Wednesday, August 2, 2017

Pertamakali Hamil

Hari itu 10 Januari 2017. Aku ingat betul tanggalnya karena saat itu selalu menghitung hari. Sudah beberapa bulan terakhir semenjak menikah, selalu menghitung siklus menstruasi. Bukan sekali dua kali mencoba memakai test pack tapi hasilnya masih negatif. Bahkan pernah telat seminggu, pusing, muntah-muntah dan akhirnya ke dokter. Disana cek darah dan cek urin. Berharap hamil, ternyata DBD dan harus dirawat. Keesokan harinya menstruasi. Kecewa deh.

Terakhir pakai test pack itu 10 hari yang lalu karena percaya dengan kalimat iklan "mampu mendeteksi kehamilan 7 hari setelah berhubungan". Tapi hari itu hasilnya negatif. Walau begitu, tetap saja berharap akan dapat paket kebahagiaan di bulan itu.

Hari itu, 10 Januari 2017, baru dua hari terlambat menstruasi. Harapan semakin besar, karena dua bulan terakhir siklus menstruasi sangat teratur, sedangkan kali ini sudah terlambat walaupun hanya dua hari. Akhirnya, karena masih ada satu sisa test pack, pagi itu aku coba gunakan. Ternyata muncul dua garis, yang satu terlihat jelas (karena memang acuannya), yang satu lagi terlihat sangat samar. Seketika itu juga langsung gemetar. Antara ingin bahagia, tapi takut kecewa. Mungkin saja aku terlalu berharap sehingga hasilnya terlihat seperti itu. Untuk memastikan, aku langsung memanggil adikku untuk ikut melihat. Ternyata dia juga melihat memang ada dua garis. Kita berdua senang sekali, apalagi aku. Langsung saja aku foto dan kirimkan ke suami sambil bertanya "ini garis dua nggak, sih?". Suami langsung yakin bahwa aku positif hamil. Dia memang sudah yakin sejak berhari-hari yang lalu, bahkan walaupun test pack yang sebelumnya menunjukkan hasil negatif (mungkin saat itu hormon HCG belum cukup banyak untuk terdeteksi).

Garisnya masih samar banget

Untuk semakin memastikan, aku membeli tiga test pack lagi dengan merk yang berbeda-beda namun hasilnya selalu positif dan semakin hari semakin jelas garisnya. Akhirnya akhir minggu itu kami pergi ke dokter kandungan. Disana langsung dicek dengan USG Transvaginal. Ternyata memang sudah terbentuk kantung janin walaupun embrio belum terlihat. Dokterpun mengucapkan selamat dan memberi resep vitamin (Folamil Genio) serta beberapa anjuran. Saat itu usia kehamilanku (UK) memasuki 5 minggu.


Tiga minggu kemudian (UK 8 minggu), kami kembali kontrol sesuai dengan instruksi dokter. Lagi-lagi dilakukan USG Transvaginal. Saat itu, embrio sudah terlihat walaupun masih sangat kecil.


UK 12 minggu, saat dilihat dengan USG Transvaginal, janin terlihat bergerak-gerak lincah. Tetapi ukurannya masih lebih kecil dari yang diperkirakan. Dokter menyarankan untuk makan lebih banyak. Memang di minggu minggu itu asupan makananku berkurang karena mual & muntah. Berat badan yang tadinya sudah mulai naik pada awal kehamilanpun turun lagi.


Pada kehamilan trimester pertama, rasa mual mulai datang. Tiba-tiba saat mengambil porsi nasi seperti biasanya jadi tidak habis karena mual. Bahkan makan makanan yang disukai dan aku yakin bakal habispun jadi tidak habis. Minum susu dan air putihpun langsung mual. Bukan hanya dipagi hari (morning sickness) namun sepanjang hari. Rasanya seperti sudah bersahabat dengan toilet karena sering bolak-balik muntah.

Sejak kehamilan ini, ada beberapa kebiasaan juga yang berubah. Salah satunya, jadi naik taksi untuk pulang pergi kampus. Bukan bermaksud manja ataupun sok royal, tapi karena ini kehamilan pertama dan kondisi setiap orang berbeda-beda, aku dan suami tidak ingin mengambil resiko karena aku mudah kelelahan. Mungkin ada yang bilang "dulu pas saya hamil gak kenapa kenapa tuh tetep gini.. tetep gitu.. blablabla". Ya, balik lagi, kondisi tiap orang berbeda :)

Sudah naik mobilpun, bukan berarti semua berjalan mulus-mulus aja. Setiap pergi ke kampus, di tas harus sedia permen dan kresek. Pernah suatu hari muntah di taksi, untungnya memang sudah sedia kresek. Sering juga sesampainya di kampus langsung tepar di sofa lobby karena mual-mual. Selain tantangan pergi ke kampus, tantangan selanjutnya adalah kuliah. Perkuliahan saat itu berada di lantai 4, tidak ada lift. Padahal seseorang yang hamil tidak dianjurkan naik turun tangga. Memang sih, saat naik turun tangga tidak terasa lelah saat itu. Apalagi perut juga belum membesar. Tapi kalau aku, tubuhku akan memberi tahu saat aku kelelahan dengan pertanda yaitu pusing. Untuk mengakalinya, harus datang lebih pagi supaya bisa naik tangga pelan-pelan dan istirahat di setiap lantai. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi semenjak toilet di atas rusak (sedangkan pada masa itu aku semakin sering buang air kecil), akhirnya setiap ke toilet harus turun ke lantai 1, lalu naik lagi ke lantai 4. Akibatnya, jadi sering pusing-pusing dan sering tidak masuk. Kalau sudah pusing, cuma bisa bedrest di rumah sambil oles oles minyak kayu putih & minyak aromatherapy. Padahal sebelum hamil, aku tipe orang yang setiap pusing sedikit langsung minum obat. Tapi semenjak hamil ini, berusaha lepas dari pengaruh obat.




Kebiasaan lain yang juga berubah, adalah berkurangnya jadwal mengajar. Alhamdulillah ada Saras & Ica yang bantu menggantikan. Aku sadar akan kondisi tubuhku yang memang harus mengurangi aktivitas.

Selain itu, pada trimester pertama ini jadi mudah sekali masuk angin. Tidak bisa bertahan di tempat yang ber-AC. Sampai-sampai AC di kamar disetel dengan suhu 27℃. Suami sampai kepanasan. Kemudian setiap di kelas, selalu mencari tempat yang paling tidak terkena AC. Itupun harus memakai jaket tebal dan pakaian berlapis.

Walaupun pada trimester ini sering mual dan pusing, tapi rasanya tetap lega dan bahagia. Karena rasa mual itu merupakan pertanda bahwa janin dalam kandunganku terus berkembang. Periode ini memang periode yang rawan, sehingga aku sering khawatir. Semakin aku mual, semakin aku lega, badan ini memberi pertanda bahwa kandunganku masih baik-baik saja. Lagipula, kalau dibandingkan dengan yang lain, banyak cerita kehamilan yang lebih menantang. Ceritaku tidak ada apa-apanya mungkin. Memang setiap wanita pasti punya cerita kehamilan yang berbeda-beda. Aku bersyukur dengan semua yang aku alami.

Alhamdulillah suami juga sangat mendampingi selama trimester pertama ini. Perannya sangat besar terhadap kehamilanku. Ia selalu mengusahakan supaya aku makan. Selalu bertanya ingin makan apa untuk mengurangi mual supaya aku bisa makan. Selalu menawari makanan kesukaanku. Dibawakannya makanan itu sampai ke kamar. Ia juga mengusahakan aku minum susu. Dibuatkannya susu dan dibawakan ke kamar. Ketika aku muntah, ditemaninya di kamar mandi sambil memijat-mijat. "Nggak apa apa muntah, yang penting tetep makan yah.. sebentar lagi makan lagi, kamu mau apa?". Selain itu, suami juga berinisiatif membantu meringankan beberapa pekerjaan rumah tangga yang terkadang aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa :') Disamping adanya janin dalam kandunganku, perhatian suami semakin membuatku bahagia di kehamilan trimester pertama ini. Membuatku merasa bahwa we're all in this together dan gak pernah merasa sendiri. Thanks hubby ♡

Terakhir, untuk kamu yang ada di dalam rahimku, semoga kita berdua sama-sama sehat & kuat ya nak ♡

(To be continued)

Thursday, March 30, 2017

Setelah Menikah

Halo! Di postingan sebelumnya aku cerita tentang kehidupan setelah sarjana sampai menikah. Nah, berikut ini lanjutan kisahnya, kehidupan setelah menikah.

