Tuesday, January 23, 2018

Keputusan Menikah (Sudut Pandang Seorang Pria)

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.


Gimana rasanya menikah muda? Hem, sebenernya aku bukan yang termasuk menikah muda sih. Masih wajar aja karena udah dapet gelar sarjana dan umur ketika itu udah 22. Banyak lah perempuan yang nikahnya lebih muda dari aku. Yang mau aku bahas disini bukan tentang aku, tapi tentang suamiku. Ketika menikah, usia suamiku sama sepertiku, 22 tahun. Mungkin ada juga laki-laki yang nikahnya lebih muda, tapi tetep minoritas lah.

Memutuskan untuk menikah bukan hal yang terlalu berat untukku pribadi. Apalagi aku sudah yakin dengan lelaki pilihanku ini. Orangtuapun setuju. Dia juga mendukungku untuk melanjutkan pendidikanku dan tidak melarangku untuk mengembangkan diri (tentunya dengan cara-cara yang pantas dilakukan oleh seorang wanita). Masalah finansial, aku yakin suamiku seorang yang bertanggungjawab. Akupun merasa bisa membantunya sedikit-sedikit. Ya, memang bukan hal yang berat untuk memutuskan menikah dengannya. Berbeda dengan dia.

Butuh banyak pertimbangan, mental yang kuat, dan usaha yang lebih untuk akhirnya memutuskan untuk mengajakku menikah. Di tulisan ini, yang ingin aku bahas adalah hasil Q&A bersama suamiku tentang keputusannya mengakhiri masa lajang. Questions nya dari Arli, Answers nya dari Iqbal.

Q: Momen apa sih yang bikin kamu kepikiran untuk menikah?
A: Gak ada momen tertentu sih.
Q: Terus?
A: Ya karena aku gak bisa bayangin kalo gak sama kamu, selain itu dari hati juga tau kalo pacaran itu salah dan banyak mudharatnya. Pas aku dapat kerja, tambah ingin menikah.
(Karena kondisi setelah kerja itu butuh banget teman berbagi keluh kesah yang bener bener real bukan adanya via chat atau telpon doang. Ketemu juga cuma bisa seminggu sekali, itupun jalan-jalan gak jelas hedon ngabisin uang. Padahal weekend pinginnya istirahat, tapi juga pingin ketemu). Terus juga, kalo aku gak ada niatan untuk serius, nanti kamunya bisa aja pergi gitu aja. Atau walaupun kamu gak ada niatan untuk pergi pada awalnya, kalo tiba-tiba ada laki-laki baik yang cocok sama kamu dan mau seriusin kamu, kamu bisa aja nerima lamarannya walaupun punya pacar. Namanya juga pacaran, gak ada ikatan resmi.


Q: Tapi kenapa akhirnya memutuskannya saat itu? Padahal kan bisa aja nanti. Kalau kata orang, tunggu mapan dulu.
A: Karena saat itu aku mikirnya, ada perempuan yang baik, mau nerima aku dari bawah, mau sayang sama keluarga aku, tulus sayang sama aku. Perempuan ini, belum tentu terus ada sama aku kalo statusnya pacar. Bisa pergi kapan aja. Belum tentu aku bisa ketemu sama yang lebih baik di kemudian hari. Lagipula, kalau aku tunda beberapa tahun dengan alasan biar mapan, apa ada yang berani jamin kalau dengan menunda beberapa tahun itu aku udah jadi mapan punya rumah, punya mobil, dll? Gak ada kan? Jangan-jangan nanti yang ada, aku malah buang-buang waktu. Nanti posisi masih disitu-situ aja, gaji gak naik signifikan, pengeluaran tetep aja banyak.


Q: Emang gak pingin bahagiain orangtua dulu? Apalagi sebagai anak laki-laki kan..
A: Pingin lah. Lho emangnya kalau menikah jadi berhenti bahagiakan orangtua? Enggak lah.
Q: Yaaa siapa tau kan keuangan jadi harus terbagi antara rumah tangga dan orangtua, jadi takutnya kurang maksimal bahagiain orangtua.
A: Ya enggak lah, justru minta sama Allah, berdoa minta ditambah rejekinya karena butuh bukan hanya untuk menafkahi keluarga dan orangtua. Pasti Allah akan kasih lebih nantinya disaat kita emang butuh dan kitanya berusaha. Lagipula kalau aku belum menikah sekarang, mungkin tiap weekend aku malah gak jelas main game aja di rumah, pacaran ke luar, atau tidur seharian. Yang ada bukannya bahagiain orangtua malah bikin empet.


Q: Hal apa sih yang paling bikin galau waktu mau memutuskan menikah?
A: Finansial sih. Karena gaji aja bisa habis ketika masih single. Apalagi kalau berumah tangga yang kebutuhannya lebih banyak. Banyak yang mesti ditanggung pula. Itu yang bikin galau.
Q: Terus gimana dong?
A: Ya, disitulah setan beraksi bikin ragu-ragu. Ya itu kan hasil hitungan matematikanya manusia. Memang gak akan ketemu hitungannya. Gimana caranya bisa cukup. Tapi kan kalau kita punya Allah, hitungannya Allah gak begitu. Allah di Al-Qur'an sudah menjamin kok orang menikah itu pasti dicukupkan rezekinya. Ternyata ya Alhamdulillah sekarang cukup-cukup aja kan. Allah mengatur sedemikian rupa, aku dapat pekerjaan baru yang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Setiap kita butuh sesuatu, Alhamdulillah ada. Memang sekarang kita belum punya banyak ini itu. Tapi mungkin karena kita memang belum butuh?


Q: Selain itu apalagi sih yang bikin galau?
A: Mindset dan omongan orang sekitar. Banyak lah yang menyayangkan karena katanya masih muda, masih manja, masih kayak anak kecil kok mau nikah emangnya bisa, baru juga kerja, dll. Ditakut-takuti kalau berumah tangga itu sulit, tingkat perceraian orang yang nikah muda katanya tinggi. Tapi kalau didengerin terus, ya ngapain. Kalau emang ini jodoh aku datengnya pas aku umur 22, terus aku tunda nikahnya lalu perempuan ini pergi, apa orang-orang yang ngomong ini mau tanggung jawab? Kalau kita ngikutin omongan mereka lalu ternyata malah jadi salah jalan apa mereka mau tanggung jawab? Kalo kita dosa terus karena pacaran apa mereka mau tanggung dosa kita?


