Saturday, October 21, 2017

Perlengkapan Bayi

Daftar Perlengkapan Bayi

Sebelum berbelanja perlengkapan bayi, ada baiknya kita cari tahu tentang apa yang akan kita beli dan membuat daftar. Daftar perlengkapan bayi penting dibawa saat belanja supaya kita tidak lupa membeli sesuatu. Selain itu, membuat kita juga tidak termakan omongan dan lapar mata saat sampai di toko karena barang-barang di toko itu banyak sekali jenisnya dan lucu-lucu. Ditambah lagi, sebagai ibu baru pasti sangat bersemangat belanja untuk si kecil. Makanya, penting punya daftar belanja supaya tetap hemat dan tidak membeli yang tidak perlu.

Di bawah ini adalah daftar perlengkapan bayiku. Awalnya, daftar belanjaku bukan seperti ini. Namun setelah bayiku lahir, ternyata ada barang yang seharusnya tidak dibeli namun dibeli, dan sebaliknya. Daftar ini telah mengalami revisi setelah bayiku akhirnya lahir. Daftar ini semata-mata hanya kususun berdasarkan pengalaman dan bukan berarti jadi acuan wajib dalam berbelanja perlengkapan bayi karena akupun masih belajar sebagai ibu baru.

Oh iya, dalam memutuskan jumlah pakaian yang akan dibeli, sangat bergantung dengan keputusan ibu untuk memakai popok tali atau popok sekali pakai (pospak). Daftar di bawah ini aku susun berdasarkan kebutuhan anakku yang sehari harinya memakai pospak, sehingga tidak butuh pakaian yang terlalu banyak. Kalau ibu memutuskan untuk memakai popok tali, maka jumlah pakaian harus ditambah karena sering berganti pakaian setiap pup atau pee.

PAKAIAN

1. Set baju pendek atau jumper segiempat size newborn (8)
2. Set baju panjang atau sleepsuit size newborn (6)
3. Bedong (6)
4. Alas ompol (6)
5. Sarung tangan (6)
6. Topi (3)
7. Selimut topi (1)
8. Washcloth (6)
9. Jumper size 3-6m (4)
10. Sleepsuit size 3-6m (6)
11. Kaus kaki (6)
12. Singlet (12)

PERLENGKAPAN MANDI

1. Bak mandi/baby bather (1)
2. Perlak besar (2)
3. Sabun shampo (1)
4. Minyak telon (1)
5. Diaper cream (1)
6. Tissue basah (1)
7. Tissue kering (1)
8. Tempat kapas (1)
9. Kapas bulat (3)
10. Handuk (2)
11. Washlap (3)
12. Cotton buds (1)
13. Baby oil (1)
14. Gunting kuku bayi (1)
15. Sikat lidah (1)
16. Pembersih kotoran hidung & telinga (1)
17. Kassa (2)
18. Detergen bayi (1)
19. Hanger kecil (12)
20. Gantungan bulat (1)
21. Tempat baju kotor (1)
22. Tempat toiletries (1)
23. Popok sekali pakai (3)

PERLENGKAPAN MENYUSUI

1. Botol susu (2)
2. Rak botol (1)
3. Sikat botol & dot (1)
4. Breast pump (1)
5. Breast pad isi 66 (1)
6. Kantong/botol ASIP (secukupnya)
7. Bra menyusui (6)

PERLENGKAPAN TIDUR

1. Kasur/box bayi (1)
2. Set bantal guling (1)
3. Sprei (2)
4. Kelambu (1)

PERLENGKAPAN BEPERGIAN

1. Stroller (1)
2. Alas stroller (2)
3. Car seat (1)

PELENGKAP

1. Termometer (1)
2. Penyedot ingus bayi (1)
3. Tempat baju bayi (1)

PERLENGKAPAN IBU

1. Pembalut nifas (3)
2. Korset (2)
3. Baju/daster menyusui (6)
4. Skincare untuk perut bekas melahirkan

LAIN-LAIN
(Barang yang sebenarnya perlu tetapi tidak perlu dibeli duluan karena seringkali dapat dari kado)

1. Bottle warmer (1)
2. Sterilizer (1)
3. Bantal menyusui (1)
4. Nursing cover (1)
5. Gendongan/baby carrier (1)
6. Tas perlengkapan bayi (1)
7. Sepatu prewalker (1)
8. Mainan

Wednesday, September 20, 2017

Persalinan Anak Pertamaku (Normal)

Di tulisan sebelumnya, aku masih menunggu datangnya kontraksi cinta. Sambil menunggu, aku sering membaca tulisan di blog para ibu tentang pengalaman persalinan dan menonton vlog bersalin. Sekarang, setelah anakku akhirnya lahir, aku juga akan membagikan pengalaman mengenai hari yang penuh cinta itu.

Rabu, 13 September 2017

Pagi itu, sudah H-1 dari tanggal perkiraan kelahiran tapi masih belum terasa apa apa. Hanya kontraksi palsu (rasanya seperti akan menstruasi) yang timbul tenggelam, itupun tidak mengganggu. Siang itu, aku kontrol ke bidan seperti biasa (memang jadwal kontrolku setiap Rabu).

Disana, bidan mengecek posisi kepala janin yang sebenarnya sudah mapan dan bersiap di depan panggul (walaupun belum terlalu masuk panggul), namun mungkin ukuran bayinya besar sehingga masih kesulitan mencari jalan lahirnya. Akhirnya, aku diberikan obat dua butir. Katanya untuk melunakkan jalan lahirnya. Butir pertama langsung diminum saat itu juga dengan cara dihisap di bawah lidah. Biasanya, jika memang bayinya sudah mau lahir, obat itu akan langsung bekerja dan memicu kontraksi dalam 3-4 jam. Namun, jika memang bayinya belum saatnya lahir, obat itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Siang itu pukul 11.00 WIB aku langsung meminum butir pertama. Kata bidan, jika tidak bereaksi, maka diminum lagi satu butir besok pagi. Jika belum juga ada kemajuan, kembali lagi kontrol hari Jum'at. Bidan juga menyarankan untuk perbanyak melakukan gerakan jongkok, "induksi alami", dan jalan kaki.

Ternyata, pukul 13.00 WIB sudah mulai terasa kontraksi. Tapi masih belum kuat, sehingga aku masih bisa sambil jalan jongkok, "induksi alami" dan melakukan usaha-usaha lainnya. Pukul 15.00 WIB kontraksi semakin kuat, aku sudah tidak lagi melakukan banyak aktivitas. Setelah itu, lebih banyak di kasur sambil menahan sakit. Hari itu, seharusnya suami ada pekerjaan pukul 19.00 WIB, tapi dicancel karena mau menemaniku yang sudah mulai merasakan kontraksi.