Setelah menikah, pastinya banyak yang berubah dari keseharianku walaupun tidak drastis. Mungkin karena aku dan suami memutuskan untuk masih tinggal bersama orangtua. Kenapa masih tinggal bersama orangtua? Kenapa bukan aku yang ikut suami, tapi malah suami yang ikut aku? Tentunya ada beberapa pertimbangan. Pertama, karena aku bekerja di rumah orangtua (sudah diceritakan sebelumnya) dan suami sangat mendukung pekerjaan itu. Kedua, karena aku melanjutkan kuliah dan dengan tinggal di sini kami rasa strategis untuk ke kampus. Lalu bagaimana dengan suamiku yang harus menempuh 60km untuk bekerja? Dengan tinggal sementara di sini, karena lokasinya strategis, jadi akses untuk ke kantornya mudah walaupun jaraknya jauh. Waktu tempuhnya pun masih realistis. Pertimbangan ketiga, karena kita tergolong memulai rumah tangga di usia yang terbilang cukup muda, jadi yang namanya "mulai dari nol" itu ya benar terjadi. Belum punya rumah sendiri. Tadinya sempat terpikir untuk hidup mandiri, kontrak. Sepertinya asik, bisa belajar ngurus rumah, masak-masak, dan dunia milik berdua. Namun, dari saran orang-orang yang telah berpengalaman dan dari orangtua kami, akhirnya kami menanggalkan keinginan itu dulu.

Banyak yang bilang tinggal bersama orangtua itu banyakan tidak enaknya. Tapi kami akhirnya tetap mencoba. Aku tidak pernah memaksa suami, jika suami tidak betah, maka akupun siap untuk pindah sewaktu-waktu. Namun ternyata, kami nyaman tinggal bersama orangtua untuk sementara waktu (pastinya tetap ada keinginan untuk punya rumah sendiri nantinya). Di sini, kami mendapatkan banyak privasi. Lebih seperti tetangga daripada serumah. Apalagi suasana rumah cukup sepi.

Walaupun tinggal di tempat yang sama seperti sebelum menikah, ternyata tetap ada perubahan-perubahan. Pagi-pagi ada kewajiban menyiapkan bekal dan pakaian untuk suami. Tapi tidak pernah repot, karena suami ini pemilih kalau soal makanan pagi, dan makanan yang dia suka sangat tidak merepotkan. Malam-malam makan berdua, nonton tv berdua, atau sekedar tidur-tiduran sambil ngobrol. Tidur pun jadi selalu ada temannya. Sejak menikah sampai sekarang, belum pernah sekalipun tidak tidur bersama suami. Mungkin kalau suami ada tugas ke luar kota nanti aku bakalan mellow banget kali ya, soalnya udah terbiasa bersama. Kalau weekend, kadang jadi lomba tidur untuk kita. Siapa yang bangun paling siang hahaha. Tapi kalau lagi produktif, kita jalan pagi dan jajan-jajan. Siangnya pergi, entah itu belanja, cari hiburan, ke rumah mertua, arisan, kondangan, dll. Sekarang weekend ku selalu banyak acara. Udah nggak pernah lagi bosan-bosan tiap weekend. Kadang kalau lagi pingin, ya di rumah aja seharian nonton film, santai-santai, main game, delivery makanan, pokoknya home date hehe.

Oh ya, yang berubah lagi semenjak menikah adalah kesibukan tambahanku yang memutuskan untuk kuliah lagi. Setiap Senin sampai Rabu, aku rutin ke Rawamangun untuk kuliah. Asiknya, bisa bertemu banyak teman baru dan merasakan pengalaman belajar baru. Walaupun tugasnya banyak banget. Tugas tugas itu tidak bisa dikerjakan sore dan malam hari, karena itu waktunya bekerja. Juga tidak bisa dikerjakan saat weekend, karena banyaknya kesibukan weekend dengan suami. Karenanya, harus curi-curi waktu. Inilah yang membedakan kuliah sesudah menikah dan sebelum menikah dulu. Tiga bulan pertama menikah, rutin sakit setiap bulan. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Karena mungkin badan ini belum terbiasa dengan kesibukan seperti itu. Suami sempat bertanya "kuliahnya capek ya? Apa mau berhenti aja?" tapi aku tetap mau lanjut. Akhirnya, beberapa aktivitas mulai dikurangi. Aku tidak lagi fokus berjualan online, karena butuh waktu juga untuk bungkus-bungkus dan kirim. Selain itu juga mengurangi jam bekerja dan digantikan oranglain. Alhamdulillah, akhirnya bisa sehat lagi. Dan Alhamdulillah dapat titipan dari Allah SWT di dalam rahimku.

Itu hanya dari segi rutinitas. Banyak yang bertanya "gimana nikah? Enak nggak?". Kalau yang aku rasakan, enak banget. Tadinya banyak ragu, karena kalau nikah kok kesannya bakal jadi terkekang, ansos dari pertemanan karena jarang bisa kumpul, belum lagi cerita tentang suami yang suka nuntut ini itu dan cerita tentang mertua galak. Juga ada yang bilang "5 tahun pertama itu cobaan banget loh dalam pernikahan. Soalnya kan kita baru tau buruk2nya pasangan". Tapi yang aku rasakan nggak seperti itu. Aku dibebaskan mengaktualisasi diri, selama itu hal yang positif. Aku tetap bisa kumpul bersama teman-teman. Suami tidak menuntut ini itu, malah banyak membantu. Mertua super baik, gak bawel, bikin betah dan jadi sering main ke rumah mertua. Kalau weekend selalu ada yang menemani, kalau mimpi buruk selalu ada yang menenangkan, kalau galau dan lelah di malam hari selalu ada yang peluk, kalau memulai hari ada yang semangatin dengan pelukan dan kecupan, bisa bebas jalan-jalan ke luar kota, bertualang berdua, dll. Kalau soal baru tau tentang buruk-buruknya pasangan, kayaknya nggak juga. Aaaa pokoknya sangat-sangat bersyukur.

Tapi selain itu, yang namanya dua pribadi yang disatukan, pasti ada perbedaan-perbedaan. Jadi harus belajar untuk menerima perbedaan, belajar sabar, belajar untuk tidak egois. Contohnya kalau di aku, harus nego masalah AC karena yang satu mau adem, yang satu lagi gampang masuk angin. Tentang finansial juga, yang satu suka ngitung-ngitung, yang satu lagi tidak sedetail itu. Yang satu males makan, satunya lagi gak bisa berhenti ngunyah. Yang satu apal jalan, yang satunya bedain kanan kiri aja susah. Yang satu selalu inget naruh barang dimana, satunya lagi pelupa. Dan banyak lagi :D

Tapi kesimpulannya: aku bersyukur tidak menunda menikah ketika ada kesempatan. Dan ternyata semua ragu yang pernah muncul karena cerita-cerita orang, sekarang hilang tak berbekas.

Thursday, March 9, 2017

Kehidupan Setelah Sarjana

Hai! Postingan kali ini sepertinya nggak berfaedah karena hanya bermaksud berbagi cerita aja. Sekalian menjadi online diary yang beberapa tahun lagi bisa kubaca dan kukenang :)

Jadi, apa yang terjadi dalam hidup seorang Arli setelah mendapat gelar sarjana dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia itu? Jawabnya, hanya tetap menjadi Arli (yang insyaAllah pengetahuan, pengalaman, dan kepribadiannya sudah terupgrade dari Arli empat tahun yang lalu).

Juli 2015
Dimulai dari selesai sidang sarjana, aku mulai bersemangat menyambut perjalanan selanjutnya. Semangat membuat CV, dan semangat apply lowongan pekerjaan. Gimana nggak semangat, soalnya apa-apanya dikerjakan bareng Iqbal (yang waktu itu statusnya masih pacar). Rasanya ingin cepat-cepat dapat kerja --> punya penghasilan cukup --> menikah. Disaat teman-teman lain sedang bersemangat melengkapi syarat kelulusan (poster, jilid skripsi, jurnal), kami jadi dua orang yang belakangan melengkapinya karena terlalu excited apply kerja. Karena dengar-dengar dari pengalaman orang-orang, dipanggil tes dan interview itu bisa memakan waktu 2 minggu atau bahkan lebih setelah apply.