Q: Tapi gak takut sama tingkat perceraian yang tinggi? Kan katanya kalau nikah muda takutnya belum dewasa.
A: Ya itu tergantung orangnya. Tergantung niat menikahnya apa. Kalau sekedar ingin mengikuti tren, ingin dilihat 'laku', dan niatan yg salah lainnya ya mungkin aja bisa terjadi seperti itu. Tapi kalau niatnya baik ya insyaAllah gak terjadi seperti itu. Ketika berniat baik untuk menikah, kita kan juga pasti berhati-hati banget milih calonnya supaya gak terjadi seperti itu. Kalau aku pribadi, justru dengan menikah jadi banyak belajar untuk menjadi dewasa. Belajar menyikapi masalah-masalah yang ada. Belum tentu loh orang yang belum nikah itu nanti semakin bertambah kedewasaannya walaupun usianya semakin bertambah. Banyak yang menunda, umur makin nambah, tapi kedewasaan enggak, lalu nikah karena kepepet umur, pilih calonnya pun seadanya. Ya itulah makanya ada aja rumah tangga yang gak harmonis.


Q: Nanti kalau nikah jadi gak sebebas pas single. Main sama temen-temen kurang leluasa. Gimana tuh?
A: Sekarangpun udah berasa kok, temen-temen yang dulu suka main bareng udah pada punya kesibukan masing-masing. Apalagi nantinya semua juga akan berkeluarga. Cuma masalah waktu aja. Aku sih lebih pingin ada teman hidup ya, yang tiap hari bisa dicurhatin sambil leyeh-leyeh di kasur, bisa jadi pendengar yang baik, dan bener-bener bisa bantu. Kalau kita ajak pergi juga selalu ada waktu untuk kita. Kalau teman-teman kan punya kesibukan sendiri.


Q: Emang gak pingin kuliah lagi dulu? Atau mengejar pencapaian-pencapaian lainnya gitu?
A: Ya pingin. Tapi coba lihat aja yang doktor, yang profesor, kebanyakan mendapatkan gelarnya pas udah berkeluarga kan? Ya memang gak ada korelasinya nikah sama mengejar pendidikan. Gak menghambat. Banyak orang-orang sukses juga nikah dulu sebelum mereka mencapai ini itu. Lihat aja Habibie, Ridwan Kamil, Jokowi, dll. Banyaaaak. Apalagi yang mau jadi pemimpin ya, kalau mimpin keluarga aja yang anggotanya cuma sediki belum sanggup apalagi mimpin yang lain-lain.


Q: Terus gimana sih cara bilang ke orangtua kalau mau nikah?
A: Bilang baik-baik dalam situasi yang baik. Bilang pingin nikah, jabarkan alasannya yang JELAS. Bilang "pingin nikah", bukan pertanyaan "boleh nikah atau engga". Harus jelas, tegas, dan punya tekad yang kuat, tapi bahasa harus tetap dijaga.


Q: Kalau ternyata dari pihak perempuan dan keluarganya gak bisa terima keadaan finansial si laki-laki gimana?
A: Ya kita udah berusaha kasih semampu kita, kalau di tolak ya sudah. Lebih baik cari yang lain aja kalau aku sih, daripada yang tidak bisa menerima dari bawah. Karena seterusnya dia akan melihat aku dari materi. Ketika mungkin jalannya rumah tangga tidak semulus yang diharapkan dari segi materi, nanti jangan-jangan dia perlakuannya berbeda lagi sama aku, atau lebih parahnya malah ninggalin. Mending gak usah deh, cari yang lain aja.


Q: Ada closing statement?
A: Menikah itu kalau bagi laki-laki emang tentang mental sih. Mental untuk memutuskan menikah itu harus kuat. Setelah dijalanin mah biasa aja. Memang kadang rumah tangga gak mudah, tapi gak sesusah yang orang-orang bilang. Malah banyak kebahagiaan yang didapat. Kesulitan-kesulitan dalam hidup itu akan selalu ada, bagi yang berumah tangga maupun yang single. Bedanya, yang single ada masalah ya pusing-pusing sendiri. Kalau sudah menikah, bisa saling cerita, saling support.


Yak, sekian Q&A dengan Bapak Iqbal Farhan Elfajri sebagai kepala keluarga (yang mengepalai Ibu Siti Ambarli dan seorang anak laki-laki bernama Musa Ali Arzan) dalam usianya yang menuju 24 tahun.

Wassalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Monday, January 15, 2018

Terlambat bayar BPJS

Kemarin saya sempat terlambat membayar BPJS kesehatan. Kebetulan saya terdaftar sebagai pengguna BPJS Kesehatan mandiri, sehingga setiap bulan saya harus membayar via mobile banking/ATM. Karena saya memilih Kelas 1, maka iuran yang harus saya bayarkan adalah Rp 80.000 per bulan.

Idealnya membayar iuran BPJS dilakukan maksimal tanggal 10 setiap bulannya. Namun, beberapa kali saya terlewat karena lupa (tapi masih dalam bulan yang sama). Jika demikian, masih tetap bisa membayar dan tidak terkena denda.

Bulan November 2017, saya benar-benar lupa membayar karena kesibukan yang ada. Saya bukan hanya terlewat tanggal, tapi terlewat bulan. Saya baru teringat ketika bulan Desember 2017. Maka saya langsung pergi ke ATM dan bermaksud membayar tagihan 2 bulan, yaitu bulan November dan bulan Desember. Sehingga di ATM saya pilih opsi pembayaran 2 bulan. Ternyata, saya harus membayar Rp 240.000. Bingung dong, padahal saya pikir seharusnya tagihannya Rp 160.000. Kemudian saya pikir lagi, apakah saya terkena denda? Saya cari informasi di internet, tapi dari informasi yang saya temukan, seharusnya tidak terkena denda jika seperti itu. Tapi akhirnya ya sudah saya diamkan saja walaupun masih tersimpan tanya.