Aku sering baca tentang kontraksi melahirkan. Katanya awalnya interval antar kontraksi 15-20 menit, kemudian semakin bertambah dekat seiring waktu dan apabila interval sudah konstan 5 menit sekali, disarankan untuk cek ke tempat bersalin. Rasa kontraksinya juga semakin lama semakin kuat. Tapi yang aku alami berbeda. Kontraksi yang kurasakan sejak awal intervalnya sudah 3 menit. Rasa sakitnya pun masih bisa kutahan. Selain itu, aku belum mengalami flek (keluar lendir darah) sehingga aku masih ragu akan melahirkan atau belum.

Pukul 21.00 WIB malah suami yang khawatir dan mengajak ke bidan, padahal aku masih ragu. Tapi dia meyakinkan "Mungkin nggak semua orang keluar lendir darah dulu. Ayo coba periksa dulu, kalau nanti pulang lagi juga gak apa apa". Akhirnya aku, suamiku, dan mamaku ke bidan sambil sudah membawa perlengkapan melahirkan yang sudah lama di-packing. Disana, bidan langsung melakukan periksa dalam dan ternyata sudah ada lendir darah dan aku sudah pembukaan 2. Kami lalu ditawari untuk menginap atau pulang dulu, tapi kami memilih menginap.

Malam itu, aku dan suamiku sudah tidak bisa tidur. Hanya bisa merem-merem sebentar setiap jeda kontraksi (3 menit). Setiap kontraksi datang, suamiku memijit punggungku. Pukul 03.00 WIB entah kenapa aku mual muntah. Bersamaan dengan itu, ada cairan yang keluar dari vagina. Kami langsung memanggil bidan. Rupanya cairan itu adalah air ketuban yang merembes. Aku langsung pindah ke ruang bersalin, dan setelah dicek ternyata pembukaan sudah bertambah menjadi bukaan 4. Saat itu, suamiku dan mamaku takut karena air ketuban sudah rembes duluan. Bidan menawarkan untuk induksi, tapi aku masih takut karena sering baca bahwa induksi sakitnya tanpa jeda dan lebih sakit. Akhirnya, bidan menawarkan untuk induksi tapi dengan dosis yang rendah terlebih dahulu. Akupun setuju, kemudian infus dipasang.

Tidak lama setelah itu, aku kembali mual muntah sehingga semakin banyak air ketuban yang keluar. Saat itu aku khawatir dan memikirkan keselamatan bayiku, sehingga aku beranikan diri bilang ke bidan "Mba, induksinya dosis penuh aja nggak apa-apa". Dimulai sejak saat itu, kontraksi memang lebih kuat dan jedanya sangat singkat. Ba'da Subuh, rasanya aku sudah setengah sadar dan tidak bisa berpikir jernih saking sakitnya. Hanya bisa mencoba bernapas sambil meremas tangan suami. Bidan bilang, kemungkinan lahir jam 09.00 WIB. Aku rasanya sudah tidak tahan kalau harus menunggu jam 09.00 WIB. Tapi Alhamdulillah, jam 6 pagi rupanya sudah pembukaan 8. Yeay 2 lagi! Kurang beberapa menit dari jam 07.00 WIB akhirnya diperbolehkan mengedan. Ini dia yang aku tunggu-tunggu. Aku sangat optimis karena sudah berlatih saat senam hamil. Akhirnya proses mengedan pun berjalan singkat dan lancar. Anakku, Musa Ali Arzan, lahir ke dunia pada pukul 07.10 WIB. Tangisannya pecah, kemudian ia langsung diletakkan di dadaku. Aku langsung mendekapnya, ia tenang, berhenti menangis. Suamiku langsung memelukku dan kami menangis haru atas kelahiran Musa. Setelah itu, Musa dibawa pergi untuk dipakaikan baju dan ditimbang. Rupanya beratnya 4,2kg! Semua yang ada di ruang bersalin kaget. Alhamdulillah Allah beri aku kekuatan untuk melahirkan si bayi besar secara normal. Setelah itu, dilakukan proses jahit-menjahit yang terasa lamaaaa sekali. Pasti aku mendapat banyak jahitan karena melahirkan bayi 4,2kg.

Oia, saat itu dilakukan Lotus Birth, yaitu ari-ari bayi dibiarkan menempel dengan plasenta (belum diputus). Biasanya hal ini dilakukan hingga puput sendiri, namun dengan alasan higienitas, jadi di sana hanya dilakukan selama 24 jam. Saat itu aku belum tau tentang ini, jadi ya nurut-nurut saja.

Alhamdulillah, akhirnya anakku terlahir normal dan sehat tepat pada HPLnya. Sekarang saatnya menjalani fase kehidupan yang baru. Semoga aku bisa melaksanakan tanggung jawab ini dengan baik :)

Tuesday, September 12, 2017

Hamil Trimester Kedua dan Ketiga

Lanjutan dari tulisan sebelumnya

Kehamilan trimester kedua ini jauh lebih nyaman daripada trimester pertama. Dadah dadah dulu sama pusing dan mual muntah. Alhamdulillah jadi bisa makan dan beraktivitas seperti biasanya lagi. Efeknya, berat badan janin yang kemarin kemarin sering kurang, sekarang tercukupi terus setiap kontrol. Berat badan ibunya juga naik terus haha. Kalau soal keluhan, alhamdulillah tidak ada yang berarti. Cuma sakit di tulang ekor kalau kelamaan duduk & sesak di bagian ulu hati. Tapi semua itu masih bisa diatasi hehe.

Perkuliahan masih berjalan seperti biasa dengan tugas-tugas yang bejibun. Tapi alhamdulillah, kelasnya di lantai 1 dan udah gak di lantai 4 lagi. Jadinya gak perlu bolak-balik naik turun tangga sampai pusing-pusing lagi. Enaknya lagi, di kelas ada toilet. Sangat membantu di trimester 2 & 3 yang lagi rajin bolak-balik ke toilet karena pingin BAK.

Yang menarik dari trimester kedua adalah gender reveal! Akhirnya bisa tau jenis kelamin anakku. Ayahnya seneng banget pas tau hasilnya. Kalau aku sih, yang penting normal & sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Alhamdulillah hasil pemeriksaan janin selalu bagus. Yang gak bagus malah ibunya. Ketahuannya pas cek darah. HB rendah, bahkan kadar glukosa pun rendah. Setelah itu, dikasih suplemen penambah darah namanya feritrin, disuruh makan telur 3 kali sehari, disuruh banyak makan daging juga. Tapi itu gak berlangsung lama sih, karena lama kelamaan bosen dan enek makan telur melulu.