Beberapa hari kemudian, masuklah panggilan tes ke email. Ada dua panggilan tes saat itu. Yang satu, lokasinya sulit dijangkau (apalagi aku belum pernah naik bus sendiri pada waktu itu). Akhirnya gak jadi tes. Yang satu lagi, sama juga jauhnya, tapi karena tidak terlalu jauh dari rumah Iqbal, jadi cukup naik bus sekali, lalu bisa diantar. Pertama kali ijin sama orangtua, mereka ngelihatnya agak aneh gitu. Apalagi papa, kelihatan nggak tega anak perempuannya naik bus ke tempat yang lumayan jauh. Mereka cuma bilang "semoga hasilnya yang terbaik". Dari rumah diantar papa sampai tempat naik bus.  Dari situlah baru pertama kalinya merasakan yang namanya naik bus sendiri. Sampai keluar tol, turun dari bus langsung dijemput Iqbal. Setelah ikut tes, sepertinya memang bukan jodohnya kerja di tempat itu. Dan setelah itu, keluarlah statement mama dan papa kalau sebenarnya mereka saat itu kurang srek karena jauh. "Apa harus kayak gitu gitu kerjanya?" "Nggak ada yang deket-deket?" "Kenapa nggak S2 lagi aja, terus jadi dosen?". Pokoknya kayak nggak rela banget. Nggak cuma itu, Iqbal pun kurang srek. Katanya, "aku udah merasakan bolak balik tes dan interview. Semakin aku merasakan, semakin aku merasa itu nggak cocok untuk kamu, by. Belum lagi kalau kita nikah dan punya anak, aku nggak mau kamu kerja kayak gitu. Aku nggak sampai hati bayanginnya. Aku yakin kamu bisa sukses dengan cara lain". Hati kecilpun juga bilang, sepertinya bukan pekerjaan seperti itu yang cocok untukku. Akhirnya setelah itu, nggak pernah lagi apply kerja di perusahaan. Jadi justru disaat teman-teman lagi aktifnya apply kerja, diriku malah berhenti apply.

Agustus 2015
Setelah itu, tiba-tiba terbersit ide untuk bisnis online. Simpel sih, gara-gara waktu itu lagi seneng banget sama lipstik dan pingin banget punya semua warnanya tapi mahal dan sayang dong kalo beli semua haha. Akhirnya bilang ke Iqbal pingin deh jualan lipstik, nanti kalo nggak laku, jadi buat aku deh haha. Jadi bener-bener buat iseng aja. Gara-gara ngomong gitu, jadi Iqbal yang lebih excited buat mewujudkan jualan online itu. Karena masih takut-takut, akhirnya dimulai dengan modal yang sangat sedikit, kita cuma stock 7 buah lipstik. Warnanya pun yang kusuka, jadi kalau gak laku, bisa untuk aku haha. Tapi Allah berkata lain ya, dan ternyata laku. Akhirnya jualan online itu jadi kesibukan kita berdua setiap hari setelah wisuda sambil Iqbal ikutan tes dan interview kerja. Pengalaman yang menyenangkan untuk kita berdua, setidaknya bisa jadi uang jajan kita selama jadi pengangguran dan bisa jadi alasan untuk ketemu hahaha.


*Lama kelamaan, usaha ini berkembang dan bisa jadi tabungan kita untuk belanja hantaran nikah dan untuk jalan-jalan keluar kota setelah nikah. Tapi sekarang lagi berhenti (nanti diceritain kenapa).

September 2015
Karena waktu itu mengisi luang sambil mengajar privat, aku mulai tahu bahwa pekerjaan yang kusukai adalah mengajar dan bertemu anak-anak. Akhirnya terpikirlah untuk membuka semacam bimbingan belajar privat kecil kecilan di rumah. Teras rumahku, disulap menjadi sebuah ruang kelas yang nyaman. Itulah ruang kerjaku sekarang. Saat ruang kelas itu sudah jadi, ada ketakukan tersendiri apakah akan ada muridnya? Apakah ruang kelas ini nantinya akan bermanfaat?


Oktober 2015
Kini Iqbal sudah dapat kerja, di sebuah perusahaan di KIIC, Karawang. Kita tidak lagi sering bertemu. Ia tidak lagi bisa membantuku untuk membungkus kiriman dagangan dan menemaniku ke JNE. Ia juga tidak lagi bisa membantu mempersiapkan "kelas kecil"ku. Rasanya benar-benar resah disini.


Tapi keresahanku itu akhirnya dijawab oleh Allah. Aku dapat murid yang ingin belajar di "kelas kecil" ku. Aku senang walaupun baru satu orang. Setelah itu, promosi "kelas kecil"ku menyebar dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, setiap Senin sampai Jumatku, "kelas kecil" itu selalu jadi tempat berbagi ilmu. Selalu diisi oleh anak-anak yang datang jam 4 sore dan jam 7 malam. Rasanya benar-benar bersyukur bisa bekerja di rumah. Rasanya benar-benar bersyukur Allah menuntunku mengambil jalan ini. Besar harapanku nantinya bimbingan belajar privat dan kelompok ini bisa berkembang dan punya tempat sendiri.

Selain itu, di bulan ini, Iqbal menghadap orangtuaku untuk meminta ijin menikah. Tak usah ditanya betapa bahagia dan bersyukurnya aku padahal kami belum 1 tahun pacaran.

Desember 2015
Selain mengajar, aku beberapa kali diminta jadi guru pengganti dan guru tambahan di sebuah sekolah. Akhirnya terpikir untuk menjadi guru sekolah. Awalnya orangtua bertanya, "kenapa nggak jadi dosen aja?". Tapi setelah dijelaskan kalau aku lebih suka bertemu anak-anak, akhirnya mereka mengerti. 


Akhirnya kucoba untuk apply kerja di sekolah. Saat itu, dikatakan bahwa aku tidak bisa jadi guru karena terbentur peraturan pemerintah yang ada, yang mana guru harus S.Pd. Sedangkan yang namanya akta IV (program yang bisa diambil apabila sarjana dari non kependidikan ingin menjadi guru) sudah tidak ada lagi. Kemudian disarankan untuk buka lembaga pendidikan non formal, atau kuliah lagi untuk gelar M.Pd. Saat itu sempat terpikir, "Ah masa sih harus S.Pd? Banyak kok teman-temanku yang jadi guru di sekolah padahal bukan bergelar S.Pd. Mungkin kalau aku apply di sekolah yang lain, ada yang bisa menerima".

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin aku memang perlu ambil S2 kependidikan. Bukan sekedar untuk gelar, tapi aku ingin tahu bagaimana caranya menjadi guru yang benar, bukan hanya sekedar paham materi ajar seperti yang saat itu kulakukan. Jika tidak untuk menjadi guru sekolah, mungkin dengan ilmu yang kudapat dari S2, aku bisa menerapkannya dalam mengajar murid-muridku di "kelas kecil", atau untuk mendidik anak-anakku kelak. Akhirnya aku semakin mantap untuk S2 di UNJ prodi Teknologi Pendidikan.

Januari-Maret 2016
Setelah itu, aku langsung semangat untuk kuliah lagi. Mencari-cari info jurusan, universitas, dan beasiswa. Persyaratan untuk beasiswa dan masuk kuliah mulai kupersiapkan. Dan akupun sudah diterima di Universitas yang kutuju.Tetapi mungkin memang bukan rejekiku untuk dapat beasiswa, karena jika aku dapat beasiswa yang kuincar, maka aku baru bisa kuliah tahun depan (ya, karena ini semua rencana mendadak, jadi aku belum mempersiapkan beasiswa dari tahun sebelumnya). Aku siap menunggu tahun depan, tapi orangtuaku tidak setuju. Kelamaan, kata mereka. Alhamdulillah, mereka sangat semangat anaknya segera S2 dan Alhamdulillah rejeki keluarga kami dicukupkan sehingga aku tetap bisa kuliah mulai September nanti :)


Agustus 2016
Arli & Iqbal kini resmi menjadi pasangan suami istri. Kami memasuki babak baru dalam hidup kami, yang akan aku ceritakan di postingan selanjutnya :)

Tuesday, February 28, 2017

Ibu Rumah Tangga vs Ibu Wanita Karir

Berhubung sekarang sudah memasuki usia 22 tahun, sudah banyak disekitarku yang menikah. Termasuk aku. Diantara yang sudah menikah, sebagian menjadi ibu rumah tangga dan sebagian lagi meneruskan karirnya. Keduanya sebenarnya sama-sama baik, namun sayangnya, banyak yang saling menjelekkan satu sama lain hanya untuk membuktikan bahwa ibu rumah tangga adalah yang terbaik, atau ibu wanita karir adalah yang terbaik. Hal yang sangat disayangkan, wanita yang memiliki peran yang sama sebagai seorang ibu dan bisa lebih baik jika bersatu, malah saling menjelekkan dan menyindir untuk mendapatkan predikat ibu terbaik. Padahal semua ibu luar biasa.

Ibu rumah tangga bukanlah pengangguran. Menjadi ibu rumah tangga, berarti mendedikasikan hidup untuk bekerja dirumah. Bukan karena tidak bisa mencari kerja, sama sekali bukan. Karena banyak ibu rumah tangga yang menyimpan ijazah pendidikan tingginya (walaupun dari universitas ternama). Ia mengorbankan ijazah yang didapatnya dengan susah payah dan dengan biaya yang tidak sedikit untuk mengabdi dirumah. Bukan untuk santai-santai, atau untuk sekedar menghabiskan uang suami. Tapi untuk mengurus keperluan dirumah yang sebenarnya juga membutuhkan pemecahan masalah. Karena itulah ia tahu bahwa kuliahnya tidak sia-sia, karena pendidikan yang ditempuhnya dulu memang melatihnya untuk membuatnya mandiri dan melatih pikirannya untuk menyelesaikan persoalan yang kelak dapat digunakan dalam menghadapi hidup ini.