Bulan Desember berlalu, akhirnya masuk bulan Januari 2018. Saat itu tanggal 15 Januari 2018 saya ingin membayar BPJS via mobile banking (lagi-lagi melewati tanggal 10). Namun, transaksi gagal. Saya coba menghubungi call center bank saya, namun mereka kurang tahu juga mengapa gagal dan mereka menyarankan membayar maksimal tanggal 10 agar tidak terjadi masalah. Ya. Tapi bukan jawaban itu yang saya butuhkan. Kemudian saya coba cek tagihan saya di web BPJS. Rupanya tagihan dan denda saya tertulis 0. Aneh, pikir saya, padahal saya belum bayar.

Akhirnya saya kini mendapatkan jawabannya. Seharusnya, apabila ingin membayar yang terlewat bulan, kita tetap pilih opsi "1 bulan". Otomatis tunggakan kita akan dihitung. Seandainya saya pilih opsi 1 bulan, maka nominal yang muncul adalah Rp 160.000 karena tunggakan bulan sebelumnya. Namun karena saya pilih opsi "2 bulan" maka dianggap saya ingin membayar hingga bulan depannya juga. Sehingga dihitung iuran 3 bulan yaitu November, Desember, dan Januari sebesar Rp 240.000.

Sekarang pertanyaan di benak saya jadi terjawab, dan saya tidak jadi bayar BPJS bulan Januari karena ternyata sudah terbayar bulan sebelumnya 😁

Saturday, October 21, 2017

Perlengkapan Bayi

Daftar Perlengkapan Bayi

Sebelum berbelanja perlengkapan bayi, ada baiknya kita cari tahu tentang apa yang akan kita beli dan membuat daftar. Daftar perlengkapan bayi penting dibawa saat belanja supaya kita tidak lupa membeli sesuatu. Selain itu, membuat kita juga tidak termakan omongan dan lapar mata saat sampai di toko karena barang-barang di toko itu banyak sekali jenisnya dan lucu-lucu. Ditambah lagi, sebagai ibu baru pasti sangat bersemangat belanja untuk si kecil. Makanya, penting punya daftar belanja supaya tetap hemat dan tidak membeli yang tidak perlu.

Di bawah ini adalah daftar perlengkapan bayiku. Awalnya, daftar belanjaku bukan seperti ini. Namun setelah bayiku lahir, ternyata ada barang yang seharusnya tidak dibeli namun dibeli, dan sebaliknya. Daftar ini telah mengalami revisi setelah bayiku akhirnya lahir. Daftar ini semata-mata hanya kususun berdasarkan pengalaman dan bukan berarti jadi acuan wajib dalam berbelanja perlengkapan bayi karena akupun masih belajar sebagai ibu baru.

Oh iya, dalam memutuskan jumlah pakaian yang akan dibeli, sangat bergantung dengan keputusan ibu untuk memakai popok tali atau popok sekali pakai (pospak). Daftar di bawah ini aku susun berdasarkan kebutuhan anakku yang sehari harinya memakai pospak, sehingga tidak butuh pakaian yang terlalu banyak. Kalau ibu memutuskan untuk memakai popok tali, maka jumlah pakaian harus ditambah karena sering berganti pakaian setiap pup atau pee.

PAKAIAN

1. Set baju pendek atau jumper segiempat size newborn (8)
2. Set baju panjang atau sleepsuit size newborn (6)
3. Bedong (6)
4. Alas ompol (6)
5. Sarung tangan (6)
6. Topi (3)
7. Selimut topi (1)
8. Washcloth (6)
9. Jumper size 3-6m (4)
10. Sleepsuit size 3-6m (6)
11. Kaus kaki (6)
12. Singlet (12)

PERLENGKAPAN MANDI

1. Bak mandi/baby bather (1)
2. Perlak besar (2)
3. Sabun shampo (1)
4. Minyak telon (1)
5. Diaper cream (1)
6. Tissue basah (1)
7. Tissue kering (1)
8. Tempat kapas (1)
9. Kapas bulat (3)
10. Handuk (2)
11. Washlap (3)
12. Cotton buds (1)
13. Baby oil (1)
14. Gunting kuku bayi (1)
15. Sikat lidah (1)
16. Pembersih kotoran hidung & telinga (1)
17. Kassa (2)
18. Detergen bayi (1)
19. Hanger kecil (12)
20. Gantungan bulat (1)
21. Tempat baju kotor (1)
22. Tempat toiletries (1)
23. Popok sekali pakai (3)

PERLENGKAPAN MENYUSUI

1. Botol susu (2)
2. Rak botol (1)
3. Sikat botol & dot (1)
4. Breast pump (1)
5. Breast pad isi 66 (1)
6. Kantong/botol ASIP (secukupnya)
7. Bra menyusui (6)

PERLENGKAPAN TIDUR

1. Kasur/box bayi (1)
2. Set bantal guling (1)
3. Sprei (2)
4. Kelambu (1)

PERLENGKAPAN BEPERGIAN

1. Stroller (1)
2. Alas stroller (2)
3. Car seat (1)

PELENGKAP

1. Termometer (1)
2. Penyedot ingus bayi (1)
3. Tempat baju bayi (1)

PERLENGKAPAN IBU

1. Pembalut nifas (3)
2. Korset (2)
3. Baju/daster menyusui (6)
4. Skincare untuk perut bekas melahirkan

LAIN-LAIN
(Barang yang sebenarnya perlu tetapi tidak perlu dibeli duluan karena seringkali dapat dari kado)

1. Bottle warmer (1)
2. Sterilizer (1)
3. Bantal menyusui (1)
4. Nursing cover (1)
5. Gendongan/baby carrier (1)
6. Tas perlengkapan bayi (1)
7. Sepatu prewalker (1)
8. Mainan

Wednesday, September 20, 2017

Persalinan Anak Pertamaku (Normal)

Di tulisan sebelumnya, aku masih menunggu datangnya kontraksi cinta. Sambil menunggu, aku sering membaca tulisan di blog para ibu tentang pengalaman persalinan dan menonton vlog bersalin. Sekarang, setelah anakku akhirnya lahir, aku juga akan membagikan pengalaman mengenai hari yang penuh cinta itu.