Hal menarik lainnya adalah mulai belanja perlengkapan bayi. Perlengkapan bayi itu banyak banget dan lucu-lucu. Jadi, harus bikin list hal-hal yang penting aja yaa biar gak berlebihan pas belanja dan biar gak overbudget. Sebagian perlengkapannya aku beli di baby shop, sebagian lainnya beli di online shop. Kenapa online shop? Karena praktis dan gak capek. Sedangkan setiap belanja ke baby shop pasti lupa waktu dan lupa kondisi badan, jadi ujung-ujungnya badan langsung berasa remuk tiap habis belanja.
Kalau kata orang-orang trimester kedua itu adalah masa-masa kehamilan yang paling nyaman. Ternyata itu beneran terasa di aku. Saking nyamannya sampai berasa cepet banget berlalunya, tiba-tiba udah masuk trimester ketiga aja.

Di trimester ketiga, yang aku rasain juga tetap lebih nyaman daripada trimester pertama. Di trimester ini udah kelihatan hamilnya. Perubahan ukuran perut ibunya & ukuran janin benar-benar sangat signifikan. Gerakan ibunya jadi mulai melambat. Gerakan janin di dalam perut berbeda jika dibandingkan dengan trimester kedua. Kalau sebelumnya gerakan dia banyak menendang kesana kemari, sekarang cuma kayak peregangan aja. Mungkin karena mulai kesempitan di dalam sana :D

Kegiatan kuliah di trimester ini berkurang karena lagi libur. Alhamdulillah jadi bisa sering jalan pagi. Jalan kaki sangat dianjurkan di trimester ketiga ini. Tapi, pastikan dulu posisi janin sudah sesuai ya (kepala di bawah). Karena kalau belum, jalan kaki gak terlalu berpengaruh. Kalau posisi belum sesuai, dianjurkan untuk sering melakukan gerakan sujud. Setelah kepala janin di bawah, baru perbanyak jalan pagi. Gak perlu lama-lama, cukup 30 menit setiap harinya. Semakin mendekati persalinan, ditambah jadi 2x30 menit sehari (pagi dan sore). Selain itu, aku juga ikut senam hamil mulai UK 32w. Aku ikut senam hamil di RS Harapan Bunda karena dekat rumah. Disana mengadakan senam hamil setiap Kamis & Sabtu jam 10.00 WIB dengan biaya 25.000 per sesi. Senam hamil ini idealnya dilakukan setiap hari di rumah.

Oia sejak bulan ketujuh, aku sudah gak kontrol ke RS lagi. Karena pemeriksaan sejauh ini baik-baik aja, aku berharap bisa lahiran normal di bidan. Jadi, mulai saat itu aku coba kontrol ke bidan dan ternyata beda banget. Aku melanjutkan kontrol di Bidan Wahyu di Cijantung (dekat rumah). Bu bidan lebih ramah dan perhatian. Bikin nyaman. Selain itu juga lokasinya dekat rumah. Banyak banget yang nanyain sih kenapa mau di bidan? Apalagi dari pihak keluarga aku kebanyakan langganan di RS. Ya selama bisa lahiran normal, aku lebih pingin di bidan karena terasa lebih homey, orang-orangnya juga ramah dan kitanya kayak diperhatiin banget, jadinya bisa ngerasa lebih rileks. Lokasinya pun dekat rumah, kebayang kalo nanti lagi mau lahiran terus lokasinya jauh kan gak enak. Tapi di bidan gak bisa USG (bisa sih, tapi di bidan aku Spog nya cuma ada seminggu sekali apa 2 minggu sekali gitu). Tapi bukan berarti aku berhenti kontrol dengan Spog. Tetep ke Spog dan tetep USG dooong.  Tetep kontrol rutin ke dokter sesuai anjuran. Aku kontrol dan USG dengan dr. Ardian di MND Clinic, Condet. Bahkan aku tetap USG 4D (tapi mukanya selalu diumpetin sama anaknya lol). Disana, sama-sama dengan Spog yang profesional, alat yang bagus, gak antri lebay, dan harga yang 3x lipat lebih murah daripada di RS. Ini lumayan banget sih mengingat gak ada asuransi yang nanggung biaya kontrol aku di RS dan semakin kesini juga kontrolnya harus makin sering (2 minggu sekali, lalu seminggu sekali). Jadi daripada terbuang percuma, mending buat beli keperluan debay yang lain. Tapi semua itu tergantung riwayat kesehatan dan preferensi masing-masing hihi yang penting lahiran lancar, bayi & ibunya sehat yaaa buibuk :)

Saat UK 38w, berat badan janinku terbilang cukup berat yaitu 3.281gr sehingga dianjurkan untuk mengurangi makanan manis dan asin. Rasanya semua berbanding terbalik dengan kehamilan trimester pertama. Dulu gak napsu makan, tapi harus makan. Sekarang, napsu makan bertambah, tapi makan harus dikurangi. Apalagi selama kehamilan, aku sudah naik 16kg 

Oh ya, jangan lupa merawat tubuh juga yaaa. Sejak trimester 2, mungkin kulit perut akan terasa gatal karena kulit perut meregang. Tipsnya, jangan digaruk karena bisa menimbulkan bekas. Diusap dengan minyak zaitun saja. Beberapa orang juga merekomendasikan mulai memakai krim stretchmark dan memakai bio oil. Selain itu, rajin-rajin membersihkan nipple dengan kapas dan baby oil untuk mempersiapkan masa-masa menyusui nanti.

Sekarang sudah memasuki minggu ke 40. Sedang menunggu kontraksi cinta dari si kecil sambil terus perbanyak jalan kaki, gerakan senam hamil, jongkok-berdiri, dan induksi alami dibantu suami. Selain usaha di atas, perlu juga untuk tetap happy. Karena bisa memicu hormon oksitosin yang diperlukan untuk persalinan nanti. Makanya ketika 37w, suami sempatkan untuk mengajakku liburan singkat ke luar kota. Tapi balik lagi ya, kondisi setiap ibu hamil berbeda. Semua harus dikonsultasikan ke tenaga medis yang berpengalaman terlebih dahulu.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga bisa lancar & normal proses persalinanku, serta sehat bayi dan ibunya. Semoga para calon ibu dan ibu ibu di luar sana yang lagi hamil juga dilancarkan yaaa kehamilan dan persalinannya. Untuk yang masih menunggu momongan juga semoga segera diberikan. Aamiin :)

Wednesday, August 2, 2017

Pertamakali Hamil

Hari itu 10 Januari 2017. Aku ingat betul tanggalnya karena saat itu selalu menghitung hari. Sudah beberapa bulan terakhir semenjak menikah, selalu menghitung siklus menstruasi. Bukan sekali dua kali mencoba memakai test pack tapi hasilnya masih negatif. Bahkan pernah telat seminggu, pusing, muntah-muntah dan akhirnya ke dokter. Disana cek darah dan cek urin. Berharap hamil, ternyata DBD dan harus dirawat. Keesokan harinya menstruasi. Kecewa deh.