Ia menghabiskan waktunya dirumah untuk membereskan rumah agar tetap rapi dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga. Ia bersihkan rumah agar seluruh anggota keluarga terbebas dari penyakit akibat rumah yang kotor. Ia menyediakan keperluan semua anggota keluarga. Ia menyiapkan makanan. Ia mendidik anak-anaknya dan menanamkan nilai-nilai yang baik. Ia membantu anaknya belajar. Terkadang ia harus mengantar atau menjemput anaknya ke sekolah atau ke tempat les. Setelah malam tiba pun, ketika anak-anaknya sudah terlelap, ia belum bisa beristirahat karena masih mempunyai kewajiban terhadap suaminya. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di rumah untuk rutinitas yang sama. Untuk bertemu teman-teman pun banyak hal yang menjadi pertimbangan. Hal ini beresiko membuatnya sangat jenuh. Hanya bertemu dengan anak-anak dan suaminya. Itupun anak-anaknya belum bisa diajak berbicara untuk sekedar curhat. Sedangkan suaminya selalu pulang malam. Betapa beratnya menjadi ibu rumah tangga.

"Ah, hanya bersih-bersih, rapi-rapi, dan masak, itu kan tugas pembantu. Suami kan cari istri, bukan cari pembantu, yang penting istri pintar dan bisa membantu suami mencari nafkah". Itulah kata-kata menyakitkan yang kadang diucapkan oleh sesama ibu di luar sana. Tanpa berpikir, siapa tahu memang keluarga itu belum atau tidak mampu menggaji pembantu? Atau siapa tahu mereka mampu, tetapi ingin mencari ridho sebanyak-banyaknya dan itu dirasa bisa didapatkannya dengan mengabdi dirumah? Siapa tahu suaminya tidak ingin istrinya bersusah payah menghadapi kemacetan diluar sana untuk ke kantor, mendapat beban pekerjaan yang besar, dimarahi atasan, dan pulang lebih malam daripada suami?

Tapi, tidak jarang pula ibu rumah tangga yang memiliki pembantu. Tapi tetap saja tak lepas dari sindiran. Kali ini datangnya dari ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu. "Ibu sih enak, kalau saya tidak pakai pembantu, jadi apa-apa saya kerjakan sendiri". Kadang ada nada menyakitkan, seolah-olah merasa paling hebat karena mengurus semuanya tanpa bantuan pembantu dan menganggap rendah ibu yang memakai jasa pembantu. Padahal, siapa tahu ia memang ingin lebih fokus mengurusi pendidikan anak-anaknya sehingga masalah bersih-bersih dan masak bisa diserahkan ke orang lain. Siapa tahu juga dia memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan, sehingga daripada ia sakit dan merepotkan anggota keluarga, lebih baik menggunakan jasa pembantu agar ia tetap sehat. Siapa tahu juga ada pekerjaan sampingan yang dikerjakannya untuk membantu suami (walaupun tetap dirumah). Dan siapa tahu suaminya tidak bisa membantu pekerjaan rumah (dinas di luar kota dan jarang pulang misalnya), sedangkan ibu rumah tangga yang tidak memiliki pembantu masih ada suami yang bisa membantu sedikit.

Bukan, bukan berarti aku hanya membela ibu rumah tangga. Karena sering pula ibu rumah tangga berkata kepada ibu wanita karir. "Enaknya yang gak harus capek dirumah ngurus ini itu. Enaknya gak jenuh dirumah. Enaknya bisa kabur dari urusan rumah. Di rumah kan lebih berat daripada di kantor". Atau "Gitu lah kalau ibunya kerja, anak-anak jadi tidak keurus, prestasi menurun. Nantinya tidak sesukses anak anak yang ibunya ada dirumah". Hal itu sangat menyakiti hati ibu wanita karir. Seolah-olah ia tidak memikirkan kepentingan keluarganya. Seolah-olah ia lebih mementingkan mencari uang daripada mengurusi keluarganya. Padahal menjadi ibu wanita karir adalah pekerjaan yang sangat berat.

Pagi hari, jauh lebih pagi dari yang lain, ia sudah harus menyiapkan makanan untuk keluarganya dan menyiapkan keperluan-keperluan lainnya. Tidak boleh kesiangan sedikit, karena ia pun harus segera berangkat kerja. Ia juga harus memastikan anak-anaknya sudah diantar ke sekolah dengan selamat dan tepat waktu. Kemudian ia harus berjuang untuk bisa sampai ke kantor. Naik mobil menerpa kemacetan kota; atau naik angkutan umum yang kadang membuatnya berdiri berdesakkan sepanjang perjalanan; atau naik motor yang membuat pinggangnya pegal, badannya terkena angin, bahkan kepanasan dan kehujanan. Sesampainya di kantor, ia harus berhadapan dengan beban pekerjaan. Beban itu bertambah karena sambil memikirkan anak-anaknya: sudahkah anakku pulang dengan selamat? Sudahkah anakku sampai di tempat les? Ketika ia pulang ke rumah, boro-boro bisa beristirahat. Ia harus menebus waktu yang tidak ia habiskan dirumah. Ia harus menemani anak-anak, ia harus mengurus rumah yang seharian tadi ia tinggalkan. Ia harus melakukan kewajiban terhadap suami dan tetap mendengarkan keluh kesah suami dan menanggapinya dengan baik (walaupun ia sendiri juga mengalami hari yang buruk di kantor).

Semua itu ia lakukan, bukan semata-mata ingin mencari uang dan tidak mementingkan keluarga. Bukan pula ingin kabur dari kewajiban-kewajiban dirumah. Semua itu ia lakukan karena ingin membantu suami, ingin tidak menyulitkan suami dalam hal finansial dan suami pun mengijinkan, ingin anak-anak bisa mendapatkan fasilitas terbaik. Dan apabila untuk memenuhi itu ia harus bekerja, maka itulah yang dilakukannya walaupun ingin rasanya hati lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak.

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga dengan pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat untuk anak-anaknya. Aku juga tahu ibu temanku yang seorang ibu rumah tangga tanpa pembantu, dan ia adalah ibu yang hebat. Aku juga tahu ibu temanku yang bekerja sebagai wanita karir, dan ia adalah ibu yang hebat.

Betapa besarnya peranan seorang ibu. Semua ibu di dunia ini adalah ibu-ibu yang hebat. Terlepas ia adalah ibu rumah tangga, ataupun ibu wanita karir, ia pasti akan tetap menjadi kebanggaan keluarganya tanpa harus ia merendahkan ibu-ibu yang lainnya. Semua ibu punya perjuangannya masing-masing yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Jadi daripada saling menyindir dan merendahkan, lebih baik bersatu dan saling menutupi kekurangan. Karena semua ibu itu hebat ❤

Monday, February 20, 2017

Printilan Pernikahan

Assalamu'alaikum, dear readers :)

Di post sebelumnya sempat bilang pingin bahas masalah printilan pernikahan di postingan selanjutnya. Jadi, disinilah kita.

1. Gedung

Gedung lokasi pernikahan ini memang hal yang sangat krusial bagi para calon pengantin. Terkadang, sebelum lamaran pun para calon pengantin sudah survey dan booking gedung. Maklum, antrian gedung di Jakarta kadang memang lama. Bahkan ada yang harus pesan 1 tahun sebelumnya. Untuk menetapkan tanggal pernikahan pun terkadang gedung yang jadi patokannya. 

Aku ingat bulan November 2015 adalah pertamakali munculnya wacana untuk menikah. Rencana pernikahannya Desember 2016. Sejak itu pula, aku memulai pencarian gedung (dari mulai browsing-browsing, sampai datang langsung). Kriteria gedungnya waktu itu cari yang kapasitasnya tidak terlalu besar (sekitar 300 undangan), dekat rumah (daerah Cijantung dan sekitarnya), dan masuk budget. Sempat mendatangi Gedung Chandraca Kopassus, Gedung Puspa Pesona (Taman Anggrek, TMII), Departemen Pertanian. Tapi nggak jadi semuanya karena beberapa pertimbangan:

Gedung Chandraca Kopassus ukuran dan budgetnya memang sesuai, tapi parkirannya kurang luas, dan ruang rias, toilet, dll nya kesannya tua. Gedung Puspa Pesona, takutnya terlalu kecil ukurannya dan hawanya panas kalau untuk acara siang. Departemen Pertanian sedang direnovasi. Setelah itu sempat berpikir untuk di Wisma Antara (dulu masih kepingin yang berkarpet), tapi terlalu jauh terutama untuk keluarga dari Bekasi. Sempat berpikir di Cawang Kencana, tapi ribet naik-naik tangga. Lalu ke Aula Al Kautsar, PKP, tapi susah aksesnya untuk tamu undanga. Setelah itu datang ke Wedding Festival di JCC bulan Desember 2015. Sempat tertarik dengan Gedung Film, Cinema Wedding Hall, tapi parkirannya sempit. Ya, intinya cukup banyak sih sebenarnya gedung yang sempat menjadi opsi.