Rabu, 13 September 2017

Pagi itu, sudah H-1 dari tanggal perkiraan kelahiran tapi masih belum terasa apa apa. Hanya kontraksi palsu (rasanya seperti akan menstruasi) yang timbul tenggelam, itupun tidak mengganggu. Siang itu, aku kontrol ke bidan seperti biasa (memang jadwal kontrolku setiap Rabu).

Disana, bidan mengecek posisi kepala janin yang sebenarnya sudah mapan dan bersiap di depan panggul (walaupun belum terlalu masuk panggul), namun mungkin ukuran bayinya besar sehingga masih kesulitan mencari jalan lahirnya. Akhirnya, aku diberikan obat dua butir. Katanya untuk melunakkan jalan lahirnya. Butir pertama langsung diminum saat itu juga dengan cara dihisap di bawah lidah. Biasanya, jika memang bayinya sudah mau lahir, obat itu akan langsung bekerja dan memicu kontraksi dalam 3-4 jam. Namun, jika memang bayinya belum saatnya lahir, obat itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Siang itu pukul 11.00 WIB aku langsung meminum butir pertama. Kata bidan, jika tidak bereaksi, maka diminum lagi satu butir besok pagi. Jika belum juga ada kemajuan, kembali lagi kontrol hari Jum'at. Bidan juga menyarankan untuk perbanyak melakukan gerakan jongkok, "induksi alami", dan jalan kaki.

Ternyata, pukul 13.00 WIB sudah mulai terasa kontraksi. Tapi masih belum kuat, sehingga aku masih bisa sambil jalan jongkok, "induksi alami" dan melakukan usaha-usaha lainnya. Pukul 15.00 WIB kontraksi semakin kuat, aku sudah tidak lagi melakukan banyak aktivitas. Setelah itu, lebih banyak di kasur sambil menahan sakit. Hari itu, seharusnya suami ada pekerjaan pukul 19.00 WIB, tapi dicancel karena mau menemaniku yang sudah mulai merasakan kontraksi.

Aku sering baca tentang kontraksi melahirkan. Katanya awalnya interval antar kontraksi 15-20 menit, kemudian semakin bertambah dekat seiring waktu dan apabila interval sudah konstan 5 menit sekali, disarankan untuk cek ke tempat bersalin. Rasa kontraksinya juga semakin lama semakin kuat. Tapi yang aku alami berbeda. Kontraksi yang kurasakan sejak awal intervalnya sudah 3 menit. Rasa sakitnya pun masih bisa kutahan. Selain itu, aku belum mengalami flek (keluar lendir darah) sehingga aku masih ragu akan melahirkan atau belum.

Pukul 21.00 WIB malah suami yang khawatir dan mengajak ke bidan, padahal aku masih ragu. Tapi dia meyakinkan "Mungkin nggak semua orang keluar lendir darah dulu. Ayo coba periksa dulu, kalau nanti pulang lagi juga gak apa apa". Akhirnya aku, suamiku, dan mamaku ke bidan sambil sudah membawa perlengkapan melahirkan yang sudah lama di-packing. Disana, bidan langsung melakukan periksa dalam dan ternyata sudah ada lendir darah dan aku sudah pembukaan 2. Kami lalu ditawari untuk menginap atau pulang dulu, tapi kami memilih menginap.

Malam itu, aku dan suamiku sudah tidak bisa tidur. Hanya bisa merem-merem sebentar setiap jeda kontraksi (3 menit). Setiap kontraksi datang, suamiku memijit punggungku. Pukul 03.00 WIB entah kenapa aku mual muntah. Bersamaan dengan itu, ada cairan yang keluar dari vagina. Kami langsung memanggil bidan. Rupanya cairan itu adalah air ketuban yang merembes. Aku langsung pindah ke ruang bersalin, dan setelah dicek ternyata pembukaan sudah bertambah menjadi bukaan 4. Saat itu, suamiku dan mamaku takut karena air ketuban sudah rembes duluan. Bidan menawarkan untuk induksi, tapi aku masih takut karena sering baca bahwa induksi sakitnya tanpa jeda dan lebih sakit. Akhirnya, bidan menawarkan untuk induksi tapi dengan dosis yang rendah terlebih dahulu. Akupun setuju, kemudian infus dipasang.

Tidak lama setelah itu, aku kembali mual muntah sehingga semakin banyak air ketuban yang keluar. Saat itu aku khawatir dan memikirkan keselamatan bayiku, sehingga aku beranikan diri bilang ke bidan "Mba, induksinya dosis penuh aja nggak apa-apa". Dimulai sejak saat itu, kontraksi memang lebih kuat dan jedanya sangat singkat. Ba'da Subuh, rasanya aku sudah setengah sadar dan tidak bisa berpikir jernih saking sakitnya. Hanya bisa mencoba bernapas sambil meremas tangan suami. Bidan bilang, kemungkinan lahir jam 09.00 WIB. Aku rasanya sudah tidak tahan kalau harus menunggu jam 09.00 WIB. Tapi Alhamdulillah, jam 6 pagi rupanya sudah pembukaan 8. Yeay 2 lagi! Kurang beberapa menit dari jam 07.00 WIB akhirnya diperbolehkan mengedan. Ini dia yang aku tunggu-tunggu. Aku sangat optimis karena sudah berlatih saat senam hamil. Akhirnya proses mengedan pun berjalan singkat dan lancar. Anakku, Musa Ali Arzan, lahir ke dunia pada pukul 07.10 WIB. Tangisannya pecah, kemudian ia langsung diletakkan di dadaku. Aku langsung mendekapnya, ia tenang, berhenti menangis. Suamiku langsung memelukku dan kami menangis haru atas kelahiran Musa. Setelah itu, Musa dibawa pergi untuk dipakaikan baju dan ditimbang. Rupanya beratnya 4,2kg! Semua yang ada di ruang bersalin kaget. Alhamdulillah Allah beri aku kekuatan untuk melahirkan si bayi besar secara normal. Setelah itu, dilakukan proses jahit-menjahit yang terasa lamaaaa sekali. Pasti aku mendapat banyak jahitan karena melahirkan bayi 4,2kg.