Terakhir pakai test pack itu 10 hari yang lalu karena percaya dengan kalimat iklan "mampu mendeteksi kehamilan 7 hari setelah berhubungan". Tapi hari itu hasilnya negatif. Walau begitu, tetap saja berharap akan dapat paket kebahagiaan di bulan itu.

Hari itu, 10 Januari 2017, baru dua hari terlambat menstruasi. Harapan semakin besar, karena dua bulan terakhir siklus menstruasi sangat teratur, sedangkan kali ini sudah terlambat walaupun hanya dua hari. Akhirnya, karena masih ada satu sisa test pack, pagi itu aku coba gunakan. Ternyata muncul dua garis, yang satu terlihat jelas (karena memang acuannya), yang satu lagi terlihat sangat samar. Seketika itu juga langsung gemetar. Antara ingin bahagia, tapi takut kecewa. Mungkin saja aku terlalu berharap sehingga hasilnya terlihat seperti itu. Untuk memastikan, aku langsung memanggil adikku untuk ikut melihat. Ternyata dia juga melihat memang ada dua garis. Kita berdua senang sekali, apalagi aku. Langsung saja aku foto dan kirimkan ke suami sambil bertanya "ini garis dua nggak, sih?". Suami langsung yakin bahwa aku positif hamil. Dia memang sudah yakin sejak berhari-hari yang lalu, bahkan walaupun test pack yang sebelumnya menunjukkan hasil negatif (mungkin saat itu hormon HCG belum cukup banyak untuk terdeteksi).

Garisnya masih samar banget

Untuk semakin memastikan, aku membeli tiga test pack lagi dengan merk yang berbeda-beda namun hasilnya selalu positif dan semakin hari semakin jelas garisnya. Akhirnya akhir minggu itu kami pergi ke dokter kandungan. Disana langsung dicek dengan USG Transvaginal. Ternyata memang sudah terbentuk kantung janin walaupun embrio belum terlihat. Dokterpun mengucapkan selamat dan memberi resep vitamin (Folamil Genio) serta beberapa anjuran. Saat itu usia kehamilanku (UK) memasuki 5 minggu.


Tiga minggu kemudian (UK 8 minggu), kami kembali kontrol sesuai dengan instruksi dokter. Lagi-lagi dilakukan USG Transvaginal. Saat itu, embrio sudah terlihat walaupun masih sangat kecil.


UK 12 minggu, saat dilihat dengan USG Transvaginal, janin terlihat bergerak-gerak lincah. Tetapi ukurannya masih lebih kecil dari yang diperkirakan. Dokter menyarankan untuk makan lebih banyak. Memang di minggu minggu itu asupan makananku berkurang karena mual & muntah. Berat badan yang tadinya sudah mulai naik pada awal kehamilanpun turun lagi.


Pada kehamilan trimester pertama, rasa mual mulai datang. Tiba-tiba saat mengambil porsi nasi seperti biasanya jadi tidak habis karena mual. Bahkan makan makanan yang disukai dan aku yakin bakal habispun jadi tidak habis. Minum susu dan air putihpun langsung mual. Bukan hanya dipagi hari (morning sickness) namun sepanjang hari. Rasanya seperti sudah bersahabat dengan toilet karena sering bolak-balik muntah.

Sejak kehamilan ini, ada beberapa kebiasaan juga yang berubah. Salah satunya, jadi naik taksi untuk pulang pergi kampus. Bukan bermaksud manja ataupun sok royal, tapi karena ini kehamilan pertama dan kondisi setiap orang berbeda-beda, aku dan suami tidak ingin mengambil resiko karena aku mudah kelelahan. Mungkin ada yang bilang "dulu pas saya hamil gak kenapa kenapa tuh tetep gini.. tetep gitu.. blablabla". Ya, balik lagi, kondisi tiap orang berbeda :)

Sudah naik mobilpun, bukan berarti semua berjalan mulus-mulus aja. Setiap pergi ke kampus, di tas harus sedia permen dan kresek. Pernah suatu hari muntah di taksi, untungnya memang sudah sedia kresek. Sering juga sesampainya di kampus langsung tepar di sofa lobby karena mual-mual. Selain tantangan pergi ke kampus, tantangan selanjutnya adalah kuliah. Perkuliahan saat itu berada di lantai 4, tidak ada lift. Padahal seseorang yang hamil tidak dianjurkan naik turun tangga. Memang sih, saat naik turun tangga tidak terasa lelah saat itu. Apalagi perut juga belum membesar. Tapi kalau aku, tubuhku akan memberi tahu saat aku kelelahan dengan pertanda yaitu pusing. Untuk mengakalinya, harus datang lebih pagi supaya bisa naik tangga pelan-pelan dan istirahat di setiap lantai. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi semenjak toilet di atas rusak (sedangkan pada masa itu aku semakin sering buang air kecil), akhirnya setiap ke toilet harus turun ke lantai 1, lalu naik lagi ke lantai 4. Akibatnya, jadi sering pusing-pusing dan sering tidak masuk. Kalau sudah pusing, cuma bisa bedrest di rumah sambil oles oles minyak kayu putih & minyak aromatherapy. Padahal sebelum hamil, aku tipe orang yang setiap pusing sedikit langsung minum obat. Tapi semenjak hamil ini, berusaha lepas dari pengaruh obat.




Kebiasaan lain yang juga berubah, adalah berkurangnya jadwal mengajar. Alhamdulillah ada Saras & Ica yang bantu menggantikan. Aku sadar akan kondisi tubuhku yang memang harus mengurangi aktivitas.

Selain itu, pada trimester pertama ini jadi mudah sekali masuk angin. Tidak bisa bertahan di tempat yang ber-AC. Sampai-sampai AC di kamar disetel dengan suhu 27℃. Suami sampai kepanasan. Kemudian setiap di kelas, selalu mencari tempat yang paling tidak terkena AC. Itupun harus memakai jaket tebal dan pakaian berlapis.

Walaupun pada trimester ini sering mual dan pusing, tapi rasanya tetap lega dan bahagia. Karena rasa mual itu merupakan pertanda bahwa janin dalam kandunganku terus berkembang. Periode ini memang periode yang rawan, sehingga aku sering khawatir. Semakin aku mual, semakin aku lega, badan ini memberi pertanda bahwa kandunganku masih baik-baik saja. Lagipula, kalau dibandingkan dengan yang lain, banyak cerita kehamilan yang lebih menantang. Ceritaku tidak ada apa-apanya mungkin. Memang setiap wanita pasti punya cerita kehamilan yang berbeda-beda. Aku bersyukur dengan semua yang aku alami.