Pada bulan Januari 2016, ada beberapa hal yang membuat agak pesimis bisa melangsungkan pernikahan di bulan Desember 2016. Akhirnya jadi agak-agak malas cari-cari gedung dan persiapan pernikahan. Akhirnya berhentilah pencarian gedung dan berhenti juga excited dengan persiapan pernikahan. Pokoknya setelah masuk bulan Januari itu, benar-benar tidak terpikir akan menikah kapan. 

1 bulan kemudian, Februari 2016. Ada pemberitahuan dari keluarga CPP bahwa mereka akan datang melamar di bulan April 2016. Bahkan setelah pemberitahuan itupun, aku dan keluargaku belum memulai segala persiapan pernikahan karena memang tanggal pernikahannya masih entah kapan (bisa saja masih 1 tahun kedepan). Memasuki bulan April 2016, seminggu sebelum lamaran, orangtua kami membicarakan mengenai tanggal pernikahan. Tanpa disangka-sangka, ternyata pernikahan kami akan dilaksanakan 4 bulan lagi!

Disitulah mulai terjadi kepanikan. Gedung mana yang masih available H-4 bulan? Jumlah tamu undangan pun ingin ditambah, dari yang tadinya 300 undangan menjadi 600 undangan. Gedung-gedung yang sebelumnya pernah menjadi opsi pun seakan hilang dari ingatan. Kami langsung mencoba menghubungi pihak Gedung Balai Komando Kopassus. Alasannya karena dekat rumah, parkiran luas, sesuai budget, dan sesuai jumlah undangan. Tapi sayangnya. Balai Komando sudah full sampai Februari 2017. Akhirnya kami mencoba menghubungi pihak Gedung Dharmagati, Ditbekang-AD, Kramat Jati. Ternyata masih bisa di bulan Agustus dan ada tanggal kosong 14 Agustus 2016. Walaupun belum survey, akhirnya kami booking duluan supaya tanggal tersebut tidak diambil orang. Dan ditetapkanlah tanggal pernikahan 14 Agustus 2016.

Beberapa hari kemudian, barulah kami survey. Gedungnya rapi, baru direnovasi, parkirannya luas, lantainya dan dindingnya polos (sehingga sesuai untuk dekorasi apapun). Tapi terdapat beberapa kekurangan, yaitu kapasitasnya lebih kecil daripada jumlah undangan kami, AC nya pun saat itu sedang rusak. Namun, kami diyakinkan bahwa bisa dicari solusinya, yaitu dengan memanfaatkan lapangan tenis indoor di sampingnya, sehingga menjadi lebih luas. AC nya pun akan dibenahi. Sayangnya, 1 minggu menjelang hari H, kami tiba-tiba dapat kabar bahwa lapangan tenis tidak bisa dipakai. Padahal sudah dikonsep tata letak dan dekorasi sedemikian rupa. Undangan pun sudah disebar (tidak mungkin untuk mengurangi tamu). Akhirnya, kami ditawarkan untuk membuat tenda tambahan di luar (yang akhirnya menjadi kurang terpakai karena terpencil dan kurang diketahui tamu undangan). Akhirnya suasana di dalam gedung pada saat hari H terlalu ramai (huhu maaf ya untuk teman-teman yang hadir waktu itu dan merasa sumpek, ini akibat kesalahan teknis).

Namun, untuk masalah AC Alhamdulillah teratasi karena AC nya telah dibetulkan, namun kami juga tetap menambah beberapa AC. Namun, AC di ruang pengantin masih rusak sehingga kamar pengantin saat itu agak gerah, solusinya, hanya pengantin dan perias saja yang bisa masuk (karena kalau terlalu banyak orang akan kekurangan oksigen). Semoga sekarang sudah dibenahi :) Jika sudah dibenahi, saya merekomendasikan gedung ini untuk teman-teman yang jumlah undangannya sekitar 300-400 undangan. Jangan sampai lebih dari 500 karena kepenuhan menurutku (walaupun ada beberapa teman yang menyatakan tidak kepenuhan saat hari H acara, entah menghibur atau tidak hehehe).

2. Catering dan Dekorasi

Waktu itu sempat datang ke acara pernikahan teman papa, dan beliau menggunakan jasa Aisyah Catering. Rasanya enak, menu beragam, dekorasi bagus, crew nya pun cekatan, harganya juga tidak overpriced. Kemudian, ketika mencoba menanyakan rekomendasi pihak gedung, ternyata pihak gedung juga merekomendasikan Aisyah Catering (katanya paling sering dipakai di gedung itu). Beberapa minggu kemudian, kami datang untuk test food dan memang rasanya konsisten. 

Kalau ditanya "makanan pas hari H cukup atau enggak?" itu sebenarnya bukan permasalahan dari cateringnya, ya.. tetapi tergantung kita nya. Mau pakai catering sebagus apapun kalau kitanya pesan porsinya terbatas, ya akan kekurangan makanan. Jadi, pastikan kita sendiri yang jeli untuk menentukan jumlah porsinya. Aku sarankan jangan hanya mengikuti paket yang ditawarkan, karena jumlahnya pas-pasan dan sangat mungkin untuk kurang saat hari H. Karena, paket yang ditawarkan biasanya dihitung jumlah undangan dikalikan dua. Padahal satu undangan belum tentu yang datang hanya dua, bisa saja membawa keluarganya lengkap. Selain itu, porsi di paket diseimbangkan antara buffee utama dan pondokan. Padahal, tamu undangan banyak yang lebih tertarik kepada pondokan. Kalau hal ini tidak diantisipasi, tamu undangan tidak akan kebagian makanan pondokan. Hal ini tentunya cukup mengecewakan, apalagi yang sudah antri tetapi tiba-tiba kehabisan makanan.

Karena itu, pastikan porsi makanan yang kamu pesan cukup. Jangan lupa juga untuk memilih pihak keluarga untuk mengawasi catering. Sehingga dapat dipastikan bahwa makanan yang dikeluarkan jumlahnya telah sesuai dengan yang dipesan. Namun, berdasarkan pengalaman saya, catering Aisyah ini jujur kok :)

Sempat mendengar komentar seperti ini juga "iya makanannya gak habis, karena kan keluarga militer, jadi cateringnya enggak berani nakal". Bukan begitu yaaa, teman-teman. Ingat, semua tergantung kita yang memesan. Bukan hanya karena pihak catering nakal atau enggak.

Untuk dekorasi, mba Aisyah juga dapat membuat keinginan kita menjadi nyata dengan baik. Tapi, semua itu juga tergantung budget, jangan sampai ingin harga seperti di paket namun permintaannya macam-macam. Mba Aisyah bisa sangat fleksibel sesuai dengan keinginan kita. Terkadang mba Aisyah pun bisa memberi saran apabila kita tidak punya ide, Kita bisa meminta mengurangi dan menambah dekorasi sesuai keinginan kita. Misalnya tidak ingin pakai flower standing yang terlalu banyak, bisa dikurangi. Atau ingin mengupgrade bunga di pelaminan, bisa ditambah. Untuk harganya akan disesuaikan. Waktu itu mba Aisyah juga memberikan bonus-bonus. Diantaranya, bonus blower fan. Selama proses penyusunan konsep dekorasi, mba Aisyah juga sangat sabar mendengarkan kemauan kita. Hasilnya pun memuaskan! :)

(foto foto ada di postingan sebelumnya)

3. Prigel Foto

Pertama kali menemukan prigel ini di google sebenarnya. Waktu itu sedang mencari vendor foto yang bisa menangkap momen-momen penting dengan baik dan sekaligus bisa membuat wedding video tapi yang harganya terjangkau (dibawah 10juta). Sempat pesimis akan menemukan sih, karena waktu ke Wedding Festival di JCC kan vendor fotonya mahal mahal (bisa puluhan juta), walaupun pingin banget, tapi harus realistis juga. Walaupun realistis, tetep doong harus cari yang bagus, karena dokumentasi itu penting, soalnya nanti ketika hari H sudah berlalu dan sudah banyak biaya yang terbuang, yang tersisa untuk kita hanyalah kenangan tentang momen itu. Makanya, penting banget untuk didokumentasikan dengan baik.

Setelah menemukan di google, lihat-lihat website nya, dan lihat-lihat wedding video nya, akhirnya kami mencoba datang ke kantornya di jalan margonda (ah, pas sekali tidak terlalu jauh dari rumah). Ternyata tempatnya masuk gang, agak susah, tapi nggak menjadi masalah untuk kami. Prigel ini juga bisa jadi opsi untuk foto prewedding. Tapi kami memang tidak memakai foto prewedding.