Oia, saat itu dilakukan Lotus Birth, yaitu ari-ari bayi dibiarkan menempel dengan plasenta (belum diputus). Biasanya hal ini dilakukan hingga puput sendiri, namun dengan alasan higienitas, jadi di sana hanya dilakukan selama 24 jam. Saat itu aku belum tau tentang ini, jadi ya nurut-nurut saja.

Alhamdulillah, akhirnya anakku terlahir normal dan sehat tepat pada HPLnya. Sekarang saatnya menjalani fase kehidupan yang baru. Semoga aku bisa melaksanakan tanggung jawab ini dengan baik :)

Tuesday, September 12, 2017

Hamil Trimester Kedua dan Ketiga

Lanjutan dari tulisan sebelumnya

Kehamilan trimester kedua ini jauh lebih nyaman daripada trimester pertama. Dadah dadah dulu sama pusing dan mual muntah. Alhamdulillah jadi bisa makan dan beraktivitas seperti biasanya lagi. Efeknya, berat badan janin yang kemarin kemarin sering kurang, sekarang tercukupi terus setiap kontrol. Berat badan ibunya juga naik terus haha. Kalau soal keluhan, alhamdulillah tidak ada yang berarti. Cuma sakit di tulang ekor kalau kelamaan duduk & sesak di bagian ulu hati. Tapi semua itu masih bisa diatasi hehe.

Perkuliahan masih berjalan seperti biasa dengan tugas-tugas yang bejibun. Tapi alhamdulillah, kelasnya di lantai 1 dan udah gak di lantai 4 lagi. Jadinya gak perlu bolak-balik naik turun tangga sampai pusing-pusing lagi. Enaknya lagi, di kelas ada toilet. Sangat membantu di trimester 2 & 3 yang lagi rajin bolak-balik ke toilet karena pingin BAK.

Yang menarik dari trimester kedua adalah gender reveal! Akhirnya bisa tau jenis kelamin anakku. Ayahnya seneng banget pas tau hasilnya. Kalau aku sih, yang penting normal & sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Alhamdulillah hasil pemeriksaan janin selalu bagus. Yang gak bagus malah ibunya. Ketahuannya pas cek darah. HB rendah, bahkan kadar glukosa pun rendah. Setelah itu, dikasih suplemen penambah darah namanya feritrin, disuruh makan telur 3 kali sehari, disuruh banyak makan daging juga. Tapi itu gak berlangsung lama sih, karena lama kelamaan bosen dan enek makan telur melulu.

Hal menarik lainnya adalah mulai belanja perlengkapan bayi. Perlengkapan bayi itu banyak banget dan lucu-lucu. Jadi, harus bikin list hal-hal yang penting aja yaa biar gak berlebihan pas belanja dan biar gak overbudget. Sebagian perlengkapannya aku beli di baby shop, sebagian lainnya beli di online shop. Kenapa online shop? Karena praktis dan gak capek. Sedangkan setiap belanja ke baby shop pasti lupa waktu dan lupa kondisi badan, jadi ujung-ujungnya badan langsung berasa remuk tiap habis belanja.
Kalau kata orang-orang trimester kedua itu adalah masa-masa kehamilan yang paling nyaman. Ternyata itu beneran terasa di aku. Saking nyamannya sampai berasa cepet banget berlalunya, tiba-tiba udah masuk trimester ketiga aja.

Di trimester ketiga, yang aku rasain juga tetap lebih nyaman daripada trimester pertama. Di trimester ini udah kelihatan hamilnya. Perubahan ukuran perut ibunya & ukuran janin benar-benar sangat signifikan. Gerakan ibunya jadi mulai melambat. Gerakan janin di dalam perut berbeda jika dibandingkan dengan trimester kedua. Kalau sebelumnya gerakan dia banyak menendang kesana kemari, sekarang cuma kayak peregangan aja. Mungkin karena mulai kesempitan di dalam sana :D

Kegiatan kuliah di trimester ini berkurang karena lagi libur. Alhamdulillah jadi bisa sering jalan pagi. Jalan kaki sangat dianjurkan di trimester ketiga ini. Tapi, pastikan dulu posisi janin sudah sesuai ya (kepala di bawah). Karena kalau belum, jalan kaki gak terlalu berpengaruh. Kalau posisi belum sesuai, dianjurkan untuk sering melakukan gerakan sujud. Setelah kepala janin di bawah, baru perbanyak jalan pagi. Gak perlu lama-lama, cukup 30 menit setiap harinya. Semakin mendekati persalinan, ditambah jadi 2x30 menit sehari (pagi dan sore). Selain itu, aku juga ikut senam hamil mulai UK 32w. Aku ikut senam hamil di RS Harapan Bunda karena dekat rumah. Disana mengadakan senam hamil setiap Kamis & Sabtu jam 10.00 WIB dengan biaya 25.000 per sesi. Senam hamil ini idealnya dilakukan setiap hari di rumah.

Oia sejak bulan ketujuh, aku sudah gak kontrol ke RS lagi. Karena pemeriksaan sejauh ini baik-baik aja, aku berharap bisa lahiran normal di bidan. Jadi, mulai saat itu aku coba kontrol ke bidan dan ternyata beda banget. Aku melanjutkan kontrol di Bidan Wahyu di Cijantung (dekat rumah). Bu bidan lebih ramah dan perhatian. Bikin nyaman. Selain itu juga lokasinya dekat rumah. Banyak banget yang nanyain sih kenapa mau di bidan? Apalagi dari pihak keluarga aku kebanyakan langganan di RS. Ya selama bisa lahiran normal, aku lebih pingin di bidan karena terasa lebih homey, orang-orangnya juga ramah dan kitanya kayak diperhatiin banget, jadinya bisa ngerasa lebih rileks. Lokasinya pun dekat rumah, kebayang kalo nanti lagi mau lahiran terus lokasinya jauh kan gak enak. Tapi di bidan gak bisa USG (bisa sih, tapi di bidan aku Spog nya cuma ada seminggu sekali apa 2 minggu sekali gitu). Tapi bukan berarti aku berhenti kontrol dengan Spog. Tetep ke Spog dan tetep USG dooong.  Tetep kontrol rutin ke dokter sesuai anjuran. Aku kontrol dan USG dengan dr. Ardian di MND Clinic, Condet. Bahkan aku tetap USG 4D (tapi mukanya selalu diumpetin sama anaknya lol). Disana, sama-sama dengan Spog yang profesional, alat yang bagus, gak antri lebay, dan harga yang 3x lipat lebih murah daripada di RS. Ini lumayan banget sih mengingat gak ada asuransi yang nanggung biaya kontrol aku di RS dan semakin kesini juga kontrolnya harus makin sering (2 minggu sekali, lalu seminggu sekali). Jadi daripada terbuang percuma, mending buat beli keperluan debay yang lain. Tapi semua itu tergantung riwayat kesehatan dan preferensi masing-masing hihi yang penting lahiran lancar, bayi & ibunya sehat yaaa buibuk :)