Alhamdulillah suami juga sangat mendampingi selama trimester pertama ini. Perannya sangat besar terhadap kehamilanku. Ia selalu mengusahakan supaya aku makan. Selalu bertanya ingin makan apa untuk mengurangi mual supaya aku bisa makan. Selalu menawari makanan kesukaanku. Dibawakannya makanan itu sampai ke kamar. Ia juga mengusahakan aku minum susu. Dibuatkannya susu dan dibawakan ke kamar. Ketika aku muntah, ditemaninya di kamar mandi sambil memijat-mijat. "Nggak apa apa muntah, yang penting tetep makan yah.. sebentar lagi makan lagi, kamu mau apa?". Selain itu, suami juga berinisiatif membantu meringankan beberapa pekerjaan rumah tangga yang terkadang aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa :') Disamping adanya janin dalam kandunganku, perhatian suami semakin membuatku bahagia di kehamilan trimester pertama ini. Membuatku merasa bahwa we're all in this together dan gak pernah merasa sendiri. Thanks hubby ♡

Terakhir, untuk kamu yang ada di dalam rahimku, semoga kita berdua sama-sama sehat & kuat ya nak ♡

(To be continued)

Thursday, March 30, 2017

Setelah Menikah

Halo! Di postingan sebelumnya aku cerita tentang kehidupan setelah sarjana sampai menikah. Nah, berikut ini lanjutan kisahnya, kehidupan setelah menikah.

Setelah menikah, pastinya banyak yang berubah dari keseharianku walaupun tidak drastis. Mungkin karena aku dan suami memutuskan untuk masih tinggal bersama orangtua. Kenapa masih tinggal bersama orangtua? Kenapa bukan aku yang ikut suami, tapi malah suami yang ikut aku? Tentunya ada beberapa pertimbangan. Pertama, karena aku bekerja di rumah orangtua (sudah diceritakan sebelumnya) dan suami sangat mendukung pekerjaan itu. Kedua, karena aku melanjutkan kuliah dan dengan tinggal di sini kami rasa strategis untuk ke kampus. Lalu bagaimana dengan suamiku yang harus menempuh 60km untuk bekerja? Dengan tinggal sementara di sini, karena lokasinya strategis, jadi akses untuk ke kantornya mudah walaupun jaraknya jauh. Waktu tempuhnya pun masih realistis. Pertimbangan ketiga, karena kita tergolong memulai rumah tangga di usia yang terbilang cukup muda, jadi yang namanya "mulai dari nol" itu ya benar terjadi. Belum punya rumah sendiri. Tadinya sempat terpikir untuk hidup mandiri, kontrak. Sepertinya asik, bisa belajar ngurus rumah, masak-masak, dan dunia milik berdua. Namun, dari saran orang-orang yang telah berpengalaman dan dari orangtua kami, akhirnya kami menanggalkan keinginan itu dulu.

Banyak yang bilang tinggal bersama orangtua itu banyakan tidak enaknya. Tapi kami akhirnya tetap mencoba. Aku tidak pernah memaksa suami, jika suami tidak betah, maka akupun siap untuk pindah sewaktu-waktu. Namun ternyata, kami nyaman tinggal bersama orangtua untuk sementara waktu (pastinya tetap ada keinginan untuk punya rumah sendiri nantinya). Di sini, kami mendapatkan banyak privasi. Lebih seperti tetangga daripada serumah. Apalagi suasana rumah cukup sepi.

Walaupun tinggal di tempat yang sama seperti sebelum menikah, ternyata tetap ada perubahan-perubahan. Pagi-pagi ada kewajiban menyiapkan bekal dan pakaian untuk suami. Tapi tidak pernah repot, karena suami ini pemilih kalau soal makanan pagi, dan makanan yang dia suka sangat tidak merepotkan. Malam-malam makan berdua, nonton tv berdua, atau sekedar tidur-tiduran sambil ngobrol. Tidur pun jadi selalu ada temannya. Sejak menikah sampai sekarang, belum pernah sekalipun tidak tidur bersama suami. Mungkin kalau suami ada tugas ke luar kota nanti aku bakalan mellow banget kali ya, soalnya udah terbiasa bersama. Kalau weekend, kadang jadi lomba tidur untuk kita. Siapa yang bangun paling siang hahaha. Tapi kalau lagi produktif, kita jalan pagi dan jajan-jajan. Siangnya pergi, entah itu belanja, cari hiburan, ke rumah mertua, arisan, kondangan, dll. Sekarang weekend ku selalu banyak acara. Udah nggak pernah lagi bosan-bosan tiap weekend. Kadang kalau lagi pingin, ya di rumah aja seharian nonton film, santai-santai, main game, delivery makanan, pokoknya home date hehe.

Oh ya, yang berubah lagi semenjak menikah adalah kesibukan tambahanku yang memutuskan untuk kuliah lagi. Setiap Senin sampai Rabu, aku rutin ke Rawamangun untuk kuliah. Asiknya, bisa bertemu banyak teman baru dan merasakan pengalaman belajar baru. Walaupun tugasnya banyak banget. Tugas tugas itu tidak bisa dikerjakan sore dan malam hari, karena itu waktunya bekerja. Juga tidak bisa dikerjakan saat weekend, karena banyaknya kesibukan weekend dengan suami. Karenanya, harus curi-curi waktu. Inilah yang membedakan kuliah sesudah menikah dan sebelum menikah dulu. Tiga bulan pertama menikah, rutin sakit setiap bulan. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Karena mungkin badan ini belum terbiasa dengan kesibukan seperti itu. Suami sempat bertanya "kuliahnya capek ya? Apa mau berhenti aja?" tapi aku tetap mau lanjut. Akhirnya, beberapa aktivitas mulai dikurangi. Aku tidak lagi fokus berjualan online, karena butuh waktu juga untuk bungkus-bungkus dan kirim. Selain itu juga mengurangi jam bekerja dan digantikan oranglain. Alhamdulillah, akhirnya bisa sehat lagi. Dan Alhamdulillah dapat titipan dari Allah SWT di dalam rahimku.