Sewaktu hari H, tim prigel datang tepat waktu dan langsung mengeksplorasi gedung. Tim prigel juga dengan cekatan mencuri-curi momen untuk memfoto dan memvideokan. Itu sangat penting bagiku karena pagi hari di hari H suasananya sangat sibuk dan tidak sempat untuk foto-foto cantik. Alhamdulillah, tim prigel berinisiatif untuk mencuri-curi candid. Jadi, momen nya tidak terlewatkan. Kami juga tidak sempat shoot adegan-adegan untuk dramatisasi di video, tapi tim prigel mengisinya dengan hal lain sehingga tetap bagus. Tim prigel juga dengan sabar dan cekatan memfoto kami dengan para tamu undangan yang sangat banyak.

Pada akhirnya, kami mendapatkan hasil album yang bagus. Albumnya dikemas dalam laci, dan juga terdapat foto besar kami, undangan, souvenir pernikahan kami, soft copy foto dan video. Jadi semua dokumentasi hari bahagia kami terkemas rapi. Untuk tahu selengkapnya, tentang apa-apa yang bisa didapat, kamu bisa langsung kunjungi website prigel foto klik disini.

4. Rias & Sewa Baju

Ini hal penting juga dalam pernikahan kamu. Karena ini acara seumur hidup sekali, dan kalau hasilnya mengecewakan dan nggak cocok di kamu, penyesalannya bakal berminggu-minggu loh. Makanya, harus banget cari yang sesuai sama kamu.

Untuk rias dan sewa baju, aku pakai Widya Busana. Disini aku benar-benar pakai semua jasanya. Dari mulai sewa baju akad, baju resepsi, jahit baju mama dan adik, sewa baju untuk duo papa dan saudara laki-laki, rias pengantin, rias orangtua, rias saudara, penerima tamu, dan lain-lain. Kebetulan, yang punya Budeku. Jadi mungkin kurang objektif juga yaa kalau aku review. Tapi hasilnya bisa dilihat sendiri di foto-foto pernikahan di postingan sebelumnya. Kalau tertarik, bisa menghubungi aku, nanti aku kasih kontaknya :)
.
5. Undangan

Waktu itu cari undangan gak mau repot, langsung datang ke tempat pembuatan undangan di sepanjang jalan Kramat Jati kan banyak ya hehe. Entah kenapa waktu itu datangnya ke Tifa Grafika. Disana banyak model-model undangannya. Banyak banget deh pilihannya. Harganya juga termasuk murah. Dan juga boleh bawa desain sendiri tanpa ada tambahan biaya (kecuali untuk penambahan tinta emas, misalnya).

Pingin deh punya undangan yang desain nya khusus untuk kita. Alhamdulillah nya, punya sepupu yang bergerak di bidang desain euy, namanya mas Ditra. Mas Ditra ini foundernya Deco Creative Studio juga, bisa liat-liat karyanya di sini. Akhirnya dibikinin desain undangannya sama Mas Ditra. Sukaaa banget, sesuai keinginan :)



6. Souvenir

Waktu itu sempat males banget keluar untuk cari souvenir, akhirnya beli online. Namun setelah dua kali beli online dan hasilnya nggak sesuai sama yang kita inginkan, akhirnya nggak lagi-lagi deh. Mungkin memang harus dibeli langsung untuk souvenir, supaya sesuai harapan dan nggak pemborosan lagi. Akhirnya, hasil pencarian di google, ada toko souvenir yang nggak jauh dari rumah, namanya IF Souvenir di daerah Gongseng.

Disana banyak pilihan souvenir-souvenir bagus dengan berbagai range harga. Masnya pun ramah meladeni kami yang galau memilih dan kami ternyata satu almamater. Hehehe. Pada akhirnya, kami memilih souvenir taplak meja kecil dan hasilnya memuaskan! :) Oh ya, ternyata IF Souvenir cukup eksis di instagram juga. Bisa dicek account nya disini.

7. Hantaran

Walaupun kita dari pihak perempuan, tetap lah ada hantaran untuk pihak laki-laki. Jadi, hal ini nggak bisa diabaikan. Pastinya kita juga ingin mengemas dengan baik kaaan. Waktu itu, kami minta tolong seorang ibu persit yang kreatif untuk mengemas dan menghias hantaran kami. Untuk kamu yang tinggal di sekitar Cijantung dan butuh jasa menghias hantaran, bisa hubungi aku juga ya, nanti ku kasih kontaknya :)


Gemas gemas <3
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekian cuap-cuap mengenai printilan pernikahan. Semoga bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang lagi jadi calon pengantin :)

Wassalamu'alaikum.

Tuesday, February 7, 2017

#arliqbalmoment Part 2 (Akad Nikah & Resepsi)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Pagi yang sibuk. Sehabis Subuh, rumah sudah rapi menyambut kedatangan keluarga-keluarga jauh dari Ponorogo. Senang rasanya bisa berkumpul bersama di Jakarta. Lebih senang lagi karena tau bahwa alasan kedatangan mereka itu karena kita. Gak hanya keluarga dari Ponorogo, nenek tercinta (mamah ati) pun datang sambil membawa berbagai macam bunga hasil belanja di Rawabelong malam sebelumnya. Dengan cekatan, mamah ati langsung merangkai bunga-bunga itu, membuat wedding bouquet yang sangat cantik untuk Arli serta menata bunga untuk kamar pengantin. Arli udah bilang sebelumnya bahwa Arli nggak akan menghabiskan malam pertama di kamar itu karena mau langsung honey moon, tapi mamah ati tetep kekeuh, katanya "Nggak apa-apa, nanti kan sepulang dari sana kamarnya masih wangi. Buat malam ini juga, supaya calon pengantinnya bisa tidur nyenyak" <3

(kiri: bunga kamar pengantin; kanan: wedding bouquet)

Siangnya, rumah mulai sepi karena keluarga Ponorogo lagi diajak wisata Jakarta hehehe. Mumpung lagi sepi, jadi Arli bisa hena-an. Didatengin ke rumah sama sist Sabika (@sabikaamanyhenna). Tau sist Sabika ini gara-gara dulu dia sering beli lipstik di online shop Arli (@zayna_store), dan dulu dia pernah promosi tentang henna nya tapi Arli nya belum pingin nikah. Nah, pas pingin nikah, akhirnya teringat tentang henna. Ingetnya mepet, tapi Alhamdulillah ternyata jadwalnya masih kosong jadi bisa kerumah H-1. Orangnya ramah banget dan I'm so much in love with the result! <3 Terus juga dikasih kelap kelip untuk mempercantik gitu untuk ditempel di tangan besok pas nikah.

(Hasil henna @sabikaamanyhenna)

Malamnya, Mama, Papa, dan Saras survey ke lokasi pernikahan kami untuk memantau pengerjaan dekorasi. Alhamdulillah, hari Sabtu malam itu nggak ada yang pakai gedungnya, jadi sudah mulai bisa didekorasi dari malam. Arli nggak ikut karena biar calon pengantin bisa cepet tidur karena besok bakal capek katanya.

Minggu, 14 Agustus 2016

Akhirnya pagi juga, setelah semalaman tidur nggak nyenyak (antara excited, deg-degan, dan sedikit gak percaya kalau malam itu terakhir kalinya tidur sendirian as a single). Bangun jam 3 pagi tanpa ada yang bangunin dan tanpa alarm (se-nggak-nyenyak-itu tidurnya). Langsung mandi, pakai baju ala kadarnya, tanpa dandan sama sekali (karena mau didandanin). Tak lupa bawa wedding bouquet yang kemarin, dan bawa perlengkapan untuk honey moon (karena rencananya pulang dari gedung nggak pulang ke rumah lagi).

Sampailah di Gedung/Aula Dharmagati Ditbekang-AD (di Kramat Jati) sebelum adzan Subuh. Karena Mbak Astrid (sepupu & MUA) dan Bude Yati (Bude & MUA) belum datang, kita sempat lihat-lihat dekorasi dulu dan Arli benar-benar kagum sama dekorasinya karena benar-benar diluar ekspektasi. Thanks to Mba Aisyah (Aisyah Catering) yang kebal dicerewetin sama mama yang pingin ini pingin itu (pingin bunganya seger-seger, pingin bunganya dirangkainya mengkel-mengkel, pingin pelaminan gebyok, pingin gak pake palem, pingin gak usah ada dekor foto-foto, dll dll), tapi ternyata beneran bisa terwujud. Bahkan di pagi itu, mba Aisyah masih ngasih opsi "Bu, itu gimana pelaminannya? Ada yang kurang srek, nggak?". Dan sesuatu yang kurang srek itu ternyata bisa diperbaiki langsung. Ah, pokoknya suka banget sama dekornya! <3





Setelah Subuh, Mba Astrid dan Bude Yati akhirnya datang. Kita bertiga langsung sibuk di ruang rias pengantin. Sedangkan Mama, Papa, dan Saras ada di ruangan yang berbeda dan dirias oleh timnya Bude Yati. Make up nya benar-benar detail dan bikin flawless padahal waktu itu lagi ada jerawat super gede yang bikin Mba Astrid kerepotan hehe. Habis rias, langsung pakai baju akad yang dibawakan juga sama Bude Yati. Tak lupa juga nempelin kelap-kelip yang dikasih sama sist Sabika kemarin di tangan. Setelah ganti baju, Mas Agus sama Mas Hendry dari Prigel Foto (@prigelfoto) masuk ke ruang rias pengantin untuk mendokumentasikan proses rias. Mas Agus sibuk foto-foto, sedangkan Mas Hendry sibuk rekam video. 