Saat UK 38w, berat badan janinku terbilang cukup berat yaitu 3.281gr sehingga dianjurkan untuk mengurangi makanan manis dan asin. Rasanya semua berbanding terbalik dengan kehamilan trimester pertama. Dulu gak napsu makan, tapi harus makan. Sekarang, napsu makan bertambah, tapi makan harus dikurangi. Apalagi selama kehamilan, aku sudah naik 16kg 

Oh ya, jangan lupa merawat tubuh juga yaaa. Sejak trimester 2, mungkin kulit perut akan terasa gatal karena kulit perut meregang. Tipsnya, jangan digaruk karena bisa menimbulkan bekas. Diusap dengan minyak zaitun saja. Beberapa orang juga merekomendasikan mulai memakai krim stretchmark dan memakai bio oil. Selain itu, rajin-rajin membersihkan nipple dengan kapas dan baby oil untuk mempersiapkan masa-masa menyusui nanti.

Sekarang sudah memasuki minggu ke 40. Sedang menunggu kontraksi cinta dari si kecil sambil terus perbanyak jalan kaki, gerakan senam hamil, jongkok-berdiri, dan induksi alami dibantu suami. Selain usaha di atas, perlu juga untuk tetap happy. Karena bisa memicu hormon oksitosin yang diperlukan untuk persalinan nanti. Makanya ketika 37w, suami sempatkan untuk mengajakku liburan singkat ke luar kota. Tapi balik lagi ya, kondisi setiap ibu hamil berbeda. Semua harus dikonsultasikan ke tenaga medis yang berpengalaman terlebih dahulu.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga bisa lancar & normal proses persalinanku, serta sehat bayi dan ibunya. Semoga para calon ibu dan ibu ibu di luar sana yang lagi hamil juga dilancarkan yaaa kehamilan dan persalinannya. Untuk yang masih menunggu momongan juga semoga segera diberikan. Aamiin :)

Wednesday, August 2, 2017

Pertamakali Hamil

Hari itu 10 Januari 2017. Aku ingat betul tanggalnya karena saat itu selalu menghitung hari. Sudah beberapa bulan terakhir semenjak menikah, selalu menghitung siklus menstruasi. Bukan sekali dua kali mencoba memakai test pack tapi hasilnya masih negatif. Bahkan pernah telat seminggu, pusing, muntah-muntah dan akhirnya ke dokter. Disana cek darah dan cek urin. Berharap hamil, ternyata DBD dan harus dirawat. Keesokan harinya menstruasi. Kecewa deh.

Terakhir pakai test pack itu 10 hari yang lalu karena percaya dengan kalimat iklan "mampu mendeteksi kehamilan 7 hari setelah berhubungan". Tapi hari itu hasilnya negatif. Walau begitu, tetap saja berharap akan dapat paket kebahagiaan di bulan itu.

Hari itu, 10 Januari 2017, baru dua hari terlambat menstruasi. Harapan semakin besar, karena dua bulan terakhir siklus menstruasi sangat teratur, sedangkan kali ini sudah terlambat walaupun hanya dua hari. Akhirnya, karena masih ada satu sisa test pack, pagi itu aku coba gunakan. Ternyata muncul dua garis, yang satu terlihat jelas (karena memang acuannya), yang satu lagi terlihat sangat samar. Seketika itu juga langsung gemetar. Antara ingin bahagia, tapi takut kecewa. Mungkin saja aku terlalu berharap sehingga hasilnya terlihat seperti itu. Untuk memastikan, aku langsung memanggil adikku untuk ikut melihat. Ternyata dia juga melihat memang ada dua garis. Kita berdua senang sekali, apalagi aku. Langsung saja aku foto dan kirimkan ke suami sambil bertanya "ini garis dua nggak, sih?". Suami langsung yakin bahwa aku positif hamil. Dia memang sudah yakin sejak berhari-hari yang lalu, bahkan walaupun test pack yang sebelumnya menunjukkan hasil negatif (mungkin saat itu hormon HCG belum cukup banyak untuk terdeteksi).

Garisnya masih samar banget

Untuk semakin memastikan, aku membeli tiga test pack lagi dengan merk yang berbeda-beda namun hasilnya selalu positif dan semakin hari semakin jelas garisnya. Akhirnya akhir minggu itu kami pergi ke dokter kandungan. Disana langsung dicek dengan USG Transvaginal. Ternyata memang sudah terbentuk kantung janin walaupun embrio belum terlihat. Dokterpun mengucapkan selamat dan memberi resep vitamin (Folamil Genio) serta beberapa anjuran. Saat itu usia kehamilanku (UK) memasuki 5 minggu.


Tiga minggu kemudian (UK 8 minggu), kami kembali kontrol sesuai dengan instruksi dokter. Lagi-lagi dilakukan USG Transvaginal. Saat itu, embrio sudah terlihat walaupun masih sangat kecil.


UK 12 minggu, saat dilihat dengan USG Transvaginal, janin terlihat bergerak-gerak lincah. Tetapi ukurannya masih lebih kecil dari yang diperkirakan. Dokter menyarankan untuk makan lebih banyak. Memang di minggu minggu itu asupan makananku berkurang karena mual & muntah. Berat badan yang tadinya sudah mulai naik pada awal kehamilanpun turun lagi.