Itu hanya dari segi rutinitas. Banyak yang bertanya "gimana nikah? Enak nggak?". Kalau yang aku rasakan, enak banget. Tadinya banyak ragu, karena kalau nikah kok kesannya bakal jadi terkekang, ansos dari pertemanan karena jarang bisa kumpul, belum lagi cerita tentang suami yang suka nuntut ini itu dan cerita tentang mertua galak. Juga ada yang bilang "5 tahun pertama itu cobaan banget loh dalam pernikahan. Soalnya kan kita baru tau buruk2nya pasangan". Tapi yang aku rasakan nggak seperti itu. Aku dibebaskan mengaktualisasi diri, selama itu hal yang positif. Aku tetap bisa kumpul bersama teman-teman. Suami tidak menuntut ini itu, malah banyak membantu. Mertua super baik, gak bawel, bikin betah dan jadi sering main ke rumah mertua. Kalau weekend selalu ada yang menemani, kalau mimpi buruk selalu ada yang menenangkan, kalau galau dan lelah di malam hari selalu ada yang peluk, kalau memulai hari ada yang semangatin dengan pelukan dan kecupan, bisa bebas jalan-jalan ke luar kota, bertualang berdua, dll. Kalau soal baru tau tentang buruk-buruknya pasangan, kayaknya nggak juga. Aaaa pokoknya sangat-sangat bersyukur.

Tapi selain itu, yang namanya dua pribadi yang disatukan, pasti ada perbedaan-perbedaan. Jadi harus belajar untuk menerima perbedaan, belajar sabar, belajar untuk tidak egois. Contohnya kalau di aku, harus nego masalah AC karena yang satu mau adem, yang satu lagi gampang masuk angin. Tentang finansial juga, yang satu suka ngitung-ngitung, yang satu lagi tidak sedetail itu. Yang satu males makan, satunya lagi gak bisa berhenti ngunyah. Yang satu apal jalan, yang satunya bedain kanan kiri aja susah. Yang satu selalu inget naruh barang dimana, satunya lagi pelupa. Dan banyak lagi :D

Tapi kesimpulannya: aku bersyukur tidak menunda menikah ketika ada kesempatan. Dan ternyata semua ragu yang pernah muncul karena cerita-cerita orang, sekarang hilang tak berbekas.

Thursday, March 9, 2017

Kehidupan Setelah Sarjana

Hai! Postingan kali ini sepertinya nggak berfaedah karena hanya bermaksud berbagi cerita aja. Sekalian menjadi online diary yang beberapa tahun lagi bisa kubaca dan kukenang :)

Jadi, apa yang terjadi dalam hidup seorang Arli setelah mendapat gelar sarjana dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia itu? Jawabnya, hanya tetap menjadi Arli (yang insyaAllah pengetahuan, pengalaman, dan kepribadiannya sudah terupgrade dari Arli empat tahun yang lalu).

Juli 2015
Dimulai dari selesai sidang sarjana, aku mulai bersemangat menyambut perjalanan selanjutnya. Semangat membuat CV, dan semangat apply lowongan pekerjaan. Gimana nggak semangat, soalnya apa-apanya dikerjakan bareng Iqbal (yang waktu itu statusnya masih pacar). Rasanya ingin cepat-cepat dapat kerja --> punya penghasilan cukup --> menikah. Disaat teman-teman lain sedang bersemangat melengkapi syarat kelulusan (poster, jilid skripsi, jurnal), kami jadi dua orang yang belakangan melengkapinya karena terlalu excited apply kerja. Karena dengar-dengar dari pengalaman orang-orang, dipanggil tes dan interview itu bisa memakan waktu 2 minggu atau bahkan lebih setelah apply.


Beberapa hari kemudian, masuklah panggilan tes ke email. Ada dua panggilan tes saat itu. Yang satu, lokasinya sulit dijangkau (apalagi aku belum pernah naik bus sendiri pada waktu itu). Akhirnya gak jadi tes. Yang satu lagi, sama juga jauhnya, tapi karena tidak terlalu jauh dari rumah Iqbal, jadi cukup naik bus sekali, lalu bisa diantar. Pertama kali ijin sama orangtua, mereka ngelihatnya agak aneh gitu. Apalagi papa, kelihatan nggak tega anak perempuannya naik bus ke tempat yang lumayan jauh. Mereka cuma bilang "semoga hasilnya yang terbaik". Dari rumah diantar papa sampai tempat naik bus.  Dari situlah baru pertama kalinya merasakan yang namanya naik bus sendiri. Sampai keluar tol, turun dari bus langsung dijemput Iqbal. Setelah ikut tes, sepertinya memang bukan jodohnya kerja di tempat itu. Dan setelah itu, keluarlah statement mama dan papa kalau sebenarnya mereka saat itu kurang srek karena jauh. "Apa harus kayak gitu gitu kerjanya?" "Nggak ada yang deket-deket?" "Kenapa nggak S2 lagi aja, terus jadi dosen?". Pokoknya kayak nggak rela banget. Nggak cuma itu, Iqbal pun kurang srek. Katanya, "aku udah merasakan bolak balik tes dan interview. Semakin aku merasakan, semakin aku merasa itu nggak cocok untuk kamu, by. Belum lagi kalau kita nikah dan punya anak, aku nggak mau kamu kerja kayak gitu. Aku nggak sampai hati bayanginnya. Aku yakin kamu bisa sukses dengan cara lain". Hati kecilpun juga bilang, sepertinya bukan pekerjaan seperti itu yang cocok untukku. Akhirnya setelah itu, nggak pernah lagi apply kerja di perusahaan. Jadi justru disaat teman-teman lagi aktifnya apply kerja, diriku malah berhenti apply.

Agustus 2015
Setelah itu, tiba-tiba terbersit ide untuk bisnis online. Simpel sih, gara-gara waktu itu lagi seneng banget sama lipstik dan pingin banget punya semua warnanya tapi mahal dan sayang dong kalo beli semua haha. Akhirnya bilang ke Iqbal pingin deh jualan lipstik, nanti kalo nggak laku, jadi buat aku deh haha. Jadi bener-bener buat iseng aja. Gara-gara ngomong gitu, jadi Iqbal yang lebih excited buat mewujudkan jualan online itu. Karena masih takut-takut, akhirnya dimulai dengan modal yang sangat sedikit, kita cuma stock 7 buah lipstik. Warnanya pun yang kusuka, jadi kalau gak laku, bisa untuk aku haha. Tapi Allah berkata lain ya, dan ternyata laku. Akhirnya jualan online itu jadi kesibukan kita berdua setiap hari setelah wisuda sambil Iqbal ikutan tes dan interview kerja. Pengalaman yang menyenangkan untuk kita berdua, setidaknya bisa jadi uang jajan kita selama jadi pengangguran dan bisa jadi alasan untuk ketemu hahaha.


*Lama kelamaan, usaha ini berkembang dan bisa jadi tabungan kita untuk belanja hantaran nikah dan untuk jalan-jalan keluar kota setelah nikah. Tapi sekarang lagi berhenti (nanti diceritain kenapa).