Tiba-tiba, pas kita belum selesai-selesai banget, udah ada kabar kalau pengantin pria dan keluarganya udah datang. Langsung deg-degan dan dikebut deh finishingnya (tapi memang sudah mau selesai sih). Di luar sana, prosesi pernikahan sudah dimulai. Prosesi pernikahan kita simple. Kita memang ingin ada sentuhan adat Jawa, tapi nggak semuanya adat Jawa kita ambil. Sudah disesuaikan sedemikian rupa supaya simple. Oh iya, dalam menjalani prosesi pun kita belum pernah gladi resik, jadi benar-benar nggak tau harus apa harus apa. Untungnya, ada Pak Paryoto (MC berpengalaman rekomendasi Bude Yati). Dia benar-benar hapal susunan acaranya dan memandu acara dengan baik. Oia saat prosesi dimulai, penghulu belum datang. Tapi Alhamdulillah penghulu datang tepat sebelum pengantin pria, papa, dan saksi tiba di meja. 

Setelah pengantin pria, papa, penghulu, dan saksi sudah menempati posisi, barulah Arli dijemput ke posisi oleh Mama. Saat itu benar-benar kikuk, deg-degan, sambil mencoba melihat sekeliling sebanyak mungkin (pingin tau siapa aja sahabat-sahabat yang datang di akad). Ternyata banyak yang datang saat akad dan banyak wajah-wajah sahabat yang menenangkan hati yang deg-degan dan bikin senyum. Se-berharga-itu kehadiran mereka buat gue walaupun belum bisa menyapa mereka langsung satu persatu :') Sebelum akad, Arli membacakan permohonan ijin ke Papa. Nah ini momen dimana orang-orang banyak mulai nangis-nangis. Tapi karena Papa ekspresinya cool dan memang hubungan Arli dan beliau itu bukan tipe hubungan yang drama dan romantis, jadilah Arli nggak nangis, Tapi tangisan itu nggak bisa ditahan saat disuruh ijin ke mama dan dipeluk mama. Belum apa-apa udah berkaca-kaca cuma gara-gara mama bilang "hati-hati ya, nduk". Berasa banget mau 'pisah' nya walaupun rencananya Arli dan Iqbal masih tinggal bareng mama papa. 

Setelah permohonan ijin, akhirnya berlangsunglah akad nikah. Alhamdulillah, akhirnya kami sah menjadi sepasang suami istri dan hal ini sulit diungkapkan dengan kata-kata sih sebenernya. Rasanya.. gitu deh pokoknya kalian yang belum nikah nanti pasti bakal ngerasain that magical feeling. Kalau yang udah nikah, pasti tau gimana rasanya :) Cuma bisa bersyukur dan tersenyum lega Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..





Setelah akad, tiba-tiba diumumkan ada acara sungkeman. Nah! yang ini benar-benar belum dikasih tau sebelumnya! Agak-agak deg-degan dan kikuk karena gak tau harus ngapain. Bahkan pas mau sungkeman, sempat diledek sama orang-orang "itu istrinya digandeng dong, udah sah kok" hahaha. Tapi ternyata sungkeman itu memang gak butuh latihan ataupun teori-teori. Semua berjalan natural, apa adanya, dan benar-benar dari hati. Sebuah momen yang sangat menguras perasaan dan udah nggak peduli itu make up luntur atau enggak (untungnya enggak). Setelah acara sungkeman, karena waktunya mepet, jadi nggak bisa banyak foto-foto. Harus segera kembali ke ruang rias untuk persiapan resepsi.



Sekarang di ruang rias pengantin bukan hanya ada Arli, Bude Yati, dan Mba Astrid, tapi juga ada Iqbal. Sebelum ganti baju, sempat foto-foto lagi sama Iqbal di ruang rias karena memang belum ada foto pengantin ala-ala gitu karena waktunya mepet. Baru setelah itu ganti baju, dan touch up. Sambil di rias, sambil disuapin makan sama Desum (yang ngurusin Arli dari kecil). Terharu, dari kecil sampai nikah masih aja disuapin Desum :') Sementara itu, tamu-tamu yang lain juga menikmati konsumsi akad (soto banjar, aneka kue, teh, kopi, air putih). Waktu itu disiapkan 200 porsi, tapi deg-degan takut kurang juga karena ternyata banyak yang datang akad (Alhamdulillah). 


Untuk riasan resepsi ini, pakai bajunya baju Jawa. Tapi untuk hiasan kepalanya, dimodifikasi sama Bude Yati. Kata Bude Yati, bentuk muka Arli kurang cocok untuk pakai paes. Jadinya sama Bude dikasih hiasan kepala aja. Ada bagian hiasan kepala dari Aceh, ada bagian hiasan kepala dari Betawi, dan ada bagian hiasan kepala dari Jawa itu sendiri. Kenapa Aceh, Betawi, dan Jawa? Karena keluarga Iqbal asalnya dari Aceh dan Betawi, sedangkan keluarga Arli dari Jawa. Nah, yang mengira itu hiasan kepala pengantin Sunda, salah ya! hehehe. Kalau diperhatikan, memang beda kok sama Sunda! :) Pakai baju resepsi itu berasa banget jadi Putri ala-ala hehehe. Jangan lupa sambil bawa wedding bouquet yang dibikinin Mamah Ati (walaupun sebenarnya Mba Aisyah juga nyiapin bouquet, udah sepaket sama dekorasi). Setelah itu, foto-foto dulu di background foto yang sudah disiapkan oleh prigel foto. Setelah itu baru mulai iring-iringan untuk masuk gedung.




Sewaktu masuk gedung, yang dirasakan benar-benar bahagia! Sepanjang jalan menuju pelaminan, di kanan dan kiri banyak orang-orang yang wajahnya familiar sahabat-sahabat, teman-teman yang sudah lama tak jumpa. Mereka ikut bahagia dan tersenyum menyambut, beberapa sambil sibuk mengambil foto dengan excited nya. Dan Arli melewati mereka sambil bergandengan tangan dengan pria pilihan Arli. Best feeling ever



Barulah setelah sampai ke pelaminan, bisa bertegur sapa dengan orang-orang yang datang. Alhamdulillah banyak yang datang walaupun ternyata di luar hujan. Berfoto bersama para undangan, teman-teman, saudara. Tim prigel foto sabar banget memfoto kami dan para undangan yang banyak banget. Bahagia sekali rasanya. Bahkan untuk foto berdua sama Iqbal aja susah banget curi-curi waktunya karena tamu terus berdatangan. Selama itu, Aisyah Catering juga dengan sigap mencukupi kebutuhan konsumsi dengan berbagai menu yang Alhamdulillah nggak habis sampai akhir acara (hal ini yang paling bikin Arli dan keluarga deg-degan, takut ada yang nggak kebagian makanan. Tapi Alhamdulillah nggak terjadi). Di akhir acara pun masih bisa banyak dibungkus dan dibawa pulang. 

(Keluarga dari Arli)

(Keluarga dari Iqbal)

(Sisters from another mother)

(Sisters from another mother)


Akhirnya dua jam berlalu begitu cepatnya. Setelah tamu habis, prigel foto memfoto kami berdua kemudian membuat video closing. Barulah kami turun pelaminan dan makan di tempat VIP. Alhamdulillah akhirnya selesai menahan lapar. Selesailah acara pernikahan kami. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Benar-benar semua ini diluar ekspektasi dan bisa terjadi hanya karena Ridho Allah SWT. 

