorang anak laki-laki bernama Musa Ali Arzan) dalam usianya yang menuju 24 tahun.

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

No comments:

Post a Comment