September 2015
Karena waktu itu mengisi luang sambil mengajar privat, aku mulai tahu bahwa pekerjaan yang kusukai adalah mengajar dan bertemu anak-anak. Akhirnya terpikirlah untuk membuka semacam bimbingan belajar privat kecil kecilan di rumah. Teras rumahku, disulap menjadi sebuah ruang kelas yang nyaman. Itulah ruang kerjaku sekarang. Saat ruang kelas itu sudah jadi, ada ketakukan tersendiri apakah akan ada muridnya? Apakah ruang kelas ini nantinya akan bermanfaat?


Oktober 2015
Kini Iqbal sudah dapat kerja, di sebuah perusahaan di KIIC, Karawang. Kita tidak lagi sering bertemu. Ia tidak lagi bisa membantuku untuk membungkus kiriman dagangan dan menemaniku ke JNE. Ia juga tidak lagi bisa membantu mempersiapkan "kelas kecil"ku. Rasanya benar-benar resah disini.


Tapi keresahanku itu akhirnya dijawab oleh Allah. Aku dapat murid yang ingin belajar di "kelas kecil" ku. Aku senang walaupun baru satu orang. Setelah itu, promosi "kelas kecil"ku menyebar dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, setiap Senin sampai Jumatku, "kelas kecil" itu selalu jadi tempat berbagi ilmu. Selalu diisi oleh anak-anak yang datang jam 4 sore dan jam 7 malam. Rasanya benar-benar bersyukur bisa bekerja di rumah. Rasanya benar-benar bersyukur Allah menuntunku mengambil jalan ini. Besar harapanku nantinya bimbingan belajar privat dan kelompok ini bisa berkembang dan punya tempat sendiri.

Selain itu, di bulan ini, Iqbal menghadap orangtuaku untuk meminta ijin menikah. Tak usah ditanya betapa bahagia dan bersyukurnya aku padahal kami belum 1 tahun pacaran.

Desember 2015
Selain mengajar, aku beberapa kali diminta jadi guru pengganti dan guru tambahan di sebuah sekolah. Akhirnya terpikir untuk menjadi guru sekolah. Awalnya orangtua bertanya, "kenapa nggak jadi dosen aja?". Tapi setelah dijelaskan kalau aku lebih suka bertemu anak-anak, akhirnya mereka mengerti. 


Akhirnya kucoba untuk apply kerja di sekolah. Saat itu, dikatakan bahwa aku tidak bisa jadi guru karena terbentur peraturan pemerintah yang ada, yang mana guru harus S.Pd. Sedangkan yang namanya akta IV (program yang bisa diambil apabila sarjana dari non kependidikan ingin menjadi guru) sudah tidak ada lagi. Kemudian disarankan untuk buka lembaga pendidikan non formal, atau kuliah lagi untuk gelar M.Pd. Saat itu sempat terpikir, "Ah masa sih harus S.Pd? Banyak kok teman-temanku yang jadi guru di sekolah padahal bukan bergelar S.Pd. Mungkin kalau aku apply di sekolah yang lain, ada yang bisa menerima".

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin aku memang perlu ambil S2 kependidikan. Bukan sekedar untuk gelar, tapi aku ingin tahu bagaimana caranya menjadi guru yang benar, bukan hanya sekedar paham materi ajar seperti yang saat itu kulakukan. Jika tidak untuk menjadi guru sekolah, mungkin dengan ilmu yang kudapat dari S2, aku bisa menerapkannya dalam mengajar murid-muridku di "kelas kecil", atau untuk mendidik anak-anakku kelak. Akhirnya aku semakin mantap untuk S2 di UNJ prodi Teknologi Pendidikan.

Januari-Maret 2016
Setelah itu, aku langsung semangat untuk kuliah lagi. Mencari-cari info jurusan, universitas, dan beasiswa. Persyaratan untuk beasiswa dan masuk kuliah mulai kupersiapkan. Dan akupun sudah diterima di Universitas yang kutuju.Tetapi mungkin memang bukan rejekiku untuk dapat beasiswa, karena jika aku dapat beasiswa yang kuincar, maka aku baru bisa kuliah tahun depan (ya, karena ini semua rencana mendadak, jadi aku belum mempersiapkan beasiswa dari tahun sebelumnya). Aku siap menunggu tahun depan, tapi orangtuaku tidak setuju. Kelamaan, kata mereka. Alhamdulillah, mereka sangat semangat anaknya segera S2 dan Alhamdulillah rejeki keluarga kami dicukupkan sehingga aku tetap bisa kuliah mulai September nanti :)


Agustus 2016
Arli & Iqbal kini resmi menjadi pasangan suami istri. Kami memasuki babak baru dalam hidup kami, yang akan aku ceritakan di postingan selanjutnya :)

Tuesday, February 28, 2017

Ibu Rumah Tangga vs Ibu Wanita Karir

Berhubung sekarang sudah memasuki usia 22 tahun, sudah banyak disekitarku yang menikah. Termasuk aku. Diantara yang sudah menikah, sebagian menjadi ibu rumah tangga dan sebagian lagi meneruskan karirnya. Keduanya sebenarnya sama-sama baik, namun sayangnya, banyak yang saling menjelekkan satu sama lain hanya untuk membuktikan bahwa ibu rumah tangga adalah yang terbaik, atau ibu wanita karir adalah yang terbaik. Hal yang sangat disayangkan, wanita yang memiliki peran yang sama sebagai seorang ibu dan bisa lebih baik jika bersatu, malah saling menjelekkan dan menyindir untuk mendapatkan predikat ibu terbaik. Padahal semua ibu luar biasa.

Ibu rumah tangga bukanlah pengangguran. Menjadi ibu rumah tangga, berarti mendedikasikan hidup untuk bekerja dirumah. Bukan karena tidak bisa mencari kerja, sama sekali bukan. Karena banyak ibu rumah tangga yang menyimpan ijazah pendidikan tingginya (walaupun dari universitas ternama). Ia mengorbankan ijazah yang didapatnya dengan susah payah dan dengan biaya yang tidak sedikit untuk mengabdi dirumah. Bukan untuk santai-santai, atau untuk sekedar menghabiskan uang suami. Tapi untuk mengurus keperluan dirumah yang sebenarnya juga membutuhkan pemecahan masalah. Karena itulah ia tahu bahwa kuliahnya tidak sia-sia, karena pendidikan yang ditempuhnya dulu memang melatihnya untuk membuatnya mandiri dan melatih pikirannya untuk menyelesaikan persoalan yang kelak dapat digunakan dalam menghadapi hidup ini.