Terimakasih untuk Bude Yati, Mba Astrid, Mba Mia yang udah bantu Arli dan keluarga jadi cantik dan ganteng. Terimakasih Mba Aisyah untuk dekorasi dan cateringnya. Terimakasih untuk Mas Agus dan kawan-kawan dari Prigel Foto yang mengabadikan momen ini dengan baik. Terimakasih Pak Nur Ali koordinator gedung yang benar-benar banyak membantu (dari mulai memastikan AC nggak rusak, mengontrol pengerjaan dekorasi, bantu pasang-pasang janur, dll). Terimakasih Pak Muzakir yang udah membantu mengurus berkas-berkas ke KUA, Terimakasih Tante Hartum yang udah menghias hantaran dengan cantiknya. Terimakasih sist Sabika yang udah nge-henna-in. Terimakasih para among tamu dan penerima tamu yang harus berdiri terus sepanjang acara dan menyamput tamu-tamu. Terimakasih koordinator konsumsi. Terimakasih Om Ahdi yang bantu anter kesana sini. Terimakasih saudara-saudara kami yang sangat banyak terlibat dalam acara ini. Terimakasih bridesmaid bridesmaid ku (maaf sebesar sebesarnya nggak bisa punya banyak waktu untuk ngobrol-ngobrol sama kalian hari itu). Terimakasih para undangan yang telah hadir. Pokoknya terimakasih semuanya yang telah terlibat dan nggak bisa disebutkan satu persatu. Kalian berhasil membuat momen terindah untuk Arli dan Iqbal. Terimakasih sudah mengantarkan kami untuk awal perjalanan hidup kami <3 <3 <3

Sekian postingan kali ini semoga dari kisah-kisah ini bisa memberikan informasi dan memberikan manfaat :) Postingan selanjutnya bakal tentang serba-serbi pernikahan (gedung, undangan, souvenir, dll)

Thursday, May 12, 2016

#arliqbalmoment Part 1 (Lamaran)

Arli lamaran? Arli mau nikah? Iqbal mau nikah? Kok cepet banget?

Mungkin beberapa orang agak kaget kali ya, tiba-tiba kita ngepost foto lamaran di media sosial kita. Tapi kalau untuk teman-teman yang terdekat, pasti udah nggak kaget lagi karena ini bukan hal yang mendadak. Wacana kita untuk menuju ke tahap yang lebih serius itu memang sudah ada sejak akhir tahun lalu. Dan Alhamdulillah akhirnya lamaran juga, nggak cuma wacana hehehe.

Awalnya bermula dari bulan Oktober 2015. Waktu itu, Iqbal baru satu bulan dapet tempat kerja. Kita lagi di mobil, dan Arli lagi ngambek. Wkwk, Lupa gara-gara apa pokoknya ngambek dan asal ngomong (kalo emosi suka asal ngomong, ini emang kebiasaan buruk banget). Terus Iqbal langsung bilang

"kok kamu dengan gampangnya bilang gitu sih? Padahal aku serius sayang sama kamunya. Bahkan udah bilang ke orangtuaku kalo aku pingin nikahin kamu".

Jleb. Arli langsung speechless, bingung + malu, gak tau mau ngomong apa. Setelah keheningan yang agak lama, akhirnya Arli beraniin nanya itu beneran atau enggak. Ternyata beneran, dan dia bilang mau ngomong sama Papa tentang ini. Habis itu keesokan harinya, bingung dan deg-degan deh mau bilang ke papa gimana caranya hahaha. Malu juga. Akhirnya cerita-cerita ke saras dulu, ke mama dulu, baru habis itu sama mama dibantuin buat ngomong sama papa. Awkward sih.

Papa: "Oh, Yaudah"
Mama: "Kok yaudah sih?"
Papa: "Ya emang mesti komentar apa? Nggak ada yang aneh kan? Yaudah kalo dia mau ngomong sama papa"

Keesokan harinya, diajak ngobrol lagi sama mama papa. Ditanya-tanyain kenapa mau sama Iqbal. Ditanya-tanyain beneran udah mantep apa belum, beneran udah siap atau belum, kehidupan sesudah menikah itu gak semudah yang dibayangkan loh, dll dll.

Dua minggu kemudian, Iqbal beneran ngomong sama papa. Bareng Arli dan mama juga. Intinya, Iqbal cerita kalo dia sekarang alhamdulillah udah kerja tapi memang belum punya banyak, dia juga bilang pingin ajak Arli ke arah yang lebih serius, dan kira-kira apa aja yang harus dia siapkan untuk bisa mewujudkan itu? Alhamdulillah, jawaban dari papa dan mama positif dan kita banyak dikasih wejangan.

Sebulan kemudian, keluarga Iqbal main kerumah Arli. Kita kenalan dan ngobrol-ngobrol gak formal. Kalo Arli sih, sibuk mainan sama ponakan-ponakannya Iqbal hihihi.

Lalu di bulan Februari, waktu itu Arli lagi main kerumah Iqbal. Tiba-tiba papanya Iqbal bilang

"Bal, kamu udah kasih tau Arli kalo kita mau kerumahnya bulan April?"

Kaget lagi, speechless lagi. Ternyata bulan April lamaran. Pas bilang ke papa mama, mereka langsung excited. Tanggalnya akan dikabari lebih lanjut sama keluarga Iqbal. Akhirnya, bulan Maret dapet kabar kalau lamarannya tanggal 17 April 2016.



Sebenernya lebih suka kalau acara ini disebutnya Lamaran atau Khitbah, bukan engagement party. Karena kayaknya kalau engagement kesannya 'wah' banget, sedangkan acara lamaran kita itu sederhana. Selain itu juga, engagement identik dengan tukar cincin sedangkan kita gak ada simbolis tukar cincin karena satu dan lain hal. Udah gitu, gak ada party party. Cuma makan makan biasa aja kayak acara kumpul keluarga kalau lebaran atau arisan. Makanya lebih suka disebut lamaran aja hehehe.

Persiapan untuk acara ini juga nggak ribet-ribet banget. Gak ngedekor macem-macem, Alhamdulillah ada nenek tersayang yang merangkai bunga serba putih, cantik, dan wangi. Gak sewa dokumentasi, Alhamdulillah ada sahabat-sahabat tersayang yang datang dan dokumentasiin. Gak ribet dandan di salon, Alhamdulillah Arli punya sepupu MUA, jadi didandanin. Untuk baju juga gak ribet persiapannya, tinggal ngejait kain yang memang mama udah punya, dan karena tau bakal panas dan acaranya juga sederhana, jadi gak ribet pakai kebaya. Gak pakai catering, Alhamdulillah ada Desum (si mbok) yang masak-masak, dan ada saudara-saudara yang bawain makanan ini itu. Pokoknya di acara itu, Arli merasa bersyukur banget dikelilingi sama orang-orang yang peduli. Keluarga dan sahabat. Jadi terharu :')

Waktu hari H, super deg-degan pas Iqbal mau dateng dan pas Iqbal dateng. Karena Arli cuma boleh di kamar dulu pas awal-awal, jadinya super kepo + deg-degan. Cuma bisa denger suara-suara. Denger sambutan, denger perwakilan keluarga Iqbal lagi menyampaikan maksud kedatangan (melamar). Sampai akhirnya, bagian keluarga Arli ngasih jawaban dan Arli dijemput dari kamar sama mama. Pas baru keluar dari kamar, saudara-saudaranya Iqbal pada geser-geser kursi biar keliatan Arli yang mana, soalnya penasaran hihi. Itu bikin nambah deg-degan sih soalnya kayak "semua mata tertuju padamu".

Arli jawab deh tuh bersedia menerima lamaran Iqbal. Karena jawabnya singkat, jadi dicengin mulu "apa apa?" "gak kedengeran" "ulang dong ulang" huhuhu padahal jawab singkat aja udah susah payah gara-gara malu hahaha. Untung ada papa, my hero "malu dia, kita anggap iya aja ya" wkwkwkwk. Dan Alhamdulillah :)

Habis itu simbolis saling kasih seserahan antara mama dan calon mama mertuaku. Gak tau kalo orang lain seserahannya semana, tapi seserahan yang Iqbal bawain bagiku banyakkkk banget dan bikin seneng banget dapet kue kue banyaaak. Ada kue bentuk love unyu banget tapi yakin sih bukan Iqbal yang milih. Habis saling kasih seserahan, kita makan-makan sambil ngobrol-ngobrol ramah tamah. Habis itu foto-foto. Dan selesailah acara lamaran Arli-Iqbal :-)

Yang kocak, Iqbal gak ikutan pulang sama keluarganya. Iqbal tetep dirumah Arli gara-gara disuruh sama nenekku. wkwk. Yaudah kita foto-foto lagi. Terus kedatangan ciwi ciwi kesayanganku hihi.

Pokoknya, hari itu senengnya banget-bangetan. Aku bakal nikah sama seseorang yang aku sayang, yang pilihan sendiri (bukan dijodoh-jodohin), yang baru jadi pacar aku 1tahunan tapi gak ragu untuk menjadikan aku teman hidupnya selamanya, yang masih muda tapi mau serius dan gakmau pacar-pacaran gak jelas, yang ingin membangun mimpi bareng-bareng Arli (bukan Arli nunggu dia mapan dulu, tapi menemani dari nol hingga nanti sukses).

Sangat bersyukur dan berterimakasih juga sama semua orang yang terlibat dalam acara lamaran Arli-Iqbal. Mohon maaf merepotkan, dan sebenernya ini baru awal >.< terimakasih banyak banyak banyak.

Sekarang, sudah beberapa bulan lagi menuju pernikahan kita (bulannya bisa diitung pakai satu tangan). Arli dan Iqbal mohon maaf dan mohon doanya yaaa semoga semuanya lancar menuju pernikahan kami <3