Pada kehamilan trimester pertama, rasa mual mulai datang. Tiba-tiba saat mengambil porsi nasi seperti biasanya jadi tidak habis karena mual. Bahkan makan makanan yang disukai dan aku yakin bakal habispun jadi tidak habis. Minum susu dan air putihpun langsung mual. Bukan hanya dipagi hari (morning sickness) namun sepanjang hari. Rasanya seperti sudah bersahabat dengan toilet karena sering bolak-balik muntah.

Sejak kehamilan ini, ada beberapa kebiasaan juga yang berubah. Salah satunya, jadi naik taksi untuk pulang pergi kampus. Bukan bermaksud manja ataupun sok royal, tapi karena ini kehamilan pertama dan kondisi setiap orang berbeda-beda, aku dan suami tidak ingin mengambil resiko karena aku mudah kelelahan. Mungkin ada yang bilang "dulu pas saya hamil gak kenapa kenapa tuh tetep gini.. tetep gitu.. blablabla". Ya, balik lagi, kondisi tiap orang berbeda :)

Sudah naik mobilpun, bukan berarti semua berjalan mulus-mulus aja. Setiap pergi ke kampus, di tas harus sedia permen dan kresek. Pernah suatu hari muntah di taksi, untungnya memang sudah sedia kresek. Sering juga sesampainya di kampus langsung tepar di sofa lobby karena mual-mual. Selain tantangan pergi ke kampus, tantangan selanjutnya adalah kuliah. Perkuliahan saat itu berada di lantai 4, tidak ada lift. Padahal seseorang yang hamil tidak dianjurkan naik turun tangga. Memang sih, saat naik turun tangga tidak terasa lelah saat itu. Apalagi perut juga belum membesar. Tapi kalau aku, tubuhku akan memberi tahu saat aku kelelahan dengan pertanda yaitu pusing. Untuk mengakalinya, harus datang lebih pagi supaya bisa naik tangga pelan-pelan dan istirahat di setiap lantai. Awalnya, semua baik-baik saja. Tapi semenjak toilet di atas rusak (sedangkan pada masa itu aku semakin sering buang air kecil), akhirnya setiap ke toilet harus turun ke lantai 1, lalu naik lagi ke lantai 4. Akibatnya, jadi sering pusing-pusing dan sering tidak masuk. Kalau sudah pusing, cuma bisa bedrest di rumah sambil oles oles minyak kayu putih & minyak aromatherapy. Padahal sebelum hamil, aku tipe orang yang setiap pusing sedikit langsung minum obat. Tapi semenjak hamil ini, berusaha lepas dari pengaruh obat.




Kebiasaan lain yang juga berubah, adalah berkurangnya jadwal mengajar. Alhamdulillah ada Saras & Ica yang bantu menggantikan. Aku sadar akan kondisi tubuhku yang memang harus mengurangi aktivitas.

Selain itu, pada trimester pertama ini jadi mudah sekali masuk angin. Tidak bisa bertahan di tempat yang ber-AC. Sampai-sampai AC di kamar disetel dengan suhu 27℃. Suami sampai kepanasan. Kemudian setiap di kelas, selalu mencari tempat yang paling tidak terkena AC. Itupun harus memakai jaket tebal dan pakaian berlapis.

Walaupun pada trimester ini sering mual dan pusing, tapi rasanya tetap lega dan bahagia. Karena rasa mual itu merupakan pertanda bahwa janin dalam kandunganku terus berkembang. Periode ini memang periode yang rawan, sehingga aku sering khawatir. Semakin aku mual, semakin aku lega, badan ini memberi pertanda bahwa kandunganku masih baik-baik saja. Lagipula, kalau dibandingkan dengan yang lain, banyak cerita kehamilan yang lebih menantang. Ceritaku tidak ada apa-apanya mungkin. Memang setiap wanita pasti punya cerita kehamilan yang berbeda-beda. Aku bersyukur dengan semua yang aku alami.

Alhamdulillah suami juga sangat mendampingi selama trimester pertama ini. Perannya sangat besar terhadap kehamilanku. Ia selalu mengusahakan supaya aku makan. Selalu bertanya ingin makan apa untuk mengurangi mual supaya aku bisa makan. Selalu menawari makanan kesukaanku. Dibawakannya makanan itu sampai ke kamar. Ia juga mengusahakan aku minum susu. Dibuatkannya susu dan dibawakan ke kamar. Ketika aku muntah, ditemaninya di kamar mandi sambil memijat-mijat. "Nggak apa apa muntah, yang penting tetep makan yah.. sebentar lagi makan lagi, kamu mau apa?". Selain itu, suami juga berinisiatif membantu meringankan beberapa pekerjaan rumah tangga yang terkadang aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia bisa :') Disamping adanya janin dalam kandunganku, perhatian suami semakin membuatku bahagia di kehamilan trimester pertama ini. Membuatku merasa bahwa we're all in this together dan gak pernah merasa sendiri. Thanks hubby ♡

Terakhir, untuk kamu yang ada di dalam rahimku, semoga kita berdua sama-sama sehat & kuat ya nak ♡

(To be continued)

Thursday, March 30, 2017

Setelah Menikah

Halo! Di postingan sebelumnya aku cerita tentang kehidupan setelah sarjana sampai menikah. Nah, berikut ini lanjutan kisahnya, kehidupan setelah menikah.

Setelah menikah, pastinya banyak yang berubah dari keseharianku walaupun tidak drastis. Mungkin karena aku dan suami memutuskan untuk masih tinggal bersama orangtua. Kenapa masih tinggal bersama orangtua? Kenapa bukan aku yang ikut suami, tapi malah suami yang ikut aku? Tentunya ada beberapa pertimbangan. Pertama, karena aku bekerja di rumah orangtua (sudah diceritakan sebelumnya) dan suami sangat mendukung pekerjaan itu. Kedua, karena aku melanjutkan kuliah dan dengan tinggal di sini kami rasa strategis untuk ke kampus. Lalu bagaimana dengan suamiku yang harus menempuh 60km untuk bekerja? Dengan tinggal sementara di sini, karena lokasinya strategis, jadi akses untuk ke kantornya mudah walaupun jaraknya jauh. Waktu tempuhnya pun masih realistis. Pertimbangan ketiga, karena kita tergolong memulai rumah tangga di usia yang terbilang cukup muda, jadi yang namanya "mulai dari nol" itu ya benar terjadi. Belum punya rumah sendiri. Tadinya sempat terpikir untuk hidup mandiri, kontrak. Sepertinya asik, bisa belajar ngurus rumah, masak-masak, dan dunia milik berdua. Namun, dari saran orang-orang yang telah berpengalaman dan dari orangtua kami, akhirnya kami menanggalkan keinginan itu dulu.

Banyak yang bilang tinggal bersama orangtua itu banyakan tidak enaknya. Tapi kami akhirnya tetap mencoba. Aku tidak pernah memaksa suami, jika suami tidak betah, maka akupun siap untuk pindah sewaktu-waktu. Namun ternyata, kami nyaman tinggal bersama orangtua untuk sementara waktu (pastinya tetap ada keinginan untuk punya rumah sendiri nantinya). Di sini, kami mendapatkan banyak privasi. Lebih seperti tetangga daripada serumah. Apalagi suasana rumah cukup sepi.

Walaupun tinggal di tempat yang sama seperti sebelum menikah, ternyata tetap ada perubahan-perubahan. Pagi-pagi ada kewajiban menyiapkan bekal dan pakaian untuk suami. Tapi tidak pernah repot, karena suami ini pemilih kalau soal makanan pagi, dan makanan yang dia suka sangat tidak merepotkan. Malam-malam makan berdua, nonton tv berdua, atau sekedar tidur-tiduran sambil ngobrol. Tidur pun jadi selalu ada temannya. Sejak menikah sampai sekarang, belum pernah sekalipun tidak tidur bersama suami. Mungkin kalau suami ada tugas ke luar kota nanti aku bakalan mellow banget kali ya, soalnya udah terbiasa bersama. Kalau weekend, kadang jadi lomba tidur untuk kita. Siapa yang bangun paling siang hahaha. Tapi kalau lagi produktif, kita jalan pagi dan jajan-jajan. Siangnya pergi, entah itu belanja, cari hiburan, ke rumah mertua, arisan, kondangan, dll. Sekarang weekend ku selalu banyak acara. Udah nggak pernah lagi bosan-bosan tiap weekend. Kadang kalau lagi pingin, ya di rumah aja seharian nonton film, santai-santai, main game, delivery makanan, pokoknya home date hehe.

Oh ya, yang berubah lagi semenjak menikah adalah kesibukan tambahanku yang memutuskan untuk kuliah lagi. Setiap Senin sampai Rabu, aku rutin ke Rawamangun untuk kuliah. Asiknya, bisa bertemu banyak teman baru dan merasakan pengalaman belajar baru. Walaupun tugasnya banyak banget. Tugas tugas itu tidak bisa dikerjakan sore dan malam hari, karena itu waktunya bekerja. Juga tidak bisa dikerjakan saat weekend, karena banyaknya kesibukan weekend dengan suami. Karenanya, harus curi-curi waktu. Inilah yang membedakan kuliah sesudah menikah dan sebelum menikah dulu. Tiga bulan pertama menikah, rutin sakit setiap bulan. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Karena mungkin badan ini belum terbiasa dengan kesibukan seperti itu. Suami sempat bertanya "kuliahnya capek ya? Apa mau berhenti aja?" tapi aku tetap mau lanjut. Akhirnya, beberapa aktivitas mulai dikurangi. Aku tidak lagi fokus berjualan online, karena butuh waktu juga untuk bungkus-bungkus dan kirim. Selain itu juga mengurangi jam bekerja dan digantikan oranglain. Alhamdulillah, akhirnya bisa sehat lagi. Dan Alhamdulillah dapat titipan dari Allah SWT di dalam rahimku.

Itu hanya dari segi rutinitas. Banyak yang bertanya "gimana nikah? Enak nggak?". Kalau yang aku rasakan, enak banget. Tadinya banyak ragu, karena kalau nikah kok kesannya bakal jadi terkekang, ansos dari pertemanan karena jarang bisa kumpul, belum lagi cerita tentang suami yang suka nuntut ini itu dan cerita tentang mertua galak. Juga ada yang bilang "5 tahun pertama itu cobaan banget loh dalam pernikahan. Soalnya kan kita baru tau buruk2nya pasangan". Tapi yang aku rasakan nggak seperti itu. Aku dibebaskan mengaktualisasi diri, selama itu hal yang positif. Aku tetap bisa kumpul bersama teman-teman. Suami tidak menuntut ini itu, malah banyak membantu. Mertua super baik, gak bawel, bikin betah dan jadi sering main ke rumah mertua. Kalau weekend selalu ada yang menemani, kalau mimpi buruk selalu ada yang menenangkan, kalau galau dan lelah di malam hari selalu ada yang peluk, kalau memulai hari ada yang semangatin dengan pelukan dan kecupan, bisa bebas jalan-jalan ke luar kota, bertualang berdua, dll. Kalau soal baru tau tentang buruk-buruknya pasangan, kayaknya nggak juga. Aaaa pokoknya sangat-sangat bersyukur.

Tapi selain itu, yang namanya dua pribadi yang disatukan, pasti ada perbedaan-perbedaan. Jadi harus belajar untuk menerima perbedaan, belajar sabar, belajar untuk tidak egois. Contohnya kalau di aku, harus nego masalah AC karena yang satu mau adem, yang satu lagi gampang masuk angin. Tentang finansial juga, yang satu suka ngitung-ngitung, yang satu lagi tidak sedetail itu. Yang satu males makan, satunya lagi gak bisa berhenti ngunyah. Yang satu apal jalan, yang satunya bedain kanan kiri aja susah. Yang satu selalu inget naruh barang dimana, satunya lagi pelupa. Dan banyak lagi :D

Tapi kesimpulannya: aku bersyukur tidak menunda menikah ketika ada kesempatan. Dan ternyata semua ragu yang pernah muncul karena cerita-cerita orang, sekarang hilang tak berbekas.