Ia menghabiskan waktunya dirumah untuk membereskan rumah agar tetap rapi dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga. Ia bersihkan rumah agar seluruh anggota keluarga terbebas dari penyakit akibat rumah yang kotor. Ia menyediakan keperluan semua anggota keluarga. Ia menyiapkan makanan. Ia mendidik anak-anaknya dan menanamkan nilai-nilai yang baik. Ia membantu anaknya belajar. Terkadang ia harus mengantar atau menjemput anaknya ke sekolah atau ke tempat les. Setelah malam tiba pun, ketika anak-anaknya sudah terlelap, ia belum bisa beristirahat karena masih mempunyai kewajiban terhadap suaminya. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di rumah untuk rutinitas yang sama. Untuk bertemu teman-teman pun banyak hal yang menjadi pertimbangan. Hal ini beresiko membuatnya sangat jenuh. Hanya bertemu dengan anak-anak dan suaminya. Itupun anak-anaknya belum bisa diajak berbicara untuk sekedar curhat. Sedangkan suaminya selalu pulang malam. Betapa beratnya menjadi ibu rumah tangga.

"Ah, hanya bersih-bersih, rapi-rapi, dan masak, itu kan tugas pembantu. Suami kan cari istri, bukan cari pembantu, yang penting istri pintar dan bisa membantu suami mencari nafkah". Itulah kata-kata menyakitkan yang kadang diucapkan oleh sesama ibu di luar sana. Tanpa berpikir, siapa tahu memang keluarga itu belum atau tidak mampu menggaji pembantu? Atau siapa tahu mereka mampu, tetapi ingin mencari ridho sebanyak-banyaknya dan itu dirasa bisa didapatkannya dengan mengabdi dirumah? Siapa tahu suaminya tidak ingin istrinya bersusah payah menghadapi kemacetan diluar sana untuk ke kantor, mendapat beban pekerjaan yang besar, dimarahi atasan, dan pulang lebih malam daripada suami?

Tapi, tidak jarang pula ibu rumah tangga yang memiliki pembantu. Tapi tetap saja tak lepas dari sindiran. Kali ini datangnya dari ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu. "Ibu sih enak, kalau saya tidak pakai pembantu, jadi apa-apa saya kerjakan sendiri". Kadang ada nada menyakitkan, seolah-olah merasa paling hebat karena mengurus semuanya tanpa bantuan pembantu dan menganggap rendah ibu yang memakai jasa pembantu. Padahal, siapa tahu ia memang ingin lebih fokus mengurusi pendidikan anak-anaknya sehingga masalah bersih-bersih dan masak bisa diserahkan ke orang lain. Siapa tahu juga dia memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan, sehingga daripada ia sakit dan merepotkan anggota keluarga, lebih baik menggunakan jasa pembantu agar ia tetap sehat. Siapa tahu juga ada pekerjaan sampingan yang dikerjakannya untuk membantu suami (walaupun tetap dirumah). Dan siapa tahu suaminya tidak bisa membantu pekerjaan rumah (dinas di luar kota dan jarang pulang misalnya), sedangkan ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu masih ada suami yang bisa membantu sedikit.

Bukan, bukan berarti aku hanya membela ibu rumah tangga. Karena sering pula ibu rumah tangga berkata kepada ibu wanita karir. "Enaknya yang gak harus capek dirumah ngurus ini itu. Enaknya gak jenuh dirumah. Enaknya bisa kabur dari urusan rumah. Di rumah kan lebih berat daripada di kantor". Atau "Gitu lah kalau ibunya kerja, anak-anak jadi tidak keurus, prestasi menurun. Nantinya tidak sesukses anak anak yang ibunya ada dirumah". Hal itu sangat menyakiti hati ibu wanita karir. Seolah-olah ia tidak memikirkan kepentingan keluarganya. Seolah-olah ia lebih mementingkan mencari uang daripada mengurusi keluarganya. Padahal menjadi ibu wanita karir adalah pekerjaan yang sangat berat.

Pagi hari, jauh lebih pagi dari yang lain, ia sudah harus menyiapkan makanan untuk keluarganya dan menyiapkan keperluan-keperluan lainnya. Tidak boleh kesiangan sedikit, karena ia pun harus segera berangkat kerja. Ia juga harus memastikan anak-anaknya sudah diantar ke sekolah dengan selamat dan tepat waktu. Kemudian ia harus berjuang untuk bisa sampai ke kantor. Naik mobil menerpa kemacetan kota; atau naik angkutan umum yang kadang membuatnya berdiri berdesakkan sepanjang perjalanan; atau naik motor yang membuat pinggangnya pegal, badannya terkena angin, bahkan kepanasan dan kehujanan. Sesampainya di kantor, ia harus berhadapan dengan beban pekerjaan. Beban itu bertambah karena sambil memikirkan anak-anaknya: sudahkah anakku pulang dengan selamat? Sudahkah anakku sampai di tempat les? Ketika ia pulang ke rumah, boro-boro bisa beristirahat. Ia harus menebus waktu yang tidak ia habiskan dirumah. Ia harus menemani anak-anak, ia harus mengurus rumah yang seharian tadi ia tinggalkan. Ia harus melakukan kewajiban terhadap suami dan tetap mendengarkan keluh kesah suami dan menanggapinya dengan baik (walaupun ia sendiri juga mengalami hari yang buruk di kantor).

Semua itu ia lakukan, bukan semata-mata ingin mencari uang dan tidak mementingkan keluarga. Bukan pula ingin kabur dari kewajiban-kewajiban dirumah. Semua itu ia lakukan karena ingin membantu suami, ingin tidak menyulitkan suami dalam hal finansial dan suami pun mengijinkan, ingin anak-anak bisa mendapatkan fasilitas terbaik. Dan apabila untuk memenuhi itu ia harus bekerja, maka itulah yang dilakukannya walaupun ingin rasanya hati lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga dengan pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat untuk anak-anaknya. Aku juga tahu ibu temanku yang seorang ibu rumah tangga tanpa pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat. Aku juga tahu ibu temanku yang bekerja sebagai wanita karir, dan ia adalah ibu yang hebat.

Betapa besarnya peranan seorang ibu. Semua ibu di dunia ini adalah ibu-ibu yang hebat. Terlepas ia adalah ibu rumah tangga, ataupun ibu wanita karir, ia pasti akan tetap menjadi kebanggaan keluarganya tanpa harus ia merendahkan ibu-ibu yang lainnya. Semua ibu punya perjuangannya masing-masing yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Jadi daripada saling menyindir dan merendahkan, lebih baik bersatu dan saling menutupi kekurangan. Karena semua ibu itu hebat